
Tak berselang lama, sampailah Keano di apartement milik Intan. Dia bisa bernapas lega karena acaranya belum di mulai.
"Alhamdulilah, aku belum telat. Ternyata acara belum juga di mulai," Batin Keano lega.
Dia segera melangkah masuk kedalam apartement Intan.
"Assalamu alaikum." ucapnya.
"Walaikum salam, wr wb. Masuklah, Mas Keano." Pinta Intan sibuk menata semua yang di butuhkan.
"Belum dimulai kan, Intan?" tanya Keano seraya membantu Intan.
"Belum, mas. Sebentar lagi, menunggu kita selesai menata semuanya," jawab Intan sekananya.
"Asalamu alaikum, yah papah. Kenapa kita nggak bareng sih, tahu-tahu papah sudah ada di sini duluan." Kevin mengerucutkan bibirnya.
"Walaikum salam wr wb, hhee maafkan papah. Papah pikir, kamu malah sudah ada di sini terlebih dulu," Keano mengaruk kepalanya yang tak gatal.
Intan hanya bisa tertawa melihat tingkah ayah dan anak yang kerap kali terlihat lucu.
Tak lupa Kevin menyalami Intan, bahkan memeluknya.
Suasana begitu hangat layaknya satu keluarga yang utuh, di dalam hati Kevin sangat mengharapkan suatu saat nanti Intan bisa menjadi ibu sambungnya. Begitu pula yang ada di pikiran Keano, dia menginginkan kelak Intan menjadi istrinya. Keano sama sekali tidak mempermasalahkan masa lalu Intan yang pernah menikah dua kali.
Keano justru salut pada Intan, yang begitu tegar dan kuat menghadapi gelombang permasalahan dalam hidupnya.
Setelah semua tertata rapi di ruang tamu, satu persatu datang tetangga ke rumah Intan untuk mengikuti syukuran pemberian nama pada anaknya. Bahkan Intan juga mengundang ustad terkenal di wilayah tersebut untuk memimpin doa.
Acara demi acara berlangsung secara khusyu, hingga acara puncak yakni berdoa bersama yang di pimpin oleh Ustad juga di lakukan sangat kusyu. Acara penutup di lakukan dengan makan bersama, serta pembagian bingkisan pada masing-masing orang yang datang pada acara syukuran tersebut.
Satu jam berlalu, acara tersebut telah selesai. Intan lega karena acara berjalan lancar tidak halangan ataupun gangguan.
__ADS_1
"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Acara pemberian nama untuk anakku berjalan lancar, tidak ada suatu halangan apapun," batin Intan mengucap syukur.
Acara tersebut sempat di rekam oleh Intan dan di abadikan di dalam ponselnya. Intan ingin berbagi kebahagiaan ini pada Laras. Dia tidak ingat jika saat ini Laras ada di rumahnya bersama Tara yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Intan mengirimkan rekaman vidionya pada ponsel Laras dengan suasana hati yang sangat bahagia.
Sementara, di rumah Laras. Saat ini Laras sedang tidur di kamar Risky. Dan dia melupakan ponselnya yang ada di nakas kamar Tara.
Bunyi ponsel Laras mengundang rasa penasaran di hati Tara.
"Siapa sebenarnya malam-malam begini mengirim notifikasi chat pesan pada ponsel Laras. Aku jadi penasaran." Tara iseng membuka ponsel Laras yang tidak di kunci sehingga mudah sekali untuk di buka.
Tara membelalakkan matanya melihat siapa yang telah mengirim notifikasi pesan pada Laras, dan melihat vidio syukuran pemberian nama anak Intan.
"Sialan, ternyata aku telah di bohongi oleh Laras. Dia ternyata telah bertemu dengan Intan."
"Intan juga, tidak memberitahu aku jenis kelamin anakku. Padahal bagaimanapun aku ini ayahnya, darah dagingnya. Aku catat saja nomor ponsel Intan yang baru."
