Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Rasa Penasaran Yogi


__ADS_3

Bu Mita dan Intan menghampiri Atin. Dan Intan memberanikan diri bertanya.


"Atin, kenapa kamu terlihat sedih saat melihat ibuku?" tanya Intan mengernyitkan alisnya seraya mengusap bahu Atin.


Tiba-tiba Atin menangis tersedu-sedu, saat Antin bertanya padanya. Intan semakin tak mengerti dengan sikap Atin.


"Atin, aku minta maaf jika salah dalam berkata." Intan menangkupkan kedua tangannya.


Air mata Atin terus saja berderai membasahi pipi, dia tak bisa berkata apa-apa. Atin memberikan foto pengantin orang tuanya pada Intan.


"Bu, wajah ibu mirip dengan wanita yang ada di foto ini." Intan memberikan fotonya pada Bu Mira.


Bu Mita terhenyak kaget saat melihat foto tersebut. Diapun melelehkan buliran bening dari matanya. Intan semakin tak mengerti dengan semua ini.


"Bu, sebenarnya ada apa? aku jadi bingung? ibu menangis, Atin juga menangis?" Intan semakin penasaran.


"Nak, ini memang foto pernikahan ibu dan bapakmu. Berarti dia adalah kakak kandungmu, nak." Bu Mita langsung menyerahkan Adam pada Intan.


Bu Mita menghampiri Atin.


"Nak, benarkah kamu adalah Atin anak ibu dan bapak Yogi?" Bu Mita menatap sendu Atin seraya memegang kedua pipinya.


Mereka saling bertatapam dekat sekalo, saling berderai air mata.


"Sudah sekian lama aku mencari ibu, sampai aku merasa lelah dan ingin menyerah saja. Di saat aku menyerah, malah Allah mempertemukan kita." Atin tiba-tiba memeluk erat tubuh Atin.


Bu Mita membalas pelukan Atin dengan mengusap punggung Atin berkali-kali. Kini Intan sudah tidak penasaran lagi, dia ikut menangis karena terharu.


"Alhamdulilah, akhirnya kita bertemu bapak dan Mba Atin." Intan menghampiri Bu Mita dan Atin, satu tangan mengusap punggung Atin dan satu tangan lainnya mengusap punggung Bu Mita.


Kini mereka bertiga saling berpelukan, selagi asik mereka melepas kangen, munculah Laras. Dia menatap heran pada ke tiga wanita yang saling berpelukan dan saling menangis tersedu.


Nak, kemarilah. Ini bude kamu, dia bernama Bude Atin," Intan melambaikan tangan pada Laras untuk menghampiri Atin.


"Jadi ini anakmu, Intan?" tanya Atin mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Iya, mba. Ini namanya Laras." Intan memperkenalkan Laras pada Atin.


Laras dan Atin saling berpelukan. Walaupun Laras saat ini masih saja bingung dan belum juga paham.


Sejenak Intan meminta semuanya untuk duduk, supaya nyaman dalam bercengkrama.


Atin berkata panjang lebar, jika Bapak Yogi sangat menyesal atas kelakuannya di masa lalu. Bahkan Bapak Yogi selalu berusaha mencari keberadaan Bu Mita. Dan saat Ayin telah dewasa, dia juga ikut membantu Bapak Yogi untuk mencari Bu Mita.


Setelah mendengar penjelasan dari Atin, satu persatu yang ada di ruang tamu bergantian bertanya.


"Berarti sejak bapakmu pergi dulu, hingga kini masih sendiri? ibu pikir kalian telah punya keluarga baru?" Bu Mita masih kurang percaya.


"Memang iya, bu. Bapak pernah menikah saat aku masih kecil, kira-kira saat aku berumur lima tahun hingga aku berumur tujuh tahun. Namun ibu sambungku jahat padaku, tak pernah berlaku baik padaku. Hingga akhirnya bapak menceraikannya," ucap Atin panjang lebar.


"Mba, apa nggak sebaiknya tinggal di sini saja bersama kami?" Intan memberi suatu saran.


"Tapi bagaimana dengan, bapak?" Atin mengernyitkan alisnya.


"Sekalian saja, bapak ikut tinggal di sini," saran Intan.


"Bagaimana jika ibu dan bapak menikah ulang saja, supaya keluarga kita menjadi satu keluarga yang utuh?" saran Intan seraya menyunggingkan senyum dan menatap pada Bu Mita juga pada Atin.


"Nak, ibu sudah tua. Malu rasanya jika menikah lagi," Bu Mita tersipu malu.


"Bu, menurutku usul Intan benar. Lakukanlah demi aku dan Intan, bu. Aku ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, dan Intan pasti ingin merasakan kasih sayang seorang ayah," Atin mencoba membujuk Bu Mita


"Nak, walaupun ibu bersedia. Belum tentu dengan bapakmu," Bu Mita menghela napas panjang.


"Bapak biar menjadi urusanku, jadi ibu nggak usah khawatir. Intinya berarti jika bapak bersedia, ibu juga bersedia kan?" tanya Atin memastikan.


"Iya, nak." Bu Mita tersipu malu.


Kemudian mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Dari cerita masa kecil hingga masa dewasa. Karena rasa gembiranya, mereka tak sadar jika telah lama dalam bercengkrama.


Atin berpamitan pada semua yang ada di ruangan tersebut. Atin pulang dengan diantar oleh Intan.

__ADS_1


"Ternyata wanita yang telah di sakiti oleh Tara adalah adik dan keponakanku. Kali ini aku akan bersemangat untuk membalaskan dendam mereka berdua," batin Intan mendengus kesal.


Atin di antar pulang namun tidak ke rumah melainkan ke kios sayurannya yang ada di pasar. Atin dan Intan sengaja tak bercerita pada Yogi. Karena saat ini waktunya belum tepat.


"Intan, jangan bicara apapun dulu pada bapak karena saat ini dia sedang sibuk bekerja. Biar nanti sore saat santai di rumah, aku yang akan memberitahunya," Atin memperingati Intan.


"Baiklah, mbak. Aku pulang dulu ya, besok aku menunggu kabar baik darimu," Intan menyunggingkan senyum seraya melajukan kembali mobilnya menuju arah pulang.


Atin melanjutkan kembali membantu bapaknya di kios sayurannya. Hatinya