
Berjalannys waktu begitu cepatnya, sudah seminggu, Saras berada di sel sementara, dan kini saatnya dia menjalani persidangan untuk menentukan masa hukumannya.
"Reno, Intan, Keano, Laras hadir dalam persidangan. Sementara Risky di titipkan bersama Bu Mita dan Bapak Yogi.
Saat persidangsn berlangsung, tidak ada satupun yang berani bersuara. Semuanya fokus mendengarkan segala yang di katakan oleh jaksa dan hakim.
Awal mula hakim bertanya pada Saras tentang segala kejahatan yang di lakukannya. Saras mengakuinya dan bahkan berkata telah menyesalinya.
"Pak Hakim, saya mengakui segala kejahatan yang saya lakukan pada, Intan. Saya sangat menyesal, dan bersedia membayar denda dengan menyerahkan semua harta yang saya punya untuk ganti rugi."
"Tapi saya mohon, Pak Hakim jangan penjarakan saya. Saya janji tidak akan melakukan kejahatan lagi, asalkan saya di beri kesempatan untuk hidup di luar sana."
Setelah panjang lebar, Saras berkata banyak hal. Kini Reno, Laras, dan Intan di persilahan bersaksi. Di sini, Intan sebagai korban.
Setelah melihat, menimbang, dan menindak lanjuti. Setelsh mendengar langsung dari para saksi dan dari pengakuan pelaku. Hakim telah memutuskan, Saras di hukum sepuluh tahun penjara.
__ADS_1
Mendadak tubuh Saras lemas dan dia pingsan saat mendengar hukumannya sepuluh tahun penjara. Dia sangat shock di buatnya.
Tubuh Saras di angkst oleh beberapa petugas yang ada di pengadilan, di bawanya ke ruang kesehatan, untuk di cek sekalian kesehatannya.
Saras di nyatakan sehat, dia sama sekali tak memiliki riwayat penyakit, hanya karena begitu kagetnya mendengar masa hukumannya.
Saras di kililingi oleh Laras, Reno, Intan, dan Keano. Saat dia sadar menangis histeris memohon pada Intan supaya membebaskannya.
"Saras, sudah berapa kali aku katakan. Aku tak berkuasa apa pun, di sini yang berkuasa adalah hukum. Makanya kalau akan bertindak di pikirkan dulu sebab dan akibatnya. Jadi tidak seperti ini."
Saras tak berkata lagi saat mendengar penuturan dari Intan. Kini dia hanya bisa pasrah menjalani mada hukuman sepuluh tahun.
Tapi tidak ada satu pun yang merasa iba padanya, baik itu Reno maupun Laras.
"Ya Allah, jadi waktu itu, Mami Saras hanya ingin menghasut aku supaya benci pada, ibu. Dengan mengatakan jika, ibu pernah menikah dengan, Mas Tara."
__ADS_1
"Tapi kenapa rasa ini kok masih saja penasaran dan mengganjal di hati ya? apa sebaiknya aku selidiki saja?"
"Tapi bagaimana caranya aku menyelidikinya? sedang tidak ada bukti sama sekali. Ah, kenapa aku jadi memikirkan hal ini?"
"Seharusnya aku tak mendegarkan apa yang di katakan, mami waktu itu. Hanya menambah beban pikiranku saja."
Terus saja, Laras menggerutu memikirkan apa yang di ucapkan oleh Saras tentang pernikahan Tara dan Intan.
"Aneh, mengapa, mami bisa menghasutku dengan mengatakan, Mas Tara pernah menikah dengan, ibu?"
"Astagfuruloh alazdim, kenapa pula aku terus saja memikirkan hal ini? seharusnya aku tak menghiraukan hal ini."
Kegelisahan, Laras mengundang tanya bagi, Reno.
"Nak, sepertinya ada hal yang mengganggu pikiranmu? coba ceritakan pada, papi?" tanya Reno menautkan alisnya.
__ADS_1
Laras pun menceritakan pada Reno tentang apa yang membuatnya gelisah
********