
Tara sangat tunduk dan patuh pada, Monalisa. Tidak seperti pada saat dengan istri yang, selalu saja dia yang mengatur.
"Kamu nggak bisa di percaya, ya? masih saja ingin mendekati mantanmu, mas. Kurang apa diriku padamu, sehingga kamu tak bisa setia dengan satu wanita saja." Monalisa mendengus kesal.
Beberapa hari kemudian, acara ulang tahun Marsya akan diadakan. Rumah sudah di dekorasi sedemikian rupa, undangan untuk para balita di sekitarnya juga telah di bagi.
Katring dan kue, semua sudah siap. Satu persatu balita dari komplek rumah mulai berdatangan. Tapi raut wajah, Tara sama sekali tak ceria. Dia ingat selalu wajah mantan istrinya.
"Penampilannya sekarang sangat berubah drastis, seperti belum pernah punya anak saja. Bodynya masih saja seperti saat pertama kali bertemu denganku."
"Ya Allah, kenapa aku kok seperti ini? dia sudah bukan istriku lagi, tapi aku masih memikirkannya?"
Kegelisahan dan ketermenungan, Tara. Bisa di lihat oleh Monalisa.
"Mas Tara, kamu kenapa sih? sudah banyak tamu malah bengong, jangan bikin malu aku, dong," bisik Monalisa lirih.
Sejenak, Tara terhenyak kaget dari lamunannya setelah mendengar bisikan dari Monalisa. Dia berusaha tersenyum walaupun hatinya masih saja terpaut ada wajah, Tiara.
Sementara nan jauh di sana, Tiara malah khawatir sejak bertemu dengan, Tara. Dia takut jika Dita kelak di ambil olehnya.
"Tia, kamu kenapa segelisah itu? sejak kamu mengecek toko kue yang ada di kota J, raut wajahmu seperti khawatir," tegur Bu Ita.
"Bu, tak sengaja aku bertemu dengan Mas Tara. Kebetulan dia datang ke toko kueku, kata karyawanku dia dan istrinya yang sekarang membeli kue ulang tahun untuk anak mereka," tukas Tiara.
"Lantas apa yang membuatmu gusar?"
"Mas Tara, sempat menelpon saat aku dalam perjalanan pulang kemari, bu. Dia minta bertemu denganku dengan alasan ingin mengetahui lebih banyak tentang, Dita," Tiara menghela napas panjang.
"Lantas kamu akan menemuinya?"
"Tidaklah, bu. Aku tak ingin terbelenggu lagi olehnya, apa lagi dari gaya bicaranya padaku agak menggoda dengan memanggilku sayang. Padahal kita kan sudah tak ada ikatan pernikahan," tukas Tiara.
"Aku hanya takut dia akan mencari keberadaanku, bu," Tiara memijit pelipisnya yang agak pening.
__ADS_1
Selagi bercengkrama dengan ibunya, tiba-tiba ponsel berdering.
"Ada telpon, nak. Coba di angkat barangkali penting."
"Tapi nomor tak di kenal, bu. Apa mungkin nomer ponsel, Mas Tara ya? padahal sudah aku blokir nomor ponsel dia, bu." Tiara hanya memandangi ponselnya yang terus saja berbunyi.
"Sudah di angkat saja, siapa tahu dari pelanggan baru di toko kuemu," pinta Bu Ita menyarankan.
Akhirnya, Tiara pun mengangkat panggilan telpon tersebut walaupun agak sedikit ragu.
π±"Asalamu alaikum, maaf ini dengan siapa?"
π±"Ini aku, Mona. Tolong ya, jaga sikapmu jangan mengusik keharmonisan rumah tanggaku. Apa kamu belum rela jika, Mas Tara lebih memilihku?"
π±"Hey, kalau ngomong yang sopan ya? siapa yang mengusik siapa, aku bahkan tak tahu nomor ponsel suamimu. Dia dulu yang menelponku, jadi jangan asal menuduh seenaknya."
Tiara merasa kesal dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Monalisa lewat panggilan telponnya. Dia lantas mematikannya begitu saja dan langsung memblokir nomor ponsel, Monalisa.
