Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Lelah


__ADS_3

Saat Saras dan Bu Tuti melihat kedatangan Reno, keduanya langsung panik dan salah tingkah.


Mereka saling pandang dan kebingungan, tak bisa berkata apapun.


"Kenapa kalian diam! sekarang juga, aku akan laporkan kalian ke aparat hukum untuk di tindak lanjuti!" Reno berbalik arah melangkah pergi.


"Bu Saras, kejar suaminya cepat! bujuk dia supaya mengurungkan niatnya melapor pada polisi," pinta Bu Tui mengguncang lengan Saras.


"Ini semua gara-gara, Bu Tuti. Untuk apa pula berkata macam-macam!" Saras berlari kecil mengejar Reno.


"Mas Reno, tunggu!" Saras tersengal-sengal mengejar Reno.


"Apa!" Reno menghentikan langkahnya seraya menoleh ke Saras.


"Tolong, urungkan niatmu itu." Saras bergelayut di lengan Reno.


"Lepaskan! kamu itu benar-benar jahat, kamu hampir saja membunuh janin Intan! ternyata sebelumnya kamu juga telah membuat hancur usaha Intan!" Reno menepiskan tangan Saras.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya di kantor polisi!" bentak Reno.


"Semua yang aku lakukan juga bukan kesalahanku semata, tapi karenamu juga. Jika kamu tidak bersikap manis dan mendekati Intan kembali, pasti aku tidak akan melakukan semua ini! apa kamu lupa, mas? saat kamu memuji Intan yang sedang hamil lagi, sedangkan aku tak bisa hamil! itu juga sangat menyakitiku!" celoteh Saras membenarkan apa yang telah di lakukannya.


"Aku bicara fakta kan, kenapa pula kamu harus marah dan merasa sakit hati?" Reno mendengus kesal.


Sementara Bu Tuti yang melihat perdebatan tersebut ketakutan, diam-diam dia kabur pulang ke rumah.


Saras dan Reno terus saja berdebat, dan tiba-tiba ponsel Reno berdering yang ternyata ada panggilan telpon dari Laras. Sejenak pertengkaran mereka berhenti. Reno mengangkat telponnya.


πŸ“±"Assalamu alaikum, pi."


πŸ“±"Walaikum salam wr wb, ada apa ?"


πŸ“±"Segera ke rumah sakit, pi. Aku kerepotan mengurus Rizky sendirian."


πŸ“±"Mas Tara sedang ada urusan pekerjaan."


πŸ“±"Ya sudah, papi akan segera ke sana."


Panggilan telpon di matikan baik oleh Reno maupun Laras. Reno juga lupa akan rencananya melapor polisi.

__ADS_1


"Mana kontak mobil!" Reno menengadahkan tangan kanannya meminta kontak mobil.


"Aku ikut, mas." Saras memberikan kontak mobilnya pada Reno.


Segera Reno melangkah ke garasi mobil, sementara Saras mengunci pintu rumah. Keduanya langsung bergegas masuk mobil, Reno fokus melajukan mobilnya tanpa ada sepatah katapun. Begitu pula dengan Saras.


"Mereka asik dengan pemikirannya masing-masing, tanpa saling bertegur sapa.


"Semoga Mas Reno lupa dengan masalah tadi. Dan semoga pula di rumah sakit tidak menemui Intan kembali," batin Saras.


Berbeda dengan apa yang di pikirkan oleh Reno, dia justru ingin segera bertemu dengan Intan.


"Semoga kondisi Intan sudah mulai membaik, dan perbuatan jahat Saras pada Intan tak berpengaruh pada janinnya. Kasihsn sekali dia, dari dulu selalu di sakiti oleh Saras," gerutu Reno dalam hati.


"Aku sangat menyesal ya Allah, telah menyakiti hati Intan. Ingin aku menebus semua kesalahanku, ingin aku kembali padanya. Tapi itu tidak mungkin, karena saat ini Intan telah bersuami dan akan memiliki anak," gerutu Reno kembali.


Tak berapa lama, sampailah mereka di rumah sakit. Saras menatap sinis pada Reno saat akan keluar dari mobil.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, kamu takut aku jenguk Intan? justru aku akan menjenguknya dan mengatakan padanya jika kamulah yang membuat restorannya bangkrut!" Reno melangkah meninggalkan Saras.


