
Saras segera pergi ke dokter spesialis mata karena matanya memerah. Dia melajukan mobilnya dengan sangat pelan karena kondisi matanya yang tak sehat.
Sementara saat ini Tara telah berada di ruang rawat Intan, dia sangat khawatir pada kondisi Intan.
"Sayang, bagaimana kondisimu? apa kamu baik-baik saja?" Tara mengusap surai hitam Intan.
"Alhamdulillah saat ini aku baik-baik saja, tapi tadi aku nyaris kehilangan janinku oleh istri mantan suamiku. Aku juga heran, kenapa dia begitu kejam padaku. Padahal aku selalu mengalah, saat suami dan anakku di rebut olehnya. Tapi dia ingin membuat janinku tak bernyawa." Intan berurai air mata saat berkata.
"Ssstt, sudahlah sayang. Jangan menangis lagi, karena semua sudah berlalu kan? Yang terpenting saat ini anak kita baik-baik saja." Tara menghibur Intan kembali.
"Tapi terakhir dia berkata akan kembali lagi, karena hari ini usahanya telah gagal. Aku yakin, dia tidak main-main dengan ucapannya. Karena aku tahu betul siapa dia." Intan menghela napas panjang.
"Sudahlah, sayang. Nggak perlu kamu khawatir, kita bisa menyewa orang untuk menjagamu selama masih di rawat disini. Bebaskan pikiranmu, jangan terus gelisah dan panik. Ingatlah anak kita ini." Tara mengusap perut Intan yang masih rata.
"Nak, yang suamimu ucapkan memang benar adanya. Jangan di pikirkan lagi, hal buruk yang tadi kamu alami. Semua kan telah berlalu." Bu Mita ikut menasehati.
"Iya, ibu. Aku akan mencoba melupakan kejadian tadi. Aku akan mencoba menenangkan hati dan pikiranku." Intan mencoba tersenyum seraya menghela napas panjang.
"Bagaimana penyidikanmu? apa berhasil?" tanya Intan pada Tara.
Belum juga Tara menjawab, tiba-tiba Bu Mita menyela.
"Penyelidikan apa, Tara?" tanya Bu Mita penasaran.
Akhirnya Tara dan Intan secara bergantian menceritakan perihal yang terjadi pada salah satu restoran Intan pada Bu Mita.
"Nak, apa itu bukan perbuatan istri mantan suamimu?" Ucap Bu Mita mengira-ngira.
"Entahlah, bu. Karena di saat aku akan menyelidiki hal ini, malah kondisiku seperti ini." Intan menghela napas panjang.
"Sudahlah, sayang. Sekarang kamu fokus dulu dengan kesembuhanmu supaya kamu lekas pulang." Tara kembali lagi mengibur hati Intan.
Intan hanya diam saja, dia melamunkan semua yang akhir-akhir ini terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Sejak aku tahu suamiku punya istri tua, banyak sekali kejadian buruk menimpaku. Dari restoranku kena fitnah orang, aku drop seperti ini, dan Saras akan mencelakai janinku. Apa setiap kejadian ini ada sangkut pautnya, ada hubungannya satu sama lain?" batin Intan terus saja gelisah.
"Ya Allah, aku sudah mencoba melupakan semua hal buruk yang telah terjadi dalam hidupku demi janinku, namun aku sama sekali tak bisa melupakannya." Batin Intan kembali.
Sementara saat ini, Laras sedang gelisah karena tiba-tiba Rizky badannya demam. Bahkan sempat kejang-kejang.
"Bagaimana ini, kenapa pula nomor ponsel Mas Tara nggak aktif di saat genting seperti ini?" Laras terus saja memencet nomor ponsel Tara.
Karena tak jua aktif nomor ponsel Tara, akhirnya Laras memutuskan untuk memesan taxi on line. Segera Laras membawa Rizky ke rumah sakit terdekat, yang ternyata rumah sakit itu adalah rumah sakit dimana saat ini Intan di rawat.
Saat Laras bersama perawat mendorong brankar dimana Rizky berbaring. Dia tak sengaja melihat Tara di ruang rawat Intan, namun wajah Intan terhalang oleh Bu Mita yang duduk tepat di samping kepala Intan, sedang Tara duduk di pinggir ranjang di kaki Intan.