"Siapa sih, nak? kok kamu begitu marahnya?"
"Sabar, nak. Makanya kamu lekas mencari pendamping, jika Tara tahu kamu masih sendiri dia akan beranggapan kamu masih mencintainya."
"Dan jika kamu masih sendiri, istrinya juga akan selalu cemburu. Dan akan selalu beranggapan kamu atau suaminya akan rujuk."
Bu Ita memberi saran pada Tiara supaya lekas mencari pendamping hidup.
"Bu, tapi aku sudah nyaman hidup seperti ini. Tanpa ada suami pun aku masih bisa menafkahi anakku dan ibu. Jadi aku tak perlu menikah lagi, bu," tukas Tiara.
"Nak, kamu masih muda. Jalan hidupmu masih panjang, tidak baik jika selamanya kamu menyandang statu janda. Bukalah pintu hatimu untuk pria lain yang saat ini sedang mendekatimu, nak," saran Bu Ita.
"Apa maksud ucapan, ibu?" Tiara menautkan alisnya.
"Nak, pilihlah satu diantara Toro atau Toni yang menurutmu baik dan bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk, Dita," terus saja Bu Ita membujuk Tiara untuk mencari pendamping hidup.
__ADS_1
"Bu, baik Mas Toro maupun Mas Toni. Keduanya hanya teman biasa bagiku, tidak ada yang spesial sama sekali. Aku juga sama sekali tak merasakan ada getaran cinta di hatiku baik untuk, Mas Toro maupun Mas Toni," tukas Tiara.
"Setidaknya bukalah hatimu untuk seseorang, jangan hanya memikirkan pekerjaan saja."
Tiara tak menanggapi yang di katakan oleh ibunya. Dia hanya diam saja dan berlalu masuk ke dalam kamar.
"Aku nggak ingin ada masalah baru, lebih baik aku tutup toko kuenya dan aku pindahkan saja ke kota ini," gerutunya dalam hati.
"Lebih baik aku yang menjauh karena aku yakin, Mas Tara ada maksud lain setelah bertemu denganku. Di lihat dari cara dia menelponku," batin Tiara.
Tiara mulai mengatur semuanya, mencari tempat yang strategis untuk mendirikan toko kue. Dia mulai mencari informasi dari para relasinya.
"Alhamdulilah, aku menemukan juga tempat yang strategis untuk mendirikan toko kuenya. Nggak apa-apalah, jika toko kue yang di kota J aku pindah ke kota Y yang dekat dengan toko kueku yang lain." Tiara tersenyum lebar usahanya berhasil dengan cepat.
"Aku akan memerintah salah satu orang kepercayaanku untuk mengurus perpindahan toko kue yang ada di kota J berpindah di kota Y."
"Kini aku tinggal memikirkan apakah aku akan menerima kerja sama yang di tawarkan oleh, Mas Toro."
"Terima kasih ya, Allah. Atas segala nikmat yang Kau berikan padaku. Sehingga aku bisa menafkahi ibu dan anakku walaupun tanpa ada seorang suami di sampingku."
Sedari tadi, Tiara terus saja menggerutu sendiri memikirkan banyak hal yang harus di kerjakannya.
Dia sangat bersemangat dalam mengelola beberapa toko kuenya. Dia tak pernah mengeluh apa lagi berputus asa. Selalu saja berusaha tanpa ada kata lelah apa lagi menyerah.
Dia bisa melewati fase dimana dia sangat terpuruk saat di talak oleh, Tara. Hanya seorang diri tanpa bantuan siapa pun, dia mampu berdiri tegak.
"Ya Allah, hamba sangat bersyukur mempunyai anak seperti, Tiara. Dia mampu bangkit dari keterpurukannya, hingga kini menjadi seorang wanita yang mandiri dan sukses."
"Hanya satu harapanku, semoga kelak Allah mengirimkan seorang pria yang benar-benar bisa menjadi suami yang setia dan tanggung jawab."
"Aku nggak ingin jika selamanya anakku hidup menjanda ya, Allah."
Sepenggal doa Bu Ita di sela menunaikan sholat asharnya.
__ADS_1
*******