
Sesampainya di rumah, Bu Mita sudah menunggunya di teras halaman. Untuk mengatakan semua hal pada Intan.
"Bu, kok di luar?" Intan menyalaminya.
"Ibu sengaja menunggu kepulanganmu, karena ada sesuatu yang ingin ibu katakan padamu," Bu Mita menatap serius pada Intan.
Intan menjatuhkan pantatnya di sofa samping Bu Mita, seraya mengerutkan alis.
"Nak, kamu tak perlu lagi menutupi semuanya karena ibu sudah tahu. Ibu minta jika kamu sudah melahirkan lebih baik berpisah saja dengan Tara. Dia bukan pria atau suami yang baik, tapi dia suami bermuka dua yang hidupnya penuh dengan kebohongan."
"Ibu nggak tega denganmu, nak. Tiap hari harus menahan rasa sakit hati setia tahu suamimu sedang berada di rumah sahnya. Ibu juga nggak mau kamu terus di manfaatkan olehnya."
Nasehat demi nasehat Bu Mita lontarkan untuk Intan, karena dia juga ikut merasakan sakit melihat anaknya setiap hari harus di bohongi oleh Tara.
"Kok ibu tahu, kalau Tara punya istri sah? padahal aku sengaja menyembunyikan semuanya dari ibu, karena aku nggak mau ibu ikut memikirkannya hingga sakit. Aku juga nggak ingin terus bertahan, bu. Jika aku sedang tidak hamil, pasti aku sudah pergi jauh dari kehidupan Tara." Panjang lebar Intan menjelaskan.
"Ibu punya usul, nak. Bagaimana kalau kita pindah saja, tapi tanpa sepengetahuan Tara. Ibu mengkhawatirkan satu hal. Dia akan mengambil anakmu jika kamu berpisah darinya, seperti yang dulu kamu alami. Ibu sangat paham, jika Tara tidak ingin berpisah darimu karena dia ingin hidup enak selamanya. Ibu khawatir kelak kelahiran anakmu akan di jadikan alat supaya kalian tetap bersama," penjelasan panjang lebar Bu Mita.
"Bu, kenapa kita selalu sepemikiran? aku sempat berpikir seperti itu, mengajak ibu pindah pada saat aku baru tahu kalau aku hamil. Dan aku tahu Tara membohongiku. Tapi pada saat itu, aku enggan melakukannya karena pasti ibu bertanya-tanya," Intan menggenggam erat jemari ibunya.
"Aku sudah lelah, bu. Terlalu banyak kebohongan yang di lakukan oleh Tara padaku. Dan hari ini dia melakukan hal yang sangat fatal. Bukan hanya membuat gaduh di restoran dengan menuduhku selingkuh. Sampai tega mengatakan jika anak yang aku kandung ini hasil dari perselingkuhanku. Lebih parah lagi, dia menipuku mengatakan anakku telah meninggal, ternyata selama ini aku ziarah pada makam kosong." Curhatan Intan panjang lebar.
"Astaghfiruloh alazdim, jahat sekali Tara. Ya sudah, lebih baik kita pindah saja. Bukannya kamu punya satu apartement di luar kota?" Bu Mita memberi saran.
"Ada dua apartement, bu. Satu di kota B, dan satu di kota Y. Apartement yang sengaja aku beli, jika suatu waktu kita ke kota tersebut, untuk tempat persinggahan." Intan menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Apa Tara mengetahuinya?" Bu Mita mengernyitkan alis.
"Nggak bu, dia sama sekali tidak tahu jika aku punya apartement," jawab Intan sekenanya.
"Syukurlah, jika begitu. Ibu tidak akan protes kemanapun kita pindah. Entah itu ke kota Y maupun ke kota B, ibu tak akan protes," Bu Mita mengusap surai hitam Intan.
"Sekarang saja kita berkemas, bagaimana menurut ibu?" Intan meminta persetujuan ibunya.
"Apa kamu nggak cape, nak?" Bu Mita merasa ragu.
"Cape juga sih, bu. Ya sudah, besok saja kita pindah tapi jangan sampai Tara tahu kepindahan kita," Intan sangat antusias.
