Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kado Pernikahan Dari Keano


__ADS_3

Sementara saat ini Intan sudah berada di rumah Keano yang mewah melebihi apartement Intan. Beberapa pekerja dari sopir pribadi, tukang kebun dan beberapa asisten rumah tangga, semuanya berbaris di teras untuk menyambut kedatangan Intan sebagai nyonya rumah yang baru.


Semua mengaanggukkan kepala dan tersenyum saat kedatangan Intan. Kevin mulai memperkenalkan satu persatu karyawan yang ada di rumah tersebut.


"Pikirku Mas Keano nggak sekaya ini. Ternyata rumahnya bak istana raja. Ya ampun, apa aku bisa hapal dengan nama-nama semua pelayan yang ada di rumah ini?"


"Tukang masak sendiri, tukang cuci baju sendiri, seterika sendiri, bersih-bersih rumah sendiri ada dua orang, tukang kebun sendiri, sopir dua, lah ini sudah di siapin baby sitter segala."


"Waduh, Mas Keano. Seberapa uang tiap bulannya yang dia keluarkam untuk membayar pelayan di rumah?"


"Belum pelayan di toko ponselnya, perkebunan tehnya juga. Ih, kok aku jadi mikir gaji mereka semua?"


Dari tadi Intan melamun sampai tak sadar berkali-kali namanya di panggil oleh Keano. Intan baru tersentak kaget saat Keano menepuk bahunya.


"Astaghfiruloh alazdim. Mas Keano, buat aku kaget saja," Intan mengusap dadanya seraya menghela napas panjang.


"Intan, kenapa melamun?" Keano mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, mas." Intan tersipu malu seraya menutupi rasa gugupnya.


Keano mengajak Intan masuk ke dalam rumahnya, sementara Adam berada di strollernya sedang tidur nyenyak.


Semua pelayan telah kembali berkutat dengan tugas-tugas mereka.


Intan, Kevin, dan Keano duduk di ruang tamu.


"Intan, aku ingin memberikan sesuatu padamu sebagai hadiah pernikahan kita. Tunggu sebentar ya." Keano membuka tas nya dan mengambil amplop coklat berisikan sertifikat perusahaan expedisi.


"Ini untukmu sebagai kado pernikahanku untukmu." Keano memberikan amplop coklat tersebut pada Intan.


"Bukalah, supaya kamu mengetahui isinya apa?" pinta Keano tersenyum.


Intan merogoh isi amplop tersebut. Saat melihatnya dia terperangah.


"Mas Keano, darimana bisa mendapatkan ini?" Intan mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Aku membeli perusahaan yang seharusnya menjadi milikmu dari istri barunya, Tara yang bernama Tiara," kata Keano singkat.


"Kamu tak usah memikirkan hal itu lagi. Aku mendapatkan dari jalan lurus kok, nggak mencuri. Kamu bisa kan meminta tolong pada pengacara pribadimu untuk merubahnya kembali mengatas namakan sertifikatnya menjadi namamu lagi?" Keano bertanya merasa kurang yakin.


"Bisa, mas. Terima kasih ya, mas. Aku nggak menyangka perusahaan expedisi yang aku bangun dari nol dan sedang berkembang pesat telah kembali padaku," mata Intan berkaca-kaca.


"Mah, jangan menangis dong. Oh ya, mah. Aku belum mengucap selamat untuk mamah dan papah."


"Selamat ya mah-pah, semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah waromah. Langgeng dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian."


"Mah, terima kasih telah melengkapi kebahagiaanku. Kini aku punya orang tua utuh. Punya mamah yang sangat aku dambakan dari dulu."


Tak sungkan Keano memeluk Intan dan berkali-kali mencium tangan Intan.


"Eh, sudah. Masa nyiumnya lama amat." Keano menampik tangan Kevin yang sedang memegang tangan Intan.


"Widih, masa sama anak sendiri cemburu? papah lupa ya, tanpaku papah tidak akan bisa mendapatkan, Mamah Intan," Kevin mengerucutkan bibirnya melirik sinis pada Keano.

__ADS_1


"Sudah, nak. Nggak usah ngambek terus, lihat itu bibir monyong sampai lima senti jelek banget," Intan menghibur Kevin seraya terkekeh.


******


__ADS_2