
Tara lekas keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju ke mobilnya. Di dalam mobil, dia mencoba mengecek nomor ponsel yang di berikan oleh Intan dan nomor ponsel mertua lelakinya.
Matanya membola, matanya terperangah saat melihat kesamaan antara nomor ponsel milik mertuanya dan nomor ponsel mantan suami Intan.
"Astaghfiruloh alazdim, ternyata dugaanku benar. Ini nomor yang sama dan satu orang yang sama pula. Jika Papi Reno mantan suami Intan, apakan Laras ini anak dari Intan?" batin Tara penuh dengan tanda tanya.
"Berarti aku juga harus mengorek keterangan dari Laras juga, tentang hal ini. Tapi aku harus bisa berkata yang benar, supaya Laras tidak mencurigaiku." Tara melajukan mobilnya menuju ke rumah Laras.
Hanya beberapa menit saja, Tara telah sampai di rumah Laras. Dia berakting seolah menyesali perbuatannya barusan yang terlalu kasar pada Laras.
"Assalamu alaikum." Tara mengucap salam.
"Walaikum salam wr wb." Jawab Laras berlari kecil ke arah pintu.
__ADS_1
Tiba-tiba Tara bersimpuh di kaki Laras dan menggenggam kedua tangannya.
"Sayang, aku minta maaf. Atas sikapku tadi yang sangat kasar padamu, aku sampai tak tenang di tempat kerja memikirkan hal ini. Sudikah kiranya kamu memaafkan suamimu yang jahat ini?" Tara terus saja tertunduk.
"Mas, bangunlah. Nggak sepantasnya kamu bersikap seperti ini, aku sudah memaafkanmu. Sudah wajar di dalam rumah tangga ada perselisihan dan salah paham," Laras mencoba membangkitkan Tara yang sedang bersimpuh.
Tara lekas bangkit dan langsung saja memeluk Laras.
"Terima kasih, sayang. Kamu memang istri yang sangat baik dan solehah." Tara mengusap punggung Laras.
"Aku belum makan, sayang. Karena kepikiran akan salahku padamu, aku sampai lupa untuk menanyakan kabar Rizy," Tara menyunggingkan senyumnya.
"Ya sudah, yuk kita makan bersama. Kebetulan aku juga belum makan, kondisi Rizky sudah pulih, tapi saat ini sedang tidur." Laras melangksh ke ruang makan, berdampingan dengan Tara.
__ADS_1
Mereka makan bersama, dan Tara mulai menjalankan aksinya.
"Sayang, aku dari kemarin terlalu sibuk di kantor sehingga melupakanmu dan Rizky. Aku boleh tahu nggak, apa yang kamu curhatkan pada Bu Intan? siapa tahu aku bisa membantumu, mumpung aku sedang ada waktu untuk mendengarkan curhatanmu," Tara menyunggingkan senyum seraya sesekali menyantap makannya.
Tanpa ada rasa curiga, Laras menceritakan semua pada Tara. Tentang perkataan Reno dan perkataan Saras. Laras juga mengatakan jika saat ini dia sedang bingung, harus percaya pada Reno apa pada Saras.
"Hem, kebetulan sekali. Aku hasut saja sekalian supaya Laras membenci Saras si nenek sihir itu," batin Tara menyeringai licik.
"Boleh nggak, aku kasih saran atau masukan padamu?" Tara meminta persetujuan dari Laras.
"Boleh sekali, mas. Kalau kamu merespon curhatanku malah aku sangat senang sekali. Aku akan menurutimu tidak akan curhat lagi pada Bu Intan, jika kamu selalu ada waktu untuk mendengar curhatanku," Laras sangat sumringah.
"Begini, sayang. Kalau menurutku, kamu lebih baik percaya pada papimu. Karena tidak akan ada seorang ibu kandung yang tega meninggalkan anaknya, apa lagi anak yang baru di lahirkannya. Pastinya, sebelum dirimu lahir, ibumu sudah sangat ingin menimangmu. Jadi mana mungkin dia meninggalkanmu begitu saja." Tara mulai menghasut Laras.
__ADS_1
*******