
Pagi menjelang, Intan di sibukkan dengan persiapan untuk syukuran pemberian nama anaknya.
"Bu, aku akan ke pasar sebentar untuk membeli semua bahan untuk syukuran Adam." Intan mencium punggung tangan Bu Mita.
Dia segera melangkah menuju ke mobilnya, dan melajukannya ke pasar terdekat. Hanya beberapa menit saja, Intan telah sampai di pasar. Dia lekas memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam pasar.
Intan lekas memilih semua bahan makan mentah untuk membuat syukuran pemberian nama anaknya.
"Mba, sedang mencari apa saja? ke kiosku saja yuk, harga bersahabat dan komplit pula," bisik seseorang yang tak lain adalah Atin.
Intan tanpa ragu mengikuti Atin ke kiosnya. Di kios Atin, Intan memilih semua bahan yang di butuhkan. Sesekali bercanda ria dengan Atin. Mereka baru bertemu tapi sudah sangat akrab, bahkan tak sungkan untuk bertukar nomor ponsel.
Setelah cukup lama berkutat di kios Atin, Intan berpamitan pada Atin dan juga pada bapaknya Atin.
Seperginya Intan, Yogi baru berani berkata.
"Nak, apakah tadi temanmu?" tanya Yogi penasaran.
"Bukan, pak. Baru saja aku kenal dia, memangnya kenapa, pak?" Atin mengernyitkan alisnya menatap heran pada Yogi.
"Pikirku kalian sudah bersahabst sejak la, karena bapak perhatikan kalia itu terlihat sangat akrab dan tak canggung satu sama lain," ucap Yogi.
"Aku benar-benar baru kenal kok, pak. Aku juga nggak tahu kenapa langsung akrab dengannya," kembali lagi Atin berkata.
"Semoga persahabatan kalian langgeng ya?" Yogi mendoakan.
"Amin, iya pak."
Atin berkutat lagi sibuk menjual semua sayuran di pasar tersebut. Kios milik Atin dan Yogi sudah sangat terkenal akan harganya yang murah dan kualitas sayurannya tidak bisa di ragukan lagi.
Banyak yang sudah menjadi langganan kios sayuran mereka. Selagi asik melayani para pembeli, ponsel Atin berdering yakni dari seorang teman baiknya yang tertanya adalah Keano.
Sesaat mereka bicara sejenak di dalam sambungan telpon. Dimana Keano ingin meminta tolong padanya. Namun Keano tidak memberitahu terlebih dulu, pertolongan apa yang ingin di harapkan olehnya. Dia hanya mengajak bertemu langsung nanti sore.
Atin menyanggupinya, karena kebetulan kios sayuran milik Atin dan bapaknya selalu laris sehingga tidak sampai sore dalam berjualan. Atin juga telah bercerita pada Yogi jika nanti sore dia akan bertemu dengan Keano.
__ADS_1
Persahabatan yang terjalin antara Keano dan Atin sudah cukup lama. Dari istri Keano masih hidup. Karena awalnya yang bersahabat adalah Atin dengan istri Keano.
Tak terasa sore menjelang, saat ini Keano dan Atin sedang bercengkrama di sebuah cafe langganan mereka. Belum juga Keano berkata, Atin telah berkata terlebih dulu.
"Heh, bro. Tadi saat aku menjaga kios sayuran ada kembaran almarhumah istrimu. Dia sangat mirip hampir aku tak mengenalinya. Bahkan aku sempat meminta nomor ponselnya."Atin menunjukkan nomor ponsel Intan pada Keano
Namun Keano tidak begitu fokus dengan nomor ponsel yang ditunjukkan oleh Atin. Dia malah memotong perkataan Atin dengan niatnya mengajak Atin bertemu dirinya.
"Tin, aku butuh banget bantuanmu. Bahkan aku rela membayarmu," Keano mengalihkan pembicaraanya.
"Sebegitu penting dan seriuskah, sehingga kamu rela membayarku?" Atin mengernyitkan alisnya.
"Iya, sangat penting malah." Jawab Keano singkat.
"Sepenting apakah itu?" tanya Atin kembali.
Keano meminta Atin menjebak Tara, supaya Tara bangkrut dan perusahaanya bisa menjadi milik Intan kembali.