"Pasti papi yang telah mengajak Laras bertemu dengan Intan! Aku harus segera pindah rumah lagi, supaya Laras tidak bisa berkomunikasi dengan orang tuanya."
Demikian gerutuan dari Tara, dia lekas mengambil kartu nomor ponsel Laras dan mematahkannya. Dia melangkah pergi dengan membawa ponsel Laras.
Dia melajukan mobilnya menuju ke sebuah konter terdekat untuk membeli nomor ponsel baru untuk di pasang di ponsel Laras.
Tak lupa Tara menghapus nomor ponsel Reno, Saras, dan juga Intan yang ada di ponsel Laras.
"Dengan begini, mereka tidak akan bisa menghubungi Laras lagi." Tara menyeringai tersenyum sinis.
Kemudian Tara melajukan mobilnya menuju ke rumah. Dia tidak ingin berlama-lama, karena khawatir Laras keburu bangun dan mencari ponselnya.
Hanya beberapa menit saja, Tara telah sampai di rumah mewahnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah untuk mengecek apakah Laras telah terbangun atau masih tidur, hingga dia melupakan untuk memarkirkan mobilnya di garasi.
__ADS_1
"Aman, Laras masih tertidur." Tara meletakkan ponsel Laras di samping tempat tidur Laras bukan lagi di nakas kamar Tara.
Barulah Tara melangkah ke halaman untuk memarkirkan mobil ke garasi. Setelah itu dia melangkah kembali ke kamarnya dengan penuh suka cita.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mempertemukan Laras dengan Intan. Seperti yang Intan lakukan padaku, dengan tidak mengijinkanku bertemu dengan anakku yang ternyata adalah seorang lelaki," batin Tara tersenyum sinis.
"Aku juga tidak akan membiarkan Laras bisa bertemu dengan orang tuanya. Aku sangat dendam pada Saras yang selalu menghinaku! aku juga dendam pada Reno yang pernah memukulku!" batin Tara kembali mendengus kesal.
Sementara di rumah Intan, dia merasa heran karena Laras sama sekali tidak membalaa notifikasi pesan yang dia kirim.
"Kenapa cuma di baca doang? kenapa kok nggak di balas sih, Laras? apa kamu marah sama, ibu?" gerutu Intan masih saja menunggu balasan dari Laras.
"Sebaiknya aku menelponnya saja, supaya lebih jelas." Intan menelpon nomor ponsel Laras.
"Kok nomor tidak aktif? astaghfiruloh alazdim, aku lupa jika saat ini Laras sedang bersama Tara. Mungkin ponsel sengaja di matikan olehnya." Intan menghela napas panjang seraya meletakkan ponselnya di nakas kamarnya.
Sementara saat ini Tara sedang sibuk mencari tempat tinggal yang baru. Namun belum juga menemukan yang cocok.
"Ah, nggak satupun rumah yang teman-temanku tawarkan bagus. Semuanya jelek, tak berkelas dan sangat kuno bangunannya. Sebaiknya aku tunda dulu mencari rumahnya," Tara merebahkan badannya di pembaringan dan matanya terlelap, kini dia tertidur pulas.
Hingga pagi menjelang, barulah dia bangun dan melangkah untuk sekedar jalan-jalan berkeliling halaman rumah, dari halaman depan, samping, dan belakang.
Namun saat baru sampai di halaman depan, dia sempat melihat ada seseoranh meletakkan sesuatu di kotak surat.
Tara melangkah menghampiri kotak surat tersebut dan penasaran mengambil sebuah amplop coklat.
Perlahan Tara melihat isi di dalam amplop coklat tersebut yang ternyata adalah surat pemberitahuan bahwa dirinya sudah tidak ada hubungan apapun dengan Intan. Surat yang setara dengan surat cerai.
Di dalam amplop tersebut juga ada sebuah surat kepemilikan perusahaan expedisi milik Intan yang telah di balik nama menjadi milik Tara.
******************
__ADS_1