Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Lahirnya Alesha


__ADS_3

Berjalannya waktu begitu cepatnya, di usia Adam dua tahun. Lahirlah adik, Adam seorang baby yang cantik di beri nama, Alesha yang berarti selalu dalam lindungan Allah dan beruntung.


"Asik, aku sekarang punya dua adik. Makasih ya, mamahku tersayang." Kevin mencium tangan, Intan.


Begitu pula hal yang sama di lakukan oleh, Keano. Bapak dan anak ini sangat bahagia dengan lahirnya, Baby Alesha.


Semua ikut merasakan kebahagiaan, mendengar kabar melahirkannya, Intan.


"Hallo dede Alesha. Yuk main sama Vino ," Atin mengajari anaknya yang berumur satu tahun untuk berkomunikasi dengan, Alesha.


Laras dan Reno juga menjenguk ke rumah sakit. Sampai detik ini, Reno masih hidup sendiri bahkan belum bisa melupakan, Intan. Dia masih saja sering merasa cemburu jika melihat, Intan sedang bersama, Keano.


"Seharusnya jika dulu aku tak pernah berbuat kesalahan, pasti saat ini aku dan Intan telah berbahagia dan memiliki banyak anak. Kenikmatan yang aku kejar hanya aku nikmati sesaat saja, kini aku sengsara oleh ulahku sendiri. Memang hukum tabur tuai selalu berlaku, apa yang dulu aku tabur atau tanam, itu pula yang aku tuai atau petik," batin Reno menyesali semua yang telah dia perbuat dulu.


Penyesalannya tak pernah berhenti, selalu dan selalu dia mengingat kesalahannya dulu, yang dia lakukan pada, Intan.


Walaupun, Intan telah memaafkannya dan telah menghapus semuanya. Tapi di hati, Reno masih saja merasa bersalah pada Intan.

__ADS_1


"Pi, kenapa diam saja? apa papi sakit, sebaiknya kita pulang saja," tegur Laras mengagetkan, Reno.


"Eh iya anu, Laras," mendadak, Reno seperti orang gagap berkata tak karuan.


"Pi, ayok kita pulang saja. Bu, pak, kami pulang dulu ya." Laras menyalami, Intan dan Keano.


Keduanya langsung ke luar dari ruang rawat, dimana Intan berada setelah pasca melahirkan.


"Sepertinya, Reno masih menyimpan rasa pada istriku. Aku harus waspada, jangan sampai dia merebut istriku," batin Keano.


Tanpa, Reno sadari. Saat dia terus saja menatap ke arah, Intan tak berkedip, Keano juga sempat memperhatikannya.


"Pi, sebenarnya papi kenapa? kok dari tadi diam saja?" kembali lagi, Laras bertanya karena merasa aneh melihat sikap, Reno.


"Laras, papi nggak apa-apa. Hanya kepala rada pening sedikit," ucapnya berbohong supaya, Laras tak bertanya lagi.


"Ya sudah, nanti sesampainya di rumah, papi minumlah obat kalau perlu aku kerikin ya," saran Laras.

__ADS_1


"Baiklah, nak."


Setelah sampai di rumah, Laras lekas memberikan obat sakit kepala untuk, Reno. Walaupun, Reno sebenarnya tak mengalami sakit kepala, dia terpaksa menerimanya.


Reno pun membiarkan anaknya mengerik punggungnya.


"Pi, kok di kerikin sama sekali nggak merah ya? seharusnya kalau memang benar-benar masuk angin pasti merah," Laras merasa ada yang janggal.


"Kan, papi sudah minum obat yang tadi kamu berikan. Jadi, papi sudah nggak pening lagi," ucapnya bohong.


"Masa secepat itu kasiatnya, pi."


Laras masih saja belum percaya.


"Aku yakin, jika papi sebenarnya tidak merasakan pening. Tapi dia sedang memikirkan sesuatu yang aku tak boleh mengetahuinya," batin Laras mulai curiga pada, Reno.


"Laras, papi akan tidur sejenak. Tolong bangunkan, papi satu jam lagi. Karena papi akan tetap buka bengkel walaupun agak sedikit siang," pinta Reno seraya melangkah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


******


__ADS_2