Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Acuh Tak Acuh


__ADS_3

Tak terasa pagi menjelang, Mona pulang terlebih dulu. Dan dia langsung mendapatkan teguran dari Tia.


"Mona, kamu dari mana saja? kata keluar sebentar tapi kok pulangnya malah sampai pagi? sebenarnya kamu pergi dengan siapa?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Tia.


"Maaf, Nyonya. Sebenarnya saya pergi dengan calon suami saya, tapi dia malu saat di minta untuk berpamitan pada, Nyonya atau Tuan." Jawab Mona sekenanya.


"Tapi kamu pamitnya cuma sebentar, kenapa sampai menginap?" Tia mendengus kesal seraya menatap sinis pada Mona.


Belum juga Mona menjawab pertanyaan terakhir dari Tia, Tara telah pulang. Hingga Tia kini beralih menghampiri Tara, dan melupakan pertanyaannya pada Mona. Kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Mona, dia lekas pergi dari hadapan Tia.


"Mas Tara, dari mana saja? kok nggak pulang?" Tia mencoba bersikap santai walaupun dalam hati sangat kesal.


"Bukan urusanmu, urus saja ibumu itu!" bentak Tara seraya melangkah menuju ke kamarnya.


Tara langsung melakukan ritual mandi paginya, dan dia akan pergi ke kantor pagi ini. Karena dia nggak akan betah di rumah ada mertuanya.

__ADS_1


"Tia-Tia!" teriak Tara memanggil istrinya.


"Iya, mas." Tia berlari kecil ke arah kamar.


"Kenapa sih, mas? pagi-pagi teriak, nanti Dita kaget baru saja tidur," Tia mengernyitkan keningnya.


"Masih bertanya kenapa? sudah lama kamu lari dari tanggung jawabmu sebagai istri! kamu hanya memikirkan ibumu yang tak tahu diri itu!" bentak Tara melotot pada Tia.


"Mas, kenapa sejak aku pulang bukannya senang tetapi kamu selalu marah?" mata Tia mulai berkaca-kaca.


"Astaghfiruloh alazdim. Maafkan aku, mas. Aku lupa." Tia menepuk jidatnya sendiri, secepat kilat mempersiapkan baju kantor Tara.


"Terlalu kamu! masa tugas sehari-hari saja terlupakan! apa yang ada di otakmu!" Tara melotot seraya berkacak pinggang.


"Mas, aku kan sudah minta maaf. Tapi kenapa kamu masih saja marah?" perlahan air mata Tia jatuh bercucuran di pipi.

__ADS_1


"Kenapa menangis? seolah aku jahat padamu, padahal aku tak pernah kasar padamu! semua kebutuhanmu selalu aku cukupi, tapi tidak ada timbal baliknya sama sekali," Tara menghela napas panjang.


Segera dia memakai baju kantornya dan lekas melangkah ke ruang makan untuk sarapan. Tia tergopoh-gopoh mengikuti Tara, dia tak ingin mendapat omelan lagi.


Dengan penuh kesabaran, Tia melayani suaminya di meja makan. Dia tidak ikut sarapan sama sekali.


"Biasanya Mas Tara selalu menawari aku supaya ikut sarapan, tapi kenapa kali ini tidak?" batin Tia bertanya sendiri di dalam hati.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Tara mendengus kesal saat Tia terus saja menatapnya.


"Selera makanku mendadak hilang, karena sikspmu itu!" Tara mengurungkan makannya, dia membanting sendok dan garpu di atas piringnya.


Sejenak Tara meneguk air putih, kemudian dia melangkah pergi dari ruang makan. Saat Tarq meraih tas kantornya yang ada di sofa, Tia mengulurkan tangan ingin menyalami Tara. Tapi Tara justru berlalu begitu saja tak menghiraukan Tia.


*********

__ADS_1


__ADS_2