
"Kenapa Intan nggak mau mengangkat setiap panggilan telpon dariku? pasti saat ini dia sudah melahirkan,"batin Tara.
"Aku harus mencari tahu keberadaan Intan, mungkin saja usahaku kali ini akan berhasil. Karena saat ini pasti ini membutuhkanku karena pasti sebentar lagi dia melahirkan, atau sudah lahir untuk meng azani anakku." Tara melangkah menuju ke garasi mobilnya.
Dia segera melajukan mobilnya menuju ke beberapa restoran milik Intan. Saat Tara telah pergi, Laras tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia lekas pergi dari rumah itu dengan membawa serta Risky.
Enam jam perjalanan, barulah Laras sampai di rumah orang tuanya. Kebetulan Reno sedang ada di rumah, sementara Saras sedang pergi bersama teman-teman arisannya.
"Asalamu alaikum, papi." Laras langsung memeluk Reno yang sedang duduk di teras halaman.
"Walaikum salam wr wb. Nak, kamu kemana saja? masa berbulan-bulan nggak ada kabarnya? nomor ponselmu nggak aktif pula," Reno mengernyitkan alisnya.
Laras menceritakan semuanya pada Reno, dari mulai ponselnya hilang sampai pindah luar kota nggak boleh pulang sama sekali. Dan cerita pula kebohongan yang di lakukan Tara padanya.
"Kurang ajar! terakhir Tara mengatakan ingin membantu mempertemukanmu dengan ibumu. Kenapa dia berbohong padamu, dengan membayar bibinya supaya berperan menjadi ibumu?" Reno merasa ada yang janggal dengan kelakuan Tara.
"Entahlah, pi. Makanya aku emosi, aku minggat kemari. Aku paling nggak suka di bohongi, apa lagi sampai berbulan-bulan lamanya!" Laras mendengus kesal.
"Ya sudah, kamu tenang saja. Papi saat ini sudah tahu keberadaan ibu kandungmu. Besok kita menjenguknya, kebetulan dia habis melahirkan. Tapi jangan sampai Mami Saras tahu, nanti gagal lagi rencananya," Reno tersenyum seraya mengusap surai hitam Laras.
"Melahirkan? memangnya ibu sudah bersuami lagi, pi?" tanya Laras mengernyitkan alisnya.
"Iya, sudah. Tapi papi sampai detik ini belum pernah ketemu dengan suami ibumu," Reno menghela napas panjang.
"Sudah, jangan membahas ibumu lagi. Karena sebentar lagi Mami Saras pulang, nanti dia marah-marah," pinta Reno.
"Baik, pi. Tapi bagaimana besok caranya supaya kita bisa pergi tanpa sepengetahuan Mami Saras?" Laras mengernyitkan alisnya.
"Sudah nggak usah khawatir, sekarang kamu istirahat saja." Perintah Reno pada anaknya.
"Baik, pi. Terima kasih." Laras melangkah ke kamarnya yang ada di rumah Reno.
__ADS_1
Kebetulan Risky tidur, hingga Laraspun ikut tidur.
Setelah mendengar semua cerita dari Laras tentang kelakuan Tara, Reno menjadi sangat geram dan dia ingin memberi pelajaran pada Tara, jika nanti dia bertemu dengannya.
"Dasar pria licik, teganya membohongi anakku. Awas saja kalau bertemu pasti aku hajar habis-habisan!" gerutu Reno geram seraya mengepalkan tinjunya.
"Mas, kamu sedang kesal dengan siapa? kok ngomel sendiri?" tiba-tiba Saras datang.
"Kesal sama Tara, dia pindah ke luar kota bersama Laras secara diam-diam. Dan melarang Laras untuk memberi tahu kita, serta melarangnya berkunjung kemari. Bahkan ponsel Laras hilang, paling juga akal-akalan dia supaya tidak bisa menghubungi kita. Intinya supaya Laras putus hubungan dengan kita," panjang lebar Reno bercerita.
Dia sengaja tidak bercerita tentang Intan palsu idenya Tara. Khawatir Saras naik darah saat mendengar tentang Intan.
