
Sore menjelang, di kala keluarga Laras pulang dari pikniknya. Namun saat Reno akan membuka pintu gerbang, ternyata gembok sudah membuka.
"Loh, kok gembok membuka? apa aku yang lupa menguncinya?" gumam Reno tak ada rasa curiga sedikitpun.
Reno membuka pintu gerbang secara lebar supaya mobil bisa masuk.
"Mi, kapan si Mamang dan Bibi kerja lagi. Repot juga kalau seperti ini, buka gerbangpun harus sendiri." Reno melajukan mobilnya memasuki pintu gerbang.
"Sabar, pi. Mereka baru pulang kemarin, datang lagi paling bulan depan," celoteh Saras.
Mobil berhenti di pelataran rumah, Laras lekas menggendong Risky yang tertidur, membawanya keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu rumah.
"Mi, pintu rumah memangnya nggak di kunci saat mau pergi? ini kok bisa di buka?" Laras merasa heran karena bisa membuka pintunya.
"Mami kunci kok, masa bisa di buka?" Saras menghampiri Laras yang sedang berada di depan pintu.
__ADS_1
Saras mengecek pintunya, memang bisa di buka. Dia merasa ada yang aneh.
"Pi, jangan-jangan ada pencuri yang masuk," Saras menatap ke arah Reno.
"Apa iya ya, seingatku juga mengunci gembok pintu gerbangnya. Tapi tadi juga sudah terbuka." Reno lekas menghampiri Saras dan Laras.
Mereka serempak masuk ke dalam rumah, untuk mengecek kondisinya. Tapi tidak ada yang berantakan sama sekali.
"Kalau ada pencuri, pasti sudah ada barang yang hilang dan kondisi rumah berantakan. Ini semua masih tertata rapi, dan tidak ada satupun barang yang hilang. Lihat saja, mami bahkan lupa membawa ponsel, tapi masih ada di tempatnya," Saras menggaruk kepalanya sendiri.
"Berarti, mami yang lupa mengunci pintu dan papi yang lupa mengunci pintu gerbang," Laras tertawa ngakak.
"Aku ingat betul, sudah mengunci pintu rumah. Tapi kenapa bisa terbuka, apa mungkin rumah ini mendadak ada hantunya?" batin Saras.
"Aneh, Saras mengatakan telah mengunci pintu rumah. Aku juga telah mengunci pintu gerbang, sama sekali aku nggak lupa. Ah, bodo amat! yang terpenting tidak ada barang yang hilang," gumamnya masa bodoh.
__ADS_1
Laras juga tak curiga sama sekali jika amplop coklat yang berisikan sertifikat perusahaan telah di ambil kembali oleh Tara.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah dua bulan berlalu. Sementara urusan perceraian Laras dan Tara sudah selesai. Itu semua berkat bantuan pengacara Intan yakni Pak Imron.
"Aku sudah resmi bercerai dari Laras, tapi aku malas jika menikah resmi dengan Tia. Karena sebenarnya, dia aku butuhkan di kala aku bosan dengan Laras," batin Tara di sela bersantai di teras rumah.
"Mas Tara, bagaimana urusan perceraianmu dengan istri sahmu?" tiba-tiba Tia datang dan langsung bertanya.
"Memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu?" Tara malah balik bertanya.
"Bukannya kamu telah berjanji padaku, akan menikahiku secara resmi? makanya aku bertanya," Tia menjatuhkan pantatnya di kursi samping Tara.
"Nanti kalau sudah beres pasti aku memberitahumu." Tara beranjak bangkit dan pergi begitu saja.
Dia melangkah ke garasi untuk mengambil mobil, dan segera melajukannya.
__ADS_1
"Heran, kenapa Mas Tara malah selalu menghindar dariku jika aku mendekatinya." Tia bangkit dari duduk melangkah masuk ke dalam rumah.
Dalam langkahnya sesekali dia menghela napas panjang.