
Sementara Tiara yang sedang dalam perjalanan ke toko kue yang ada di desanya, melamun sendiri.
"Seharusnya aku tak mengembangkan usaha toko kueku di kota dimana ada kenangan buruk tentangnya."
"Sehingga hal yang tak di inginkan terjadi, aku harus bertemu dengan pria yang telah menorehkan luka di hatiku."
"Seharusnya aku membuka cabang di kota lain saja. Jangan di kota ini, menyebalkan! aku sama sekali tak berpikir panjang saat akan membuka cabang baru toko kueku."
"Apakah sebaiknya aku tutup saja tokonya dan di pindah ke kota lain? tapi sayang juga karena toko ini sudah sangat terkenal dan sudah banyak pelanggannya."
"Padahal toko ini baru beberapa bulan aku buka, tapi telah meraup keuntungan yang sangat fantastis."
"Jauh sekali jika di bandingkan dengan toko kue aku yang ada di kota tempat tinggalku. Berdiri sudah cukup lama tapi tak seramai di sini."
Terus saja Tiara menggerutu sendiri merasa gelisah sejak bertemu dengan Tara. Pertemuan yang singkat mampu membuat, Tiara menjadi gelisah dan mengingat kembali luka lama yang Tara torehkan.
Hal yang sama juga di rasakan, Tara. Dia pun merasa gelisah sejak bertemu dengan Tiara. Selagu mengemudikan mobilnya, dia terus saja melamunkan, Tiara. Sampai kadang tanpa sadar, dia tersenyum sendiri.
"Mas Tara, kamu pasti sedang memikirkan Tiara, iya kan?"
"Kok kamu tahu sih, pintar amat otakmu bisa menebaknya," tukas Tara singkat.
Perkataan Tara membuat jantung Monalisa mendidih dan hatinya terbakar api cemburu.
"Mas, kenapa kamu masih memikirkan mantanmu? seharusnya yang kamu pikirkan itu aku dan Marsya!"
"Bagaimana pun, dia itu ibu dari anaku Dita. Dan bagaimana pun, dia pernah ada di hatiku jadi takkan mungkin aku bisa melupakannya begiyu saja."
"Pasti ada saja kenangan indah bersama mantan. Seperti halnya dirimu, pasti juga pernah merasakan hal yang sama yang saat ini aku rasakan."
"Pasti kamu juga pernah kan sesekali ingat pada mantan pacarmu?"
Mendengar penuturan, Tara hati Monalisa bertambah geram.
"Iya, aku akui sering ingat masa-masa bersama mantan pacar. Tapi mantan pacarku cuma kamu doank!" Monalisa mengercutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ah masa, wanita sepertimu tak mungkin memiliki mantan pacar selain aku. Pasti mantan pacarmu banyak. Nggak usah berbohong, jujur saja toh aku nggak akan marah kok," canda Tara tersenyum sinis.
"Mas Tara, kenapa sih kamu suka sekali membuatku marah dan kesal?"
"Loh, kok kamu malah marah? inilah sifat darimu yang paling aku benci! kamu sangat berbeda dengan ketiga mantanku! kalian bagai langit dan bumi. Ketiga mantan istriku tak pernah kasar dan tak pemarah sepertimu ini," cemooh Tara ketus.
Monalisa semakin ingin meluapkan emosinya, tapi dia berusaha menahannya karena tak ingin di banding-bandingkan kembali. Hingga dia memutuskan untuk diam saja menahan rasa amarah yang sudah mencapai di ubun-ubun.
Tak berapa lama, sampailah di rumah. Monalisa langsung keluar dari mobilnya seraya membanting pintunya membuat Tara terhenyak kaget.
Tanpa memperdulikan Tara, dia masuk ke dalam rumah. Sementara Tara hanya mengusap dada seraya menggelengkan kepala melihat tingkah Monalisa.
"Kebetulan, Mona lagi ada di dalam. Aku akan menelpon, Tiara. Tapi aku harus mencari tempat yang nyaman dulu jangan sampai, Mona merusak suasana." Tara keluar dari mobil dan meraih motor yang ada tak jauh dari mobil tersebut.
Kebetulan kontak motor ada padanya sehingga dia bisa langsung melajukannya menuju ke taman.
"Nah di sini aman untuk aku bisa menelpon, Tiara." Tara duduk di salah satu bangku di taman yang terbuat dari semen.
Dia lekas meraih kartu nama dan ponselnya. Memencet nomor ponsel yang ada di dalam kartu nama tersebut. Tiara yang sedang dalam perjalanan ke kotanya, memutuskan berhenti sejenak untuk mengangkat ponsel yang tengah berdering.
"Nomor siapa ini?"
π±"Walaikum sayang, ini aku mantan suamimu."
"Deg " sejenak Tiara terhenyak kaget. Orang yang paling di benci malah kini menghubunginya.
π±"Darimana kamu dapat nomor ponselku?"
π±"Dari salah satu karyawan toko kuemu. Hebat ya, ternyata kamu bisa sukses juga walaupun tanpa aku. Sempat aku berpikir, tanpaku kamu tidak bisa apa-apa."
π±"Alhamdulilah, mas. Semua karena usaha dan rejeki dari Allah. Lantas untuk apa kamu menelponku?"
π±"Aku ingin bertemu denganmu bisakah?"
π±"Maaf, aku sibuk. Lagi pula kita sudah bukan suami istri lagi, jadi pantang bagiku untuk sekedar bertemu denganmu."
__ADS_1
π±"Memang kamu bukan istriku lagi, tapi sampai kapan pun aku adalah ayah kandung Dita. Camkan itu!"
π±"Tak perlu kamu jelaskan, aku sudah paham akan hal itu."
π±"Apa salahnya kita bertemu sejenak saja, aku hanya ingin mengetahui kabar Dita."
π±"Maaf, mas. Aku tak bisa, kamu nggak usah sok perhatian pada, Dita. Tanpamu, aku bisa kok menghidupi, Dita. Jadi aku mohon, kamu jangan ganggu aku lagi."
π±"Baru punya toko kue, sudah sombong. Kamu jangan lupa ya, uang yang kamu gunakan itu pasti dari hasil menjual perusahaan expedisiku. Jika tidak, kamu takkan bisa membuka usaha toko kue."
π±"Jangan ngaku-ngaku, mas. Kamu itu bukan apa-apa jika tak ada, Bu Intan. Perusahaan expedisi itu asli milik, Bu Intan. Kamu itu cuma benalu saja. Sudah ya, jangan pernah menelponku lagi. Urus saja anak dan istrimu yang sekarang!"
Tiara langsung mematikan panggilan telpon dari Tara. Bukan cuma itu, dia juga memblokir nomor ponsel, Tara. Supaya Tara tak mengganggunya lagi.
"Sialan, sombong banget dia! baru punya toko kue saja sudah besar kepala di ajak bertemu pake acara menolak!" gerutunya seraya menyimpan kembali ponsel ke kantung celana dan kartu nama di simpan di kantung bajunya.
"Prok prok prok" suara tepukan tangan terdengar nyaring tepat di belakang, Tara.
Tara pun menoleh dan di dapatinya, Monalisa telah berdiri dengan pasang wajah menakutkan.
"Hem, bagus sekali pertunjukkan yang kamu buat ya, mas? kemarikan ponsel da kartu namanya!" pinta Monalisa menengadahkan tangan kanannya.
"Sejak kapan kamu berdiri di belakangku? bikin aku jantungan saja," Tara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah ngeles, mana kartu nama dan ponselnya."
"Untuk apa ponselku, bukannya kamu sendiri juga punya ponsel. Kalau nggak ada kuota ya beli, toh gajimu denganku lebih besar gajimu," Tara tetap tak memberika ponselnya.
Hingga Monalisa mengambil paksa kontak motor yang ada di genggaman, Tara.
"Baiklah, jika kamu tak mau memberikanya. Kamu tak boleh tidur di rumah, dan motor juga akan aku bawa pulang." Ancam Monalisa seraya melangkah pergi meninggalkan Tara.
Namun, Tara lekas menahan kepergian Monalisa.
"Tunggu, jangan pergi. Ini ponsel dan kartu namanya." Tara benar-benar memberikan kartu nama dan ponselnya.
__ADS_1
Monalisa langsung menghapus nomor ponsel Tiara yang ada di ponsel Tara. Dan mengembalikan ponselnya.
*******