"Aku ingin kamu menjebak seseorang dan buatlah orang itu jatuh cinta padamu. Dan sebisa mungkin sampai istrinya tahu, supaya istrinya itu membenci dia dan minta pisah," ucap Keano menjelaskan.
Kemudian Keano menceritakan semua tentang Intan dan Laras serta Tara. Dia bercerita panjang lebar tanpa ada yang di tutupinya. Karena Keano percaya dengan Atin, dia tidak akan membuka semua rahasia Keano.
Setelah mendengar semua cerita dari Keano, Atin semakin bersemangat untuk membantu Keano menghancurkan Tara.
"Wah, kurang ajar sekali itu orang. Ibu dan anak di embatnya sekaligus! harusnya di kebiri saja sampai habis itu burungnya!" Atin ikut geram pada Tara.
Perkataan Atin membuat Keano tertawa ngakak memegangi perut, membuat Atin heran dengan tingkah Keano.
"Heh, kenapa kamu malah tertawa? memangnya apa yang aku katakan lucu?" Atin mengerucutkan bibirnya.
"Hhheeee, luar biasa lucunya," kembali lagi Keano terkekeh.
"Hem, berarti aku ada bakat jadi pelawak dong," Atin ikut terkekeh.
"Eh, memangnya pria itu ganteng banget? kok bisa memperistri ibu dan anak sekaligus?" Atin mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Ini fotonya." Keano menunjukkan foto Tara pada Atin.
Sejenak Atin melihat foto yang ada di ponsel Keano. Lalu dia mencibirnya.
"Jelek, jika dibandingkan denganmu kalah jauh. Menang kamu banyak, dia muka pasaran tapi kok bisa meluluhkan hati ibu dan anak ya?" Atin merasa heran.
"Kamu bersedia kan, bantu aku. Aku akan membayarmu mahal," kembali lagi Keano memastikan kesediaan dari Atin.
"Baiklah, aku bersedia demi sahabat tergantengku ini," Atin mengedipkan matanya.
"Hati-hati, nanti matanya keseleo. Nggak ada tukang urut mata," Keano terkekeh.
Atin memukuli bahu Keano hingga dia mengaduh kesakitan dan memohon ampun supaya Atin menghentikan aksi pemukulannya.
Setelah sejenak mereka bercanda, kini saatnya mereka melajutkan kembali pembicaraannya. Keano menyarankan Atin memakai identitas palsu, Dan Kebetulan Keano telah menyiapkan identitas palsu utuk Atin.
Atin sangat antusias membantu sahabat baiknya itu, dia bahkan berharap wanita yang di ceritakan mirip sekali almarhumah istrinya, kelak bisa menjadi jodoh Keano.
"Keano, siapa nama wanita yang mirip sekali almarhumah istrimu? apakah kamu memiliki fotonya? jangan-jangan orang yang kamu maksud adalah wanita yang baru saja aku kenal?" serentetan pertanyaan keluar dari bibir Atin.
"Namanya, Intan. Ini fotonya." Keano menunjukkan foto Intan pada Atin.
"Astaghfiruloh alazdim, dunia memang begitu sempit ya? ini wanita yang baru saja aku kenal yang tadi aku ceritakan padamu tapi sempat tidak kamu tanggapi," Atin menghela napas panjang.
"Hheee, maaf." Keano tersipu malu.
"Memangnya dia ke kiosmu membeli apa?" tanya Keano penasaran.
"Katanya sore ini mau syukuran kecil-kecilan untuk memberi nama anaknya," jawab Atin sekenanya.
"Astsghfiruloh alazdim, padahal aku telah berjanji akan datang ke acara syukuran tersebut. Ya sudah dulu ya, semoga saja masih ada waktu. Dan aku sampai ke sana nggak telat." Keano beranjak bangkit dari duduknya dan berlari kecil ke arah mobilnya sama sekali tak menghiraukan Atin.
"Huh, cinta memang buta. Hingga aku pun di cuekin begitu saja." Atin menggelengkan kepalanya seraya bangkit dari duduknya.
Dia melangkah ke parkiran motor maticbya dan melajukannya arah jalan pulang. Begitu pula dengam Keano melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke apartement Intan.
__ADS_1
********