"Kamu tahu semua itu dari siapa, mas?" tanya Saras mengernyitkan alisnya.
"Laras pulang, sekarang dia sedang tidur. Bahkan dia cerita kalau Tara sudah tidak bekerja di kantoran lagi. Sekarang Tara cuma kerja sebagai buruh serabutan," jawab Reno sekenanya.
"Dari awal aku sudah tidak setuju dengannya, karena tampangnya sudah terlihat yakni pembohong. Cuma pada saat itu Laras sudah terlanjur hamil, jadi mau bagaimana lagi? terpaksa merestuinya. Kini sudah terbukti kan, apa yang aku ucapkan?" Saras mencibir Reno.
"Aku perlu menyelidiki tentang ini. Apa alasan Tara membohongi Laras dengan membayar bibinya berperan sebagai Intan?" batin Reno penasaran.
Di lain tempat, Tara sedang kesal karena sudah berkali-kali ke tiga restoran milik Intan tapi tak bertemu juga. Dia akhirnya memutuskan pulang.
Namun sesampainya di rumah, dia juga bertambah kesal tak mendapati adanya Laras maupun Risky.
"Sayang, kamu dimana? aku pulang nech?" Tara mencari-cari Laras ke semua ruangan yang ada di rumahnya.
Namun tak ditemuinya, dia hanya menemukan secarik kertas di meja rias di kamar yakni bertuliskan" suami pembohong!"
"Apa maksud tulisan Laras ini? dengan mengatakan aku suami pembohong?" gerutu Tara mendengus kesal seraya meremas kertasnya dan melemparnya begitu saja.
Tara mencoba menelpon Laras namun nomor ponsel sedang tidak aktif.
__ADS_1
"Sial, kenapa nomor ponsel Laras nggak aktif juga!" Tara melempar ponselnya ke pembaringan.
Dia lantas membaringkan badannya, seraya menatap langit-langit kamar. Dan perlahan matanya mulai terpejam.
Di rumah Reno, Laras telah terjaga dari tidurnya gara-gara Risky terbangun. Tak berapa lama Saras masuk ke dalam kamar.
"Hallo cucu oma yang ganteng, lama sekali baru ketemu. Oma kangen sekali padamu." Saras langsung saja menggendong Risky membawanya ke luar dari kamar.
Saras meraih ponselnya dan mengaktifkannya, sejenak dia melihat banyak sekali panggilan telpon dari Tara. Juga notifikasi chat pesan yang hampir puluhan.
"Balas nggak ya?" batin Laras seraya menggaruk kepalanya.
Akhirnya Laras membalas notifikasi chat pesan dari Tara. Dia mengatakan dengan jujur telah mengetahui kebohongan Tara yakni membayar bibinya untuk menyampar menjadi ibu kandungnya.
Laras juga berkata jujur jika saat ini sedang berada di rumah Reno. Dia ingin menenangkan diri untuk sementara waktu. Setelah membalas beberapa notifikasi chat pesan dari Tara, dia lekas bangkit dari pembaringan dan melangkah ke ruang tengah berkumpul dengan orang tuanya.
Sementara saat ini di rumah Tara, dia juga terbangun saat ponselnya berbunyi. Dia lekas membuka notifikasi chat pesan dari Laras.
"Ternyata, Laras telah mengetahui jika bibi bukan ibu kandungnya. Hancur sudah rencanaku ini, hancur semua." Tara emosi, dia mendengus kesal.
"Aku harus beralasan apa pada Laras, tentang kebohonganku ini?" Tara bertanya sendiri di dalam hati.
Dia sudah tidak bisa lagi memberi alasan yang tepat pada Laras. Dia tak membalas pertanyaan Laras di notifikasi chat pesannya.
"Aahhh, ibu dan anak sama saja! bikin kepalaku ingin meledak saja! pusingggggggg," Tara memukuli kepalanya sendiri berkali-kali.
"Lelah aku dengan semua ini, tapi aku nggak ingin melepas keduanya. Intan, kenapa kamu nggak memberi kabar padaku!" Tara mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak berapa lama, ponsel Tara berdering yang ternyata dari Intan. Tersungginglah senyuman di bibir Tara.
**********
__ADS_1