
Sementara di rumah tangga Monalisa dan Tara, kembali lagi terjadi pro dan kontra. Dimana, Tara tak bisa menerima jika dirinya tetap saja di posisi sebagai staf biasa. Dia berpikir, telah bekerja cukup baik dan sudah selayaknya mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.
"Sayang, kenapa sampai sekarang aku belum juga naik jabatan? lihatlah anak kita sudah akan berumur satu tahun. Beberapa hari lagi dia berulang tahun. Dari anak kita bayi sampai sudah sebesar ini, aku masih saja berada di bagian staf biasa," tukas Tara.
"Mas Tara, suamiku yang tercinta. Jangan setiap hari hanya ini saja yang kamu keluhkan. Jika, papah merasa kamu telah pantas untuk menduduki jabatan diatas staf biasa, pasti kamu akan di pindah."
"Lagi pula, aku kan sudah bekerja. Jadi kamu tak perlu risau untuk masalah keuangan."
Monalisa mencoba memberikan pengertian pada, Tara. Kini Monalisa telah bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit terbesar di kota tersebut.
"Masa kamu perawat, sedangkan aku hanya staf biasa. Aku malulah, kedudukan istri lebih tinggi dari pada suami. Mau di taruh dimana mukaku ini?" terus saja Tara mengeluh.
"Mas Tara, bisa nggak ya bersikaplah dewasa. Berapa kali kamu menikah tapi masih saja sifatmu tak berubah." Monalisa mulai terpancing emosi.
"Justru karena aku telah beberapa kali menikah, aku memikirkan ketiga anakku yang lain. Selama ini aku tak pernah menafkahi kedua anakku."
"Anak apa anak? bilang saja jika kamu ingin kembali lagi pada salah satu mantan istrimu kan?" Monalisa mulai tersulut api cemburu.
"Mona, aku tak ingin kita berantem. Bukannya hari ini kita akan mencari kue ulang tahun untuk, Marsya?" Tara sengaja mengalihkan pembicaraan.
Dia sudah paham dengan perangai, Monalisa. Jika sudah berantem dia takkan pernah mau mengalah, berbeda dengan ketiga mantan istrinya yang berperangai sabat dan lemah lembut.
"Mona beda sekali dengan ketiga mantan istriku. Jika kita sedang berdebat, walaupun aku yang salah pasti malah para mantan istri yang selalu meminta maaf dan mencoba meluluhkanku," batin Tara menyesal.
"Mas, kok bengong? lagi ingat mantan ya? ayuk kita ke toko kue yang lagi ngehits di kalangan para ibu. Aku dengar motif dan carakter kue ulang tahunnya lucu-lucu. Harganya pas di kantong, tapi rasanya juga nikmat." tukas Monalisa mengagetkan lamunannya.
Tara menuruti kemauan, Monalisa. Dia mengemudikan mobil. Monalisa yang mengusulkan membeli mobil dengan cara mengangsur tiap bulannya dari hasil kerja, Tara.
Saat sampai di toko kue, tak sengaja mereka berpapasan dengan, Tiara. Tara terperanga dan membola saat melihat, Tiara.
__ADS_1
"Busyet, kenapa sekarang mantan-mantanku malah berubah menjadi cantik?" gerutunya di dalam hati.
Sedangkan Tiara hanya menyunggingkan senyum sesaat tanpa mengatakan apa pun. Pandangan Tara terus mengikuti ke arah perginya, Tiara.
Hal ini membuat panas hati, Monalisa.
"Mas Tara, kenapa sih melihatnya kok gitu banget?" Monalisa memalingkan wajah Tara dengan paksa ke arahnya.
"Nggak apa-apa, aku hanya ingin menyapanya dan bertanya kabar tentang anakku, memangnya nggak boleh?"
"Hem, jelas nggak boleh lah!" Monalisa menarik paksa tangan, Tara untuk segera masuk ke toko kue tersebut.
Selagi asik melihat-lihat di dalam untun motif-motif kue ulang tahun anak, Tiara kembali lagi masuk ke toko.
