Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Pertemuan Tara & Intan 1


__ADS_3

Tara lekas mengangkat telpon dari Intan.


πŸ“±"Assalamu alaikum, sayang. Kamu kemana saja, aku merindumu. Pastinya saat ini kamu sudah melahirkan bukan?"


πŸ“±"Walaikum salam wr wb, dimana rumahmu? aku ingin ke rumahmu "


Saat Tara di tanya rumah, dia malah balik bertanya. Dia enggan menunjukkan rumahnya, karena khawatir suatu saat Laras pulang.


πŸ“±"Biar aku saja yang kerumahmu, sayang. Kamu saat ini pindah di mana, tunjukkan saja alamat rumahmu?"


Intan merasa geram dengan Tara, karena dia terlalu bertele-tele. Hingga akhirnya Intan mengajak Tara bertemu di suatu tempat.


πŸ“±"Aku ingin bicara padamu tentang hal penting, datanglah ke cafe Bunga sekarang juga. Aku akan datang sekarang."


Setelah Intan mengatakan tempat pertemuannya pada Tara, diapun lekas mematikan panggilan telponnya.


"Intan, kamu serius akan menemui Tara sendiria? sebaiknya kamu di temani sama Kevin," Bu Mita merasa khawatir.


"Ya, mah. Dari pada aku nggak ada aktifitas, biar aku temani mamah saja. Sementara ade bayi di jaga oma," Kevin menawarkan diri.


"Apa denganku saja?" Bahkan Keano juga bersedia menemani.


"Baiklah, aku di temani Kevin saja. Tapi Kevin menunggu di mobil mamah saja ya?" Intan telah memutuskan dengan siapa dia akan di temani.


"Baiklah, mah. Tapi jika orang itu kasar kembali pada mamah seperti waktu itu, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengawasi mamah dari jarak dekat saja, supaya bisa lebih memantau situasi dan kondisi," ucap Kevin dengan sangat antusiasnya.


"Haduh, sudah seperti orang tua saja," goda Keano terkekeh.


"Aku bukan seperti orang tua, pah. Tapi aku telah dewasa, sebagai seorang anak sudah sewajarnya aku menjaga mamahku,"Kevin berkata dengan bangganya.


"So sweet, mamah menjadi terhura eh terharu," Intan terkekeh.


Bu Mita yang melihat Intan mulai bisa tersenyum merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Engkau telah mengirimkan Keano dan Kevin, yang perlahan bisa mengobati luka di hati Intan. Aku yakin, pertemuan mereka bukan hanya sekedar pertemuan. Tapi ada maksud yang baik dariMu," sepenggal ucapan syukur Bu Mita.


Bu Mita menjaga babynya Intan, sedangkan Intan pergi menemui Tara dengan di temani oleh Kevin. Namun rasa hati Keano merasa gelisah, hingga tanpa sepengetahuan Intan dan Kevin, diam-diam dia mengikuti laju mobil yang di kemudikan Kevin.


"Mah, jangan panik dan jangan takut sama orang itu ya? tenang saja, karena ada Kevin yang selalu menjaga mamah," Kevin tersenyum seraya fokus melajukan mobilnya.


"Iya, sayang mamahnya yang paling cerewet dan ganteng," Intan mengacak-acak rambut Kevin.


"Ya, mamah. Kevin sudah sisir rapi rambutnya, kok malah di berantakin," Kevin mengerucutkan bibirnya.


"Ya, maaf. Ini mamah rapikan lagi." Intan mengusap pelan rambut Kevin.


Kevin sangat bahagia sejak mengenal Intan dan bisa dekat dengannya.


"Ya Allah, jika hamba boleh meminta. Tolong persatukan Mamah Intan dan papahku dengan satu ikatan suci pernikahan. Supaya hidupku lengkap ada mamah dan ada papah. Aku yakin, papahku tidak akan pernah menyakiti Mamah Intan, karena dia adalah tripikal suami setia, penyayang, dan penuh tanggung jawab," doa Kevin di dalam hati di sela mengemudinya.


