
Keano semakin kesal dengan sikap kasar Saras. Hampir saja, Keano bertindak kasar pada, Saras. Tetapi, Intan mencegahnya.
"Pah, jangan. Nanti malah memperpanjang masalah." Intan menahan tangan Keano yang sudah mengepalkan tinjunya.
"Saras, seharusnya kamu koreksi diri dan jika perlu perbaiki diri. Bukan malah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada rumah tanggamu."
"Aku sudah memiliki kehidupan sendiri, nggak ada sedikit pun dalam benakku untuk kembali lagi pada mantan."
"Jika aku sering bertemu dengan, Laras itu wajar. Karena di dunia ini tidak ada yang namanya bekas anak atau pun bekas ibu."
"Seburuk apa pun, aku tetap ibu kandungnya, Laras. Sekuat apa pun kamu ingin memisahkan kami, itu tidak akan bisa. Karena ikatan batin ibu dan anak sangatlah kuat."
"Itu telah terbukti, kan? kamu berusaha menjauhkanku dengan, Laras. Tapi tetap saja pada akhirnya kami bisa bertemu."
__ADS_1
"Walaupun perpisahan kami cukup lama, dan itu juga karena ulahmu. Apa yang kamu dapatkan dengan cara merampas, tidak akan bertahan lama."
"Karma selalu berlaku, Saras. Saat ini kamu sedang merasakannya, seharusnya kamu menyadari diri dan berubah menjadi lebih baik. Bukan malah semakin tua semakin menjadi."
Cukup panjang, Intan berkata pada Saras. Dia mencoba memberi pengertian pada, Saras. Dengan harapan, Saras bisa menyadari akan kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
"Sudah ceramahnya? kamu pikir dirimu ini siapa, Ustazah? sok menceramahi, menasehatiku. Aku tidak butuh semua itu, aku ingin kamu mempertanggung jawabkan semuanya. Bantu aku supaya bisa kembali bersama, Mas Reno dan Laras!" Laras berkata lantang.
"Heh, enak saja memerintah istriku! urus saja permasalahanmu sendiri, jangan sangkut pautkan permasalahanmu pada istriku! mah, sebaiknya kita lekas masuk saja, nggak usah menghiraukan wanita kurang seons ini!" Keano menatap sinis Saras seraya merangkul Intan melangkah masuk ke dalam kantor.
"Maaf, bapak-bapak. Mengganggu waktunya sebentar." Saras menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Ada apa ya, ibu?" tanya salah satu security berdiri menghampiri, Saras.
__ADS_1
"Begini, pak. Apa benar perusahaan ini milik suami istri yang barusan saya bertemu? padahal saya kemari ingin bertemu dengan, Pak Tara. Tapi dia sudah tidak ada di sini atau bagaimana? kok saya jadi bingung, karena saya mencari, Pak Tara ada hal penting yang ingin saya tanyakan. Dia berhutang banyak pada saya, dan memerintah saya menemuinya di sini, tapi kok nggak ada?" Saras sengaja mengarang cerita supaya security percaya padanya.
"Aku yakin, tadi security tidak tahu apa yang aku bicarakan dengan, Intan. Karena jarak lumayan jauh," batin Saras menyeringai sinis.
"Oalah, Ibu telah di bohongi oleh, Pak Tara. Perusahaan ini aslinya milik, Bu Intan.Akan tetapi, pada saat Bu Intan masih menjadi istri, Pak Tara. Memang beliau yang memimpinnya."
"Tapi mereka telah berpisah sudah cukup lama. Dan kini Bu Intan telah menikah lafi dengan, Tuan Keano."
Panjang lebar security menjelaskan tanpa ada rasa curiga sama sekali dengan, Saras.
Pernyataan dari security sempat membuat Saras terhenyak kaget dan terperangah.
"Ibu, nggak apa-apa?" tegur security saat melihat expresi wajah Saras.
__ADS_1
*****