Tara tersenyum lebar, dia mengira Tiara kembali karena akan menyapanya.
"Wah, Tiara balik lagi nech. Pasti dia akan menghampiriku dan bertanya kabarku serta bercerita tentang anak kita," batin Tara seraya tersenyum lebar.
"Iya, bu. Ini sengaja saya kantongi, tadi ibu jalan saja waktu saya panggil." Karyawan tersebut memberikan kontak mobilnya pada, Tiara.
"Terima kasih, mba. Maaf ya, saya nggak dengar karena terburu-buru ada pesanan kue banyak." Tiara menerima kontak mobilnya lantas berlalu pergi.
Baik Monalisa maupun Tara sempat mendengar pembicaraan antara Tiara dan karyawan tersebut.
"Yah, aku pikir akan menghampiriku ternyata dia mencari kontak mobilnya yang tertinggal," batin Tara merasa sangat kecewa karena tak sesuai dengan harapannya.
"Apakah toko ini memang milik, Tiara?" batin Monalisa.
"Ah, tak mungkin pula dia bisa memiliki toko kue seramai dan setenar ini. Dia kan wanita rumahan yang hanya bisa mengasuh ibunya yang waktu itu sakit?" batin Monalisa kembali.
__ADS_1
Namun semua terkuak saat, Tara bertanya pada salah satu karyawan.
"Mba, jika ingin bertemu dengan pemilik toko kue ini bagaimana caranya? kemungkinan saya akan memesan banyak untuk acara ulang tahun anak kami," tukas Tara.
"Sebenarnya pesan pada kami juga bisa, pak. Harga sama kok seperti yang, Bu Tiara tawarkan. Tidak ada perbedaan sama sekali. Tapi jika bapak dan ibu merasa penasaran dan ingin bertanya langsung pada, Bu Tiara. Ini kartu namanya." Salah satu karyawan memberikan sebuah kartu nama.
Dengan gerak cepat, Tara langsung menerima kartu nama tersebut.
"Jadi yang punya toko kue ini namanya, Bu Tiara?" Tara kembali lagi bertanya untuk memastikan.
"Iya, pak. Barusan itu loh, yang datang mengambil kontak mobil yang tertinggal."
"Hah, yang benar saja? masa Tiara bisa memiliki usaha sesukses ini?" batin Monalisa masih saja tak percaya.
Tara juga merasa tak percaya dengan ucapan salah satu karyawan tersebut hingga dia memberanikan diri bertanya kembali.
"Oh jadi tadi itu pemilik toko kue ini? maaf, kami sama sekali tidak tahu. Apakah ini toko kue baru ya? setahuku, dulu di sini kan ruko kosong?"
"Memang benar, pak. Ini salah satu cabang toko kue milik, Bu Tiara yang masih baru. Untuk toko kue yang lain sudah begitu lama di dirikan tapi letaknya jauh sekali dari sini," tukas karyawan tersebut tanpa ada rasa curiga.
Monalisa semakin tak percaya kalau, Tiara bisa memiliki usaha toko kue bukan hanya satu saja, melainkan ada beberapa cabang.
"Uh, jika aku tahu ini toko kue milik Tiara, aku takkan sudi kemari. Tapi aku malu jika tak jadi membelinya, sudah terlanjur masuk kemari," batin Monalisa menahan kesal.
Dia lantas memilih kue ulang tahun untuk kelak perayaan ulang tahun pertama anaknya dengan wajah bermuram durja.
"Jika kamu tak suka kita bisa mencari toko kue yang lainnya saja. Dari pada wajahmu di tekuk seperti itu, di lihat sangat tidak enak," tukas Tara lirih.
"Di kota ini, hanya toko kue ini yang sedang banyak diminati oleh semua orang. Mana mungkin aku akan membeli ke toko lain, yang kualitas kuenya sangat buruk," celetuk Monalisa singkat.
__ADS_1
Dia tetap memesan kue ulang tahun di toko kue milik Tiara.
******