
Sementara di dalam perjalanan menuju ke rumah, Reno terus saja mengomel.
"Kapan kamu mau berubah, selalu saja membuatku malu di depan umum!" Reno melirik sinis pada Saras yang ada di sampingnya.
"Mas, mau sampai kapan kamu terus saja membelanya! bukannya kamu tahu jika aku sangat membenci, Intan. Tapi kamu selalu saja ingin mendekatinya jika bertemu dengannya. Kenapa sih, kamu nggak bisa menjaga perasaanku ini, mas," air mata mulai keluar membasahi pipi.
Reno hanya diam saja mendengar celotehan dari Saras, karena baginya akan percuma saja jika dia menanggapinya. Pastinya tak ada ujung pangkalnya, semakin berkelanjutan.
Tak berapa lama, sampailah Reno di halaman rumahnya. Dia tak langsung memarkirkan mobilnya di garasi, tapi di biarkan saja mobil di pelataran rumah.
Reno melangkah masuk tanpa menunggu Saras. Raut wajahnya murung tak ada guratan senyum sedikitpun. Kebetulan saat ini Laras sedang menemani Risky di sekolahnya, sehingga tak mengetahui pertengkaran antara Reno dan Saras.
Saras mencari keberadaan Reno, yang ternyata ada di kamarnya.
"Mas, aku mohon dengan sangat. Janganlah kamu mendekati Intan kembali. Demi keharmonisan rumah tangga kita," Saras duduk di pinggir pembaringan.
__ADS_1
Reno tak berkata apapun, dia malah bangkit dari pembaringan dan lekas berlalu pergi dari kamar tersebut. Reno melangkah ke halaman di mana terparkir mobilnya. Dia langsung melajukan mobilnya pergi begitu saja.
Saras bertambah emosi saat melihat kepergian Reno. Dia semakin bertambah benci padanya Intan, dan ingin memberi pelajaran padanya.
Dia telah merencanakan sesuatu kembali, segera menelpon tiga anak buahnya sekaligus.
"Aku sudah mengetahui dimana saja letak restoran milik, Intan. Ketiga restorannya akan aku hancurkan sekaligus. Supaya Intan tak memiliki apa-apa lagi," batin Saras menyeringai licik.
Saras telah memerintahkan ketiga anak buahnya untuk masing-masing membakar restoran milik, Intan. Tapi Saras menyarankan pada ke tiga anak buahnya untuk beraksi di tengah malam, supaya rencana berjalan dan tidak ada gangguan sama sekali.
"Hhaa, baru membayangkan saja aku sudah sebahagia ini. Apa lagi jika semua usahaku telah berhasil, pasti aku akan lebih bahagia kembali," batin Saras tertawa ngakak sendiri.
Selagi Saras tertawa sendiri, Laras telah pulang bersama dengan Reno dan Risky. Ternyata kepergian Reno hanya untuk menjemput Laras dan Risky dari sekolah.
"Pi, dengar nggak? sepertinya mami tertawa sendiri, atau sedang telponan dengan temannya?" Laras mempertajam pendengarannya supaya bisa mendengar lebih jelas, apakah Saras sedang telponan atau tidak.
__ADS_1
"Pi, sepertinya nggak sedang telponan loh," Laras mengernyitkan alisnya.
"Biar sajalah, mungkin ada sesuatu hal yang lucu hingga mami tertawa," Reno berlalu pergi mengajak Risky bermain di teras halaman.
Sementara Laras bisa menangkap jelas, raut wajah Reno yang murung.
"Sepertinya papi sedang ada masalah, wajahnya begitu murung. Tapi kok mami malah tertawa ngakak ya? berarti mereka sedang tidak berantem.
Tak berapa lama, Saras keluar dari kamarnya. Dia melangkah menuju teras halaman, akan tetapi dia bertemu dengan Laras di depan pintu kamarnya.
"Kamu sudah pulang? mana Risky?" Saras mengernyitkan alis.
"Di teras depan, mi. Sedang bermain bersama papi," jawab Laras singkat.
"Mi, tadi aku nggak sengaja mendengar mami tertawa ngakak. Apa mami sedang bahagia? tapi kok raut wajah papi, begitu murung?" Laras menatap menyelidik pada Saras.
__ADS_1
*******