
Tia telah mempunyai rencana, akan menjual rumah pemberian Tara dan menjual perusahaan dimana saat ini Tara bekerja.
Secepat kilat Tia memesan taxi on line tiga, karena begitu banyak barang yang di bawanya. Tia juga membawa sepasang asisten rumah tangganya turut serta ke luar kota.
Saat itu juga, Tia membuang nomor ponselnya supaya Tara tak bisa menghubunginya. Tia juga menon aktifkan akun sosial medianya.
Segala yang berhubungan dengan Tara, dia buang jauh-jauh.
Lima jam berlalu..
Kini Tia, Bu Ita, Dita, dan sepasang asisten rumah tangganya telah sampai di sebuah villa, tapi tak cukup luas.
Tia hanya menyewanya, untuk sementara waktu. Dia akan membeli villa yang luas dan mobil. Kebetulan uang pemberian dari Tara lumayan banyak.
"Apa sebaiknya aku mengembalikan sertifikat perusahaan yang seharusnya milik, Bu Intan ini padanya? tapi aku sama sekali tak mengetahui rumahnya. Ah lebih baik aku jual saja, supaya Mas Tara tak bisa lagi bekerja di perusahaan tersebut," batin Tia.
__ADS_1
Setelah memikirkan sendiri apa yang harus di lakukan, Tia memutuskan menjual rumah pemberian Tara juga perusahaan expedisinya.
Kebetulan Tia mempunyai banyak kenalan sehingga tak perlu waktu lama dia sudah bisa menjual perusahaan expedisi dan rumah mewahnya yang ada di perumahan elite.
"Alhamdulilah, cepat juga ada yang minat rumah dan perusahaan expedisi. Besok aku akan menemui orangnya untuk mengambil uangnya," batin Tia.
Dia mencoba tegar, walaupun sebenarnya di dalam hatinya rapuh. Akan tetapi dia berusaha kuat demi anaknya yang masih sangat kecil.
Waktu berjalsn begitu cepat, tak terasa telah pagi. Tia menitipkan ibu dan anaknya pada sepasang suami istri yang bekerja padanya.
"Bibi, Mamang. Aku akan pergi sebentar, titip ibu dan anakku. Kalian nggak usah khawatir, sebentar lagi kita akan pindah di rumah yang lebih besar. Di sini hanya untuk sementara waktu saja, dan ini ada sedikit rejeki buat kalian yang sudah setia menemaniku sampai detik ini," Tia memberikan uang dua lembar ratusan ribu pada keduanya.
"Nyonya, nggak usah khawatir. Kami akan menjaga Bu Ita dan De Dita sebaik mungkin."
Demikian sepasang suami istri berpesan pada Tia. Sebenarnya dari awal perselingkuhan Tara dan Mona, mereka telah mengetahuinya. Akan tetapi tak berani mengadu pada Tia.
__ADS_1
Karena Mona begitu licik, dia mengancam akan membuat suami istri ini di pecat jika mengadu. Sedangkan mereka memiliki orang tua dan anak di kampung yang membutuhkan banyak uang.
Seperginya Tia, suami istri ini sejenak bercengkrama.
"Kasihan juga ya, bu. Majikan kita yang harus mengalami hal seperti ini?"
"Iya, pak. Bapak yang setia ya? jangan seperti, Tuan Tara. Menclok sana sini sama perempuan."
"So pasti, bu. Selama ini bapak kan selalu ada di samping, ibu. Apa pernah kita berjauhan? nggak kan? dimana pun ibu kerja, pasti ada bapak."
"Alhamdulilah, harta tidak bisa menjadi tolak ukur suatu rumah tangga tetap harmonis ya, pak."
"Makanya itu, bu. Kita harus selalu bersyukur, walaupun kita cuma babu tapi rumah tangga kita harmonis."
Setelah bercengkrama sejenak, mereka kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sementara Tia masih dalam perjalanan menemui orang yang akan membeli perusahaan expedisi dan rumahnya.
__ADS_1
Karena yang membeli berdomosili di kota yang sebelumnya Tia tinggal, makanya perjalanan lumayan lama.
*******