
Intan merasa lega karena usahanya membujuk dokter berhasil. Dia di ijinkan pulang saat itu juga.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa pulang sekarang juga. Aku lebih nyaman bedress di rumah dari pada di rumah sakit.
Tak berapa lama, datanglah salah seorang perawat untuk melepas infus yang menempel di pergelangan tangan kiri Intan.
Berbeda situasi di rumah Reno, saat ini dia sedang menunggu Saras yang tak pulang juga.
"Kemana sih Saras, kok lama sekali nggak pulang-pulang?" Reno mondar mandir di pelataran rumahnya.
Tak berapa lama, pulanglah Saras dengan wajah murung. Dia lekas memarkirkan mobilnya di garasi.
Belum juga Saras sampai di depan rumah, Reno telah menghardiknya.
"Kamu dari mana saja sih, kok lama sekali nggak pulang-pulang?" Reno berkacak pinggang seraya melotot pada Saras.
"Aku habis ke dokter mata, apa mas nggak lihat? matamu merah seperti ini? dokter antri banyak pasien jadi lama pulangnya." Saras melangkah masuk dalam rumah.
Dia menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu, begitu pula Reno juga melakukan hal yang sama. Duduk di sebelah Saras.
"Mas, mataku merah seperti ini karena ulah mantan istrimu!" Saras mengerucutkan bibirnya seraya berkali-kali melihat matanya di dalam cermin.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, apa kamu diam-diam ke rumah sakit menemui Intan?" Reno berpura-pura bertanya.
"Iya, aku memang sengaja datang ke rumah sakit menemui Intan tanpa sepengetahuanmu. Karena aku ingin memberi peringatan padanya untuk tidak mengganggumu!" jawab Saras ketus.
"Siapa yang mengganggu siapa? dia sama sekali nggak pernah menggangguku, justru aku yang mendekatinya," Reno menjernihkan masalah.
"Aku nggak peduli, mas. Entah itu kamu yang mendekati dia, aku akan tetap mengejar dia untuk memberinya peringatan! jika kamu masih terus mendekatinya, aku juga nggak akan segan-segan menyakitinya!" ancam Saras ketus.
"Apa yang kamu lakukan salah, jika ingin menyakiti seharusnya kamu sakiti aku bukan Intan! bahkan kamu sudah keterlaluan aka menyakiti janinnya." Reno mendengus kesal.
"Dari mana kamu tahu, aku melakukan hal itu! jangan katakan kalau kamu telah datag ke rumah sakit!" bentak Saras ketus.
__ADS_1
"Aku memang datang ke rumah sakit, karena Saras yang memintaku. Kamu keluyuran terus hingga tak tahu cucu di opname di rumah sakit," Reno berkata dengan lantangnya.
"Apa, Rizky opname? memangnya sakit apa?" Saras merasa tidak percaya dengan yang di ucapkan oleh Reno.
"Sakit demam dan kejang-kejang." Jawab Reno singkat.
"Kenapa kamu atau Laras nggak memberitahuku tentang hal ini, apa kamu sengaja supaya bisa sesekali mampir jenguk Intan?" Saras menatap sinis pada Reno.
"Ponselmu di hubungi nggak aktif. Jangan selalu menyalahkan orang, koreksi dirimu sendiri!" bentak Reno.
"Oh iya, maaf. Ponselku malah daya batre habis dan power bank lupa nggak di bawa," ucap Saras memyembunyikan rasa malunya.
"Kamu apakan Intan!" tiba-tiba Reno berkata lantang.
"Memang Intan mengadu apa sama kamu, mas?" Saras malah balik bertanya.
"Jawab, kenapa malah balik bertanya?" tiba-tiba Reno mencengkeram lengan Saras , membuat Saras merintih kesakitan.
"Auw, kenapa kamu selalu menyakitiku hanya karena mantan istrimu!" hardik Saras dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak ada asap tanpa api! pasti kamu dulu yang memulainya, karena aku hafal dengan sifat Intan. Dia tidak akan kasar jika tidak di perlakukan kasar, atau untuk membela diri." Reno menatap tajam Saras seraya mendengus kesal.
