
"Sudah-sudah, kalian nggak usah ribut. Saras, apa yang di katakan Laras itu benar. Seharusnya kita berdua minta maaf pada, Intan. Atas apa yang dulu pernah kita lakukan padanya. Bukannya malah kamu menghasut Laras untuk membencinya. Dia saja tak pernah menghasut Laras untuk membencimu, jika Intan sudah menghasut Laras, pasti Laras sudah membencimu saat ini. Dan tak mau tinggal bersamamu," panjang lebar Reno mencoba meluruskan kekeliruan Saras.
"Mas, kenapa kamu selalu membelanya? setelah apa yang dia lakukan padamu dan Laras dulu?" Saras sengaja memutar balikkan fakta supaya Laras membenci Intan.
"Astaghfiruloh alazdim, bagaimana caraku untuk merubah tabiat burukmu itu. Bagaimana aku akan tetap bertahan dengan wanita bagaikan ular sepertimu, Saras. Jika kamu tak berubah, dan selalu menghasut, Intan. Jangan pernah menyesal jika aku pergi dari hidupmu selamanya dan membawa serta Laras dan Risky. Apa kamu mau masa tuamu hidup kesepian?" Reno berkata lantang.
"Kamu mengancamku, mas? silahkan saja kalian pergi dari rumahku, aku yakin di luar sana kalian tidak akan bisa hidup. Dan akan kembali lagi kemari. Kamu lupa, mas? semua yang kamu dan Laras nikmati sepenuhnya milikku. Kamu kan tidak memiliki apapun," Saras mencemooh Reno.
"Baiklah, kalau itu maumu. Sekarang juga aku akan pergi membawa Laras dan Risky pergi dari rumah ini. Aku pastikan tidak akan kembali padamu. Dan aku ta....
"Papi, hentikan. Jangan sembarangan mengucap kata itu, nanti papi menyesal. Dulu papi sudah melakukan kesalahan pada, ibu dengan mengucap kata itu. Janganlah papi lakukan kesalahan yang sama pada, mami. Bagaimana pun, mami yang telah membesarkanku. Jika mami usir kita, ya sudah kita pergi saja, papi." Laras menggandeng tangan Reno masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Reno dan Laras mengemasi semua barang-barangnya untuk segera pergi meninggalkan rumah Saras.
Saras hanya tersenyum sinis, dia membiarkan saja Reno dan Laras akan pergi.
Hanya beberapa menit berkemas, Reno dan Laras pergi dari rumah Saras dengan membawa Risky.
"Ini kontak mobilmu." Reno memberikan kontak mobil beserta surat-surat mobil pada Saras.
"Mi, kami pamit ya? terima kasih atas segalanya, semoga mami bahagia selalu." Laras mencium punggung tangan Saras.
Laras telah memesan taxi on line, dan telah menunggu tepat di depan pintu gerbang rumah Saras.
__ADS_1
"Laras, kita akan kemana?" Reno mengernyitkan alisnya.
"Papi nggak usah khawatir, aku kan masih punya tabungan untuk kita sewa kontrakan dan untuk usaha, papi. Nanti kita berhenti di ATM terdekat untuk mengambil uangnya," bisik Laras pada Reno.
"Maafkan, papi." Kata singkat yang keluar dari mulut Reno.
"Untuk apa papi minta maaf, di sini tidak ada yang salah. Kehidupan kita sudah ada yang atur, mungkin ini salah satu jalan dari Allah. Sabar saja ya, pi. Pasti akan asa jalan untuk kita," Laras mencoba tersenyum di hadapan Reno.
Walaupun sebenarnya hati Laras sedikit sakit atas perlakuan Saras.
"Laras, apa nggak sebaiknya kamu tinggal dengan nenek dan kakek saja. Mereka kan cuma tinggal berdua saja. Karena ibumu tinggal bersama suaminya," saran Reno.
__ADS_1
"Gampang, papi. Kita laksanakan dulu rencana tadi, jangan merepotkan orang lain dulu," nasehat Laras pada Reno.
*****