Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Rasa Bosan Tara


__ADS_3

Sore menjelang, waktunya Tara pulang ke rumah. Dia merasa suntuk dengan kehidupannya. Sampai detik ini, Tia masih di sibukkan dengan ibunya yang belum juga sadarkan diri.


"Kenapa aku merasa bosan dengan kehidupanku ini? nggak ada sesuatu yang baru yang membuatku semangat menjalani hidupku," gerutu Tara di sela mengemudinya.


Tak berapa lama, Tara telah sampai di rumah di sambut senyuman manis Mona yang sedang menggendong baby Dita.


"Mas, kenapa murung sekali? apa ada masalah di kantor?" tanya Mona seraya mengernyitkan alisnya.


"Urusan kantor baik-baik saja, tidak ada masalah apapun. Hanya aku sedang merasa bosan dengan kehidupanku ini." Tara melempar tas kerjanya di sofa seraya dirinya menjatuhkan pantatnya di sofa dengan menyenderkan badannya di punggung sofa.


"Memangnya kamu bosan kenapa, mas? apa nggak sebaiknya kita berdua berlibur, mungkin saja bisa menghilangkan rasa penat dan lelahmu itu," saran Mona.


"Bagaimana mau berlibur, Tia saja sibuk di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan Dita? masa dia di ajak berlibur juga?" Tara menghela napas panjang seraya memijat pelipisnya.


"Iya juga sih, memang sangat membingungkan," Mona menghela napas panjang.

__ADS_1


Tak berapa lama, pulanglah Tia dengan wajah sumringah dengan mengembangkan senyum yang lebar di bibirnya.


"Mas, kamu baru pulang ya?" Tia mencium tangan suaminya.


Sejenak Tia melirik Mona yang duduk di samping Tara.


"Mona, kenapa kamu ada disini? sejak kapan kamu duduk di samping suamiku?" tegur Tia menatap sinis pada Mona.


"Maaf, Nyonya. Tadi Tuan Tara ingin menggendong Dita sebentar, makanya saya menghampirinya," ucap Mona untuk menutupi rasa gugupnya.


Mona lekas bangkit dari duduknya, dia melangkah pergi begitu saja. Dia membawa Dita ke kamarnya dengan penuh rasa kesal pada Tia.


Sementara Tia bercerita panjang lebar tentang perkembangan kesehatan ibunya sambil melepaskan sepatu dan kaos kaki yang di kenakan oleh Tara.


"Alhamdulilah, mas. Ibu sudah sadar, walaupun belum bisa berbicara dan belum sepenuhnya pulih. Tapi ibu sudah bisa merespon apa yang aku katakan," ucap Tia menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, berarti kamu sudah bisa merawat ibumu di rumah kan?" Tara menatap tajam Tia.


"Iya, mas. Aku juga ingin merawat Dita. Karena selama ini Dita selalu bersama Mona. Aku juga ingin mengurusmu, maafkan aku yang telah lama mengabaikanmu gara-gara terlalu sibuk di rumah sakit," ucap Tia mengusap pipi Tara.


Mona sempat melihat perlakuan Tia tersebut, dia merasa cemburu. Tak sengaja Tara juga bisa melihat Mona sedang memonyongkan bibirnya.


"Mona sudah benar-benar jatuh cinta padaku, tapi entah kenapa aku malah sudah bosan padanya dan juga pada Tia," gerutu Tara dalam hati.


"Saat ini yang ada di otakku cuma Cantika saja, tidak ada wanita yang lain. Bahkan aku sudah bisa move on dari Intan dan Laras," gerutu Tara kembali di dalam hati.


"Mas, kamu kok murung? apa kamu nggak senang mendengar kabar baik yang aku sampaika barusan padamu?" Tia menepuk lengan Tara yang sedang melamun.


Tara terhenyak kaget saat lengannya di tepuk oleh Tia.


"Ada apa?" tanya Tara tak fokus dengan apa yang di katakan oleh Tia.

__ADS_1


"Kamu melamun ya, mas? pantas saja dari tadi aku berbicara, kamu nggak meresponku sama sekali," Tia mengerucutkan bibirnya.


*******


__ADS_2