Sementara saat ini Tara sedang dalam perjalanan menuju ke cafe Bunga yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Dia merasa heran kenapa Intan tidak mengajaknya bertemu di salah satu restorannya, tetapi malah mengajak bertemu di cafe yang jaraknya tidaklah dekat dengan dirinya.


Saat ini Intan sudah terlebih dulu sampai, sementara Tara masih dalam perjalanan. Hingga 30 menit berlalu, barulah Tara sampai. Dia sempat tersenyim saat melihat perut Intan yang sudah kempis.


"Dugaanku benar, Intan sudah melahirkan," batinnya sumringah seraya menghampiri Intan.


"Sayang, apa kabarmu." Tara mendekat akan mencium kening Intan, namun dia menghindar.


"Kenapa, sayang? apa kamu tidak merindukanku, seperti aku merindukanmu?" Tara menjatuhkan pantatnya di kursi hadapan Intan.


"Sudahlah, tak perlu mengobral rayuan. Aku tidak ingin membuang waktu begitu saja, to the point saja," Intan menatap sinis pada Tara.


"Baiklah, bicaralah. Paling kamu ingin bercerita tentang kelahiran anak kita, jenis kelaminnya ya kan? aku juga belum meng azaninya," Tara sangat percaya diri dengan ucapannya.


"Bisa diam nggak, jangan ngoceh terus! karena aku ingin bicara," tegur Intan ketus.


"Baiklah, maaf." Tara langsung diam setelah mendapat teguran oleh Intan.

__ADS_1


"Sesuai dengan ucapanku waktu itu, aku ingin kita pisah. Dan aku sudah menyiapkan semua berkas untuk perceraian kita. Kamu nggak perlu repot." Perlahan Intan mengeluarkan berkasnya dari dalam tas dan meletakkannya di meja.


"Kamu hanya perlu menandatanginya saja." Intan memberikan pena pada Tara.


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!" Tara mulai terpancing emosi.


"Aku juga tak ingin menjadi istri sirimu selamanya, aku ingin hidup bahagia," Intanpun mulai emosi juga.


"Sayang, tolong sadarlah. Pikirkanlah, setidaknya demi anak kita," Tara mulai membujuk Intan.


"Bukan demi anak kita, tapi demi kamu pribadi. Aku sudah mengerti bagaimana sifat aslimu," Intan mencibir sinis pada Tara.


"Kenapa kamu sangat keras kepala, sih! tetap berkeras hati ingin berpisah denganku? apa kamu sudah punya Pria Idaman Lainnya?" Tara mulai berprasangka buruk pada Intan.


"Karena aku sudah tak kuat dengan semua perilakumu padaku! apalagi sejak aku tahu jika kamu telah menyembunyikan kebenaran padaku selama ini. Saat ini aku belum menemukan pria yang baik. Tapi aku yakin suatua saat aku bahagia bersama pri yang jujur tidak pembohong sepertimu!" Intan benar-benar sudah geram dengan makhluk yang satu ini, namun dia terus saja bertahan.


"Berbohong apa? aku menyembunyikan kebenaran apa?" Tara masih saja belum sadar dengan apa yang telah di lakukan olehnya.


"Aku sekarang tahu, kenapa kamu membuat makam kosong. Karena kamu nggak ingin aku tahu kebenaran jika istri sahmu adalah anak kandung yang selama ini aku cari," Intan langsung berkata pada pokoknya.


"JEDER!!!" Tara terperangah terdiam, matanya membola. Dia bagaikan di sambar petir mendengar perkataan dari Intan.


Namun dia masih saja berkilah menutupi kegugupannya.


"Sayang, kamu ngaco dech. Istri sahku itu bukan anak kandungmu. Jika dia memang anakmu, pasti aku akan memberitahumu," Tara berusaha menutupi kepanikannya.


"Sudahlah tak usah banyak berkilah dengan mencoba menutupi kebohonganmu Lihatlah, bukannta ini foto pernikahanmu bersama Laras?" Intan menunjukkan fofo pernikahan Tara dan Laras.


Sejenak Tara terdiam, dia bertambah panik saat melihat foto yang di tunjukkan oleh Intan.


"Darimana dia mendapatkan foto pengantinku bersama Laras?" hati Tara penuh tanda tanya.


**********

__ADS_1


__ADS_2