"Sial, aku pikir dia lupa. Malah akan mengagukanku pada Intan, ini tidak boleh di biarkan! aku harus mencegahnya." Saras berlari kecil mengejar Reno.


Saras akhirnya menyerah, dia tak lagi mengejar Reno karena percuma saja. Tak berapa lama, Reno telah sampai di ruang rawat Rizky.


"Pi, sendirian saja? mami nggak di ajak?" tanya Laras mengernyitkan alis.


"Ikut, jalannya seperti siput jadi tertinggal sama papi," jawab Reno singkat tanpa ada senyuman sedikitpun.


"Papi bisa saja dech, nggak biasanya kalian jalan sendiri-sendiri. Biasanya selalu kompak, mami bergelayut manja di lengan papi," canda Laras terkekeh.


Namun tetap saja Reno tak merespon candaan dari Laras. Dia tetap murung.


"Pi, lagi berantem ya sama mami?" Laras bertanya menyelidik menatap lekat wajah Reno.


Reno diam saja, tak menjawab pertanyaan dari Laras. Tak berapa lama, datanglah Saras.


"Papi mau ke toilet." Reno lekas pergi begitu saja.


"Mi, papi kenapa kok murung? apa kalian sedang berantem?" tanya Laras menyelidik.

__ADS_1


"Nggak kok, papi mu lagi banyak pikiran. Di kantor lagi banyak kerjaaan, pusing katanya." Jawab Saras berbohong.


"Oh, pikir kalian berdua sedang berantem. Sukur dech kalau mami dan papi akur nggak ada masalah," Laras menyunggingkan senyum.


"Pasti saat ini Mas Reno sedang ke ruang rawat Intan," gerutu Saras di hati.


"Mami, kenapa diam saja?" tanya Laras mengagetkan lamunan Saras.


"Eh, anu. Mami sedikit sakit kepala," jawab Saras menutupi rasa gugupnya.


Sementara apa yang di khawatirkan oleh Saras benar adanya. Saat ini Reno memang sedang melangkah menuju ke ruang rawat Intan.


Namun dia merasa kecewa, karena ruangan telah kosong.


"Loh kok, kenapa ruangannya kosong. Apakah sudah pulang, ya sayang sekali." Reno berbalik arah kembali ke ruang rawat cucunya.


"Padahal aku ingin mengatakan hal penting pada Intan, malah nggak ketemu." Reno melangkah gontay seraya menghela napas panjang.


Sementara saat ini Intan dan Tara telah sampai di rumah. Tara menuntun Intan perlahan-lahan turun dari mobil.


"Pelan-pelan saja, sayang." Pesan Tara menyunggingkan senyum.


"Jika perhatianmu dan senyummu ini tidak terbagi, hanya untukku saja. Alangkah bahagianya aku," batin Intan seraya menghela napas panjang.


"Kamu kenapa, sayang? kok mengambil napas panjang? apa kamu cape?" Tara bertanya seraya mengusap pipi Intan.


"Iya, aku sangat cape dan sangat lelah." Jawab Intan sekenanya.


"Ya sudah, nanti langsung istirahat saja." Saran Tara.


"Aku cape dengan permainan sandiwaramu, ingin segera aku akhiri tapi ada janin ini." Intan menghela napas kembali.


"Sayang, sudahlah jangan terus saja mengungkit kesalahanku. Bukankah berkali-kali aku telah meminta maaf?" Tara mencoba membujuk Intan.


"Untuk apa berkali-kali kamu meminta maaf tapi tetap mengulang kesalahan yang sama dan tak bisa berubah sama sekali."


"Mau sampai kapan kamu memiliki dua istri, tapi kamu tak bisa bersikap adil sama sekali. Dan sampai kapan kamu terus berbohong pada Laras?"


Demikian panjang lebar Intan berkata, dia sudah ingin lepas dari Tara. Tapi kondisi yang tidak memungkinkan, karena kehamilannya. Jika dia tidak hamil, pasti sudah berpisah dari Tara sejak awal mengetahui kebohongan yang di lakukan oleh Tara.

__ADS_1


******


__ADS_2