
Laras masih saja penasaran dengan kondisi Intan. Apa Lagi melihat wajah Reno yang terlihat murung, membuat Laras semakin berpikiran macam-macam tentang kondisi Intan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada, ibu. Kenapa wajah papi terlihat murung? bagaimana aku bisa bertanya pada, papi? sedangkan saat ini dia ada di kantor. Aku mau menelponnya tapi khawatir mengganggu kerjanya," batin Laras terus saja bertanya-tanya.
Reno yang ada di kantor pun tak tenang memikirkan tentang pernikahan Intan. Hingga akhirnya saat makan siang, Reno memutuskan untuk pulang.
"Aku nggak fokus dalam bekerja, di pikiranku hanya ada Intan saja. Aku nggak konsentrasi, lebih baik aku pulang saja." Reno pun bersiap-siap pulang.
Dia menata semua berkas yang berserakan di meja dan menempatkannya di tempat semula. Segera keluar dari ruang kerjanya dan tak lupa mengunci ruangannya.
Sebelum dia melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran mobil, dia menemui asisten pribadinya untuk sementara waktu menghandle urusan kantornya. Dan jika ada hal yang penting, Reno meminta asisten pribadinya menghubunginya lewat telpon.
Saat berada di parkiran mobil, ingin rasanya dia pergi menyambangi Intan dan memohon padanya supaya mengurungkan niatnya untuk menikah lagi.
__ADS_1
"Ah, pikiran yang sangat konyol! Intan nggak akan mau jika aku meminta satu hal yang memang sangat konyol ini. Seharusnya aku tak berharap terus padanya, apa lagi perpisahan kami terjadi juga karena kebodohanku sendiri. Memilih wanita seperti Saras," gumamnya seraya mengemudi mobilnya menuju arah pulang.
Hanya sepuluh menit saja telah sampai di pelataran rumah. Kebetulan Laras keluar untuk sekedar membuang sampah, sehingga melihat kepulangan Reno.
"Wah papi, pulang. Kebetulan sekali," gerutunya seraya menghampiri Reno.
"Pi, tumben pulang cepat? bukannya ini baru jam satu siang?" Laras mencium punggung tangan Reno.
"Mana, Risky dan mami?" Reno bukannya menjawab pertanyaan dari Laras dia malah bertanya balik.
"Kebetulan sekali, dari kemarin papi ingin bercerita padamu, tetapi terhalang oleh adanya, Mami Saras." Reno merangkul putrinya membawanya melangkah dan duduk di teras halaman.
"Sama juga, pi. Dari kemarin, aku juga ingin bertanya banyak hal tentang, ibu. Tapi nggak berani karena ada, Mami Saras," tukas Laras.
__ADS_1
Kini mereka duduk di teras halaman. Reno mulai bercerita tentang Intan. Jika Intan sebentar lagi akan menikah dan Reno juga memberikan nomor ponsel Atin.
"Ibu, akan menikah lagi? syukur alhamdulillah ya Allah. Pasti dengan Om Keano yang mirip aktor korea itu ya, pi?" tukas Laras sumringah.
"Kok syukur alhamdulilah?" Reno mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Laras.
"Loh, memangnya papi nggak suka jika Ibu Intan menikah lagi? apa papi mengharapkan kembali pada, ibu?," serentetan pertanyaan keluar dari bibir Laras.
"Iya, sudah sejak lama papi berharap bisa kembali pada ibumu," jawab Reno singkat.
"Lalu bagaimana dengan, Mami Saras? jika papi kembali lagi pada, ibu?" Laras mengernyitkan alis.
"Papi sudah lama menahan rasa ingin berpisah dari, Mami Saras. Dia mempunyai perangai buruk, berbeda dengan ibumu yang berperangai lemah lembut. Papi menyesal dulu meninggalkan ibumu hanya demi, Mami Saras," Reno tertunduk lesu.
__ADS_1
"Untuk apa menyesali sesuatu yang telah terjadi, itu sudah resiko papi yang lebih memilih pada, Mami Saras. Seharusnya jangan hanya baiknya saja yang papi terima, tapi juga kekurangnya," Laras menasehati Reno.