"Mas, tolong lepaskan! sakit sekali," rengek Saras membujuk Reno untuk melepaskan cekalan tangannya.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu jawab jujur pertanyaanku!" bentak Reno seraya mengguncang cekalan tangannya pada Saras.
"Iya, aku mencengkeram perutnya," jawab Saras memejamkan mata ketakutan.
"Apa, kamu ingin menyakiti janin yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa! harusnya kamu malu, yang dosa itu kita yang telah menyakiti Intan."
"Apa kamu nggak sadar juga, kamu telah merebutku darinya. Bukan hanya itu, kita juga telah mengambil paksa Laras saat dia baru di lahirkan!"
"Apa kamu masih belum cukup merebut segala kebahagiaan Intan, sehingga kamu ingin menyakiti janinnya!"
__ADS_1
Panjang lebar Reno mengingatkan segala kesalahan mereka di masa lalu pada Intan. Namun Saras sama sekali tidak merasa sadar atau menyesali perbuatannya, dia tetap biasa saja.
Selagi asik berdebat, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu ruang tamu. Karena kebetulan pintu gerbsng belum sempat di tutup dan pintu ruang tamu juga terbuka lebar. Sehingga gampang saja jika ada orang yang masuk.
Reno terpaksa melepaskan cekalan tanganya, dan bangkit dari duduknya untik melihat siapa yang datang.
"Maaf, Pak Reno. Saya ingin bertemu Bu Saras," sapa si tamu
"Masuklah, itu dia lagi duduk." Reno mempersilahkan wanita itu masuk.
Wanita tersebut duduk di samping Saras, sedang Reno melangkah ke depan namun dia duduk di teras depan rumah. Karena dia merasa ada gelagat aneh pada wanita paruh baya yang bertamu itu.
Kebetulan kaca ruang tamu gelap, sehingga tidak jelas jika melihat ke luar ruangan, sehingga Saras tidak tahu jika saat ini Reno sedang duduk di teras depan rumah.
"Bu Tuti, untuk apa kemari?" tanya Saras penasaran.
"Saya butuh uang lagi, bu." Jawabnya singkat.
"Bu Tuti, ingin memeras saya?" Saras berkata lantang.
"Saya nggak memeras, ibu. Apa yang saya lakukan resikonya besar, jika waktu itu saya ketahuan, pasti saya di laporkan ke polisi. Bu Saras, juga akan terbawa. Tapi untung waktu itu saya bermain cantik, sehingga lancar."
"Dan sampai sekarang, restoran yang ternama milik mantan istri suami, ibu. Sudah tutup beberapa hari, sejak saya buat ulah jika makanannya ada kecoanya."
"Bu Saras, jerih payah dan usaha saya. Tak sebanding dengan uang yang selama ini saya minta ke ibu. Saya meminta juga karena butuh."
Demikian panjang lebar, Bu Tuti berkata demi untuk mendapatkan uang dari Saras.
"Bu Tuti, saat ini saya sedang tak punya uang banyak. Karena baru saja saya gunakan untuk mengobati mata saya," Saras mencoba mencari alasan.
"Tidak banyak, Bu Saras. Cuma lima juta saja," Bu Tuti dengan entengnya menyebut nominal uang yang dia inginkan.
"Lima juta, yang benar saja? maaf, saya nggak ada uang sebanyak itu. Jika mau satu juta rupiah," Saras menahan geram dengan permintaan uang dari Bu Tuti.
__ADS_1
"Baiklah, Bu Saras. Jika tidak mau memberikan uangnya, saya bisa menceritakan hal ini pada suami, ibu." Bu Tuti bangkit dari duduknya dan akan melangkah keluar mencari keberadaan Reno.
"Tak perlu bercerita, aku sudah mendengar semuanya apa yang telah kalian perbuat pada mantan istri saya!" Reno tiba-tiba datang dari teras depan berdiri tepat di tengah pintu.