"Loh, bukankah itu Mas Tara? siapakah yang sedang di rawat itu?" Hati Laras penasaran, tapi nggak mungkin dia meninggalkan Rizky sendiri dan menghampiri Tara hanya sekedar ingin tahu.
"Aduh, kalau saat ini Rizky di temani papi atau mami. Pasti aku bisa menghampiri Mas Tara." Batinnya lagi seraya mendorong brankarnya.
Hati Laras terus saja menggerutu karena rasa penasarannya. Setelah beberapa menit, sampailah di ruang pemeriksaan.
Rizky segera di periksa dan dokter menyarankan supaya Rizky di rawat inap selama satu hari untuk menstabilkan kondisinya. Supaya turun panasnya benar-benar reda dan antisipasi supaya tidak mengalami kejang kembali.
"Aku lapar sekali, ingin keluar sebentar mencari makan tapi nggak ada yang menjaga Rizky." Laras mondar mandir di balik pintu, dari keluar masuk lagi dan begitu terus.
Karena ingin keluar ke kantin, tapi mengurungkan niatnya karena tak ada yang menjaga Rizky hingga Laras masuk kembali ke ruang rawat Rizky.
Saat sedang mondar mandir bingung, melintaslah Bu Mita. Dia merasa heran dengan tingkah Laras yang seperti orang bingung di depan pintu masuk ruang rawat Rizky. Bu Mita menghampiri Laras.
"Nak, sepertinya kamu sedang gelisah dan panik? ada apa?" tanya Bu Mita penasaran.
"I-iya, bu.Anu hhee.." Laras ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja, nak. Siapa tahu aku bisa bantu kamu." Bu Mita mengusap lengan Laras.
"Begini, bu. Di dalam ada anakku sedang di rawat, tapi aku lapar sekali ingin mencari makan ke kantin. Tapi saat ini anakku tidak ada yang menjaganya, sementara suamiku di hubungi susah sekali." Laras tertunduk malu.
__ADS_1
"Astaghfirulloh alazdim, sekarang kamu pergilah ke kantin dan makanlah yang kenyang. Biar ibu yang menjaga anakmu, kamu nggak perlu khawatir percayalah padaku." Bu Mita menatap sendu pada Laras.
"Serius, bu?" Laras serasa tak percaya.
"Pergilah, selagi anakmu masih tertidur." Bu Mita menyuruh Laras segera ke kantin.
"Baiklah, bu. Terima kasih sebelumnya." Laras tersenyum malu seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Laras berlari kecil menuju ke kantin rumah sakit untuk segera mengisi perutnya yang lapar.
"Alhamdulillah, ada orang baik yang menolongku menjaga Rizky sehingga aku bisa mengisi perutku yang lapar." Laras tersenyum seraya menyantap makanan yang telah di pesannya.
Laras sengaja tak berlama-lama, karena merasa nggak enak hati menitipkan Rizky pada orang yang baru saja di kenalnya.
Tak lupa Laras memesan makanan untuk Bu Mita dan untuk dirinya sendiri selama menjaga Rizky.
"Aku harus membeli stok makan dan minum, karena aku nggak mungkin sesekali keluar meninggalkan Rizky sendirian." Batinnya.
Laras berinisiatif membeli cemilan dan kue-kue yang mengenyangkan serta beberapa minuman botol dan minuman kaleng. Setelah semua terbeli, Laras segera kembali ke ruang rawat Rizky.
"Bu, maaf. Terlalu lama menunggu ya?" Laras merasa tidak enak hati.
"Nggak kok, nak. Lagi pula anakmu tidurnya nyenyak sekali." Bu Mita menyunggingkan senyum.
"Bu, ini ada sedikit kue." Laras memberikan sedikit kue dan minuman botol pada Bu Mita.
Namun Bu Mita enggan menerimanya, dengan alasan sudah kenyang dan akan pulang ke rumah.
"Nggak usah, nak. Ibu sudah kenyang, sebaiknya untukmu saja. Karena ibu juga akan pulang kerumah." Tolah Bu Mita secara halus.
"Ibu pamit ya, nak. Lain waktu pasti kemari lagi." Kata Bu Mita.
Belum juga Laras menjawab dan menyalami Bu Mita, Rizky telah terbangun dan menangis.
__ADS_1
*******