
Saat itu juga, dua aparat polisi menyambangi ruko yang saat ini telah menjadi milik, Rindy.
"Bos, ada polisi. Bagaimana ini, bos?" bisik Rina mulai panik.
"Bersikap santai saja, jangan terlihat panik atau pun gelisah. Supaya mereka tidak mencurigai kita," bisik Rindy pada Rina.
"Selamat siang, nyonya. Bisa kami minta waktunya sebentar?" salah satu aparat polisi menghampiri Rindy cs.
"Bisa, pak. Mari silahkan masuk," Rindy mengajak dua aparat polisi melangkah ke ruang tamu.
"Begini, nyonya. Kami hanya ingin bertanya sejenak. Dimana posisi anda pada saat yang punya rumah ini mengalami kejadian tragis?" salah satu aparat polisi menatap tajam pada Rindy cs.
"Maaf, pak. Kejadian tragis apa ya, kami malah sama sekali tak mengetahuinya," Rindy pura-pura bertanya.
"Tuan Reno mengalami korban penusukan dan perampokan."
"Ya Allah, kami sama sekali tidak mengetahui akan hal ini," Rindy pura-pura bersimpatik.
"Kalau boleh tahu, bagaimana kondisi Tuan Reno saat ini?" sengaja Rindy tanya akan hal itu.
__ADS_1
"Saat ini kondisinya telah membaik, tinggal masa pemulihan saja."
"Syukur alhamdulilah, kenapa kami di interogasi? sepertinya bapak mencurigai kami? apa tidak ada pihak yang di curigai selain kami?" tukas Rindy ketus.
"Mohon maaf, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas kami menyelidiki semua orang yang ada di sekitar, Tuan Reno. Bukan hanya anda saja," celoteh salah satu aparat polisi untuk menutupi rasa curiga pada Rindy.
"Pak, kami ini baru mengenal, Tuan Reno dan anaknya gara-gara kami membeli ruko mereka. Kenapa kami juga menjadi salah satu tarjed penyelidikan dari aparat polisi?"
"Seharusnya orang-orang yang telah kenal lama dengan, Tuan Reno yang pantas di curigai dan di selidiki."
Dengan beraninya Rindy berkata demikian pada aparat polisi yang telah menyelidikinya saat ini.
Seperginya aparat polisi, Rindy merasa kesal mendengar berita tentang Reno.
"Aku pikir, Mas Reno bakalan mati. Kok bisa, dia baik-baik saja padahal pisau itu menancap di perut?" batin Rindy.
"Aku harus melakukan cara lagi supaya benar-benar bisa menyingkirkan, Mas Reno. Padahal aku sudah bersiap akan melakukan rencana B, yakni menghancurkan, Intan."
"Dengan begini aku harus menundanya dulu. Aku akan memastikan, Mas Reno benar-benar tersingkirkan."
__ADS_1
"Aku harus mencari tahu dimana saat ini, Mas Reno di rawat. Dan aku akan beraksi untuk melenyapkannya."
"Jika kondisi, Mas Reno telah pulih. Aku akan lebih sulit untuk melenyapkannya. Harus saat ini juga aku beraksi."
Rindy masih saja belum puas telah membuat celaka, Reno. Dia akan terus beraksi sampai Reno benar-benar mati di tangannya.
Kebencian dan dendam membara masih saja menghinggapi di hati Rindy. Dia sama sekali tak jera, walaupun telah di curigai oleh para polisi.
"Bos, bagaimana kalau polisi tahu jika kita yang telah melakukan penusukan?" Rani panik.
"Jika kalian tutup mulut, polisi tidak akan mengetahuinya sama sekali," tukas Rindy.
"Kami jelas tutup mulut, bos. Kami juga nggak ingin masuk penjara untuk yang kedua kalinya,"tukas Rina.
"Ya sudah, kalian jangan terus membahas hal ini. Bisa membuat curiga banyak orang, kalau bisa lupakan hal ini," pinta Rindy.
"Baiklah, bos. Kami akan mengikuti saran dari, bos," tukas Rina.
*******
__ADS_1