Intan bangkit dari duduknya, dia melangkah masuk menuju ke kamar untuk beristirahat.
Sementara, Bu Mita masih penasaran kenapa Tara membohongi Intan dengan membuat makam kosong untuk cucunya.
"Ah sudahlah, yang penting besok kita pergi menjauh dari Tara." Bu Mita bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Berbeda situasi di rumah Reno, dia terus saja memikirkan keberadaan Laras. Karena sejak saat itu hingga kini, baik Reno maupun Saras tidak tahu keberadaan Laras.
"Laras, kamu ada dimana nak? masa kamu sama sekali nggak mengubungi papi hingga berbulan-bulan lamanya?" Reno mondar-mandir memijit pelipisnya.
"Aku baru berpisah dengan Laras beberapa bulan saja seperti ini rasanya. Apalagi Intan yang mengandungnya, giliran lahir aku mengambilnya. Dia pasti juga merasakan apa yang kurasakan, malah sampai bertahun-tahun lamanya," Reno menghela napas panjang.
"Pi, kamu kenapa mondar-mandir saja gelisah seperti itu?" Saras menghampiri Reno.
__ADS_1
"Nggak usah pura-pura nggak tahu apa yang sedang menjadi kegelisahanku ini," jawab Reno ketus seraya melirik sinis pada Saras.
"Nggak usah terlalu di pikirkan, lagi pula Laras kan nggak sendiri tapi bersama suami dan anaknya. Pasti saat ini dia baik-baik saja, walaupun saat ini entah ada dimana," Saras mencoba menenangkan Reno.
"Memang jika ibu kandung dengan ibu sambung berbeda ya? jika ibu kandung pasti akan selalu memikirkan anaknya walaupun anaknya telah dewasa dan mandiri. Berbeda dengan ibu sambung, dia masa bodoh walaupun anaknya tidak ada kabar sudah beberapa bulan," sindir Reno melirik sinis pada Saras.
"Pi, kenapa sejak kamu bertemu kembali dengan Intan. Kita jadi sering bertengkar, kamu selalu membuat sesuatu yang tak semestinya bukan masalah, di buat menjadi permasalahan. Jadi setiap hari kamu mengajakku bertengkar," kata Saras dengan lantangnya.
"Jangan pernah sekalipun, kamu membawa-bawa nama Intan dalam setiap pertengkaran kita. Ini murni masalah kita, Intan tidak pernah mengganggu kita. Tapi aku yang selalu mengganggunya!" Reno mulai terbakar emosi.
"Nah kan, mulai keluar taring dan tanduknya." Saras berlalu pergi meninggalkan Reno.
Jika dia masih meladeni ucapan Reno, yang ada akan terjadi perang dunia tiga. Dan semua barang bisa menjadi korban lagi.
"Mending aku menyingkir, daripada semua barang habis karena menjadi korban kemarahan Mas Reno," gerutunya dalam hati seraya melangkah ke dapur.
"Kamu kira aku tidak memikirkan dimana saat ini Laras berada? jika hanya menggerutu di tempat, aku juga bisa. Tapi yang aku lakukan mencoba mencari informasi di luar," batin Saras.
Tanpa sepengetahuan Reno, hampir tiap hari Saras mencari tahu keberadaan Laraa dengan bertanya pada tetangga sekitar rumah Laras, pada ibu para teman Risky, juga pada teman-teman Laras. Namun tidak ada satupun yang mengetahuinya, hingga Saras lelah dan menghentikan pencariannya. Dia berpikir, pasti suatu saat Laras akan datang sendiri ke rumah.
Ternyata apa yang di rasakan Reni juga sedang di rasakan Laras. Dia jug sangat merindukan Reno. Namun Tara tidak mengijinka Laras menjenguk Reno.
Laraspun tak memiliki nomor ponsel orang tuanya.
"Kangen sekali sama, papi. Ingin kerumahnya tidak boleh, ingin telpon nggak punya nomornya." batin Laras terus saja menggerutu.
__ADS_1
********