
Tara melihat kesedihan di wajah istrinya, dia merasa iba dan mencoba menghibur Intan.
"Sayang, sudahlah. Jangan kamu ingat masa lalumu yang sangat menyakitkanmu. Dan yakinlah jika suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan putrimu tercinta." Tara mengusap surai hitam Intan.
"Bagaimana aku bisa melupakan masa laluku, sedangkan saat ini hidupku tak jauh bedanya dengan dulu. Tapi sekarang ini malah sangat menyakitkanku." Tak terasa bulir bening keluar dari pipi Intan.
"Sayang, jika kamu menjalani semua ini dengan iklas, pasti tidak akan merasa sakit hati." Dengan gampangnya Tara berkata seperti itu.
"Iklas kamu bilang, mana ada wanita yang mau menjadi madu wanita lain? aku itu punya hati, dan bukan robot. Jika robot dia tidak akan merasakan sakit hati!" Intan bertambah nelangsa.
"Sayang, aku mohon jangan kamu menangis terus, apa kamu nggak kasihan dengan janin yang ada di kandunganmu?" Tara terus saja menghibur Intan.
"Yang nggak kasihan itu kamu, tega melakan semua ini padaku juga pada Laras. Aku yakin, jika suatu saat nanti Laras tahu semua ini. Dia juga akan merasakan sakit seperti yang aku rasakan!" Intan mendengus kesal seraya menghapus air matanya.
"Dengan cara apa lagi supaya kamu memaafkanku dan kita kembali seperti sedia kala, sayangku." Tara menggenggam jemari Intan.
"Kertas yang telah sobek tak bisa kembali seperti sediakala, cermin yang sudah retakpun tak bisa kembali seperti sedia kala. Seperti halnya hatiku ini, takkan mungkin bisa melupakan semua itu begitu saja," Intan menghela napas panjang.
__ADS_1
Selagi asik berdebat, ponsel Intan berbunyi yang ternyata telpon dari karyawati di restorannya.
π±"Hallo, Bu Intan. Bagaimana kondisi ibu, maaf saya mengganggu."
π±"Katakan saja, tak perlu sungkan."
π±"Restoran nggak ada pembeli, sejak isu tentang kecoa itu."
π±"Ya sudah, tutup saja dulu untuk sementara waktu. Karena kondisiku seperti ini jadi aku belum bisa menyelesaikan kekacauan di restoran."
Setelah itu, panggilan telpon di tutup oleh Intan dan juga oleh karyawatinya.
"Sayang, kenapa restoran akan di tutup? biasa kalau kamu nggak bisa datangpun, tetap di buka. Memangnya kegaduhan apa yang telah terjadi, harusnya kamu cerita padaku jangan kamu pendam sendiri." Tara penasaran.
"Bagaimana aku akan cerita padamu, sedangkan kamu selalu sibuk dengan istri tuamu!" Intan berkata dengan lantangnya.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu karena aku nggak ingin terjadi apa-apa pada anak kita." Tara mencoba membujuk Intan.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan ucapanmu?" Intan merasa ragu.
"Yakin, sayang. Tapi aku ada satu permintaan." Tara kembali berkata.
"Apapun permintaanmu, asal aku sanggup akan aku lakukan." Kata Intan.
"Aku akan selalu mendampingimu selama kehamilanmu, dan akan membantumu menyelesaikan permasalahan restoranmu. Asal kamu mengijinkanku bekerja lagi di kantor dan kamu aktifkan kembali semua kartuku. Setidaknya aku ingin menafkahi Rizky, dan jika aku tidak bekerja bagaimana bisa aku mencukupi kebutuhan Rizky." Kata Tara panjang lebar.
"Rizky apa ibunya?" Sindir Intan tersenyum sinis.
"Sayang, janganlah karena kita bermasalah. Rizky juga harus menanggung akibatnya." Bujuk Tara.
"Sebenarnya benar juga apa yang Tara ucapkan, aku terlalu egois jika membiarkannya tak memiliki pekerjaan. Kasihan Rizky." Batin Intan.
"Sayang, kok diam saja?" Tara mengangetkan lamunan Intan dengan tepukan tangannya pada lengan Intan.
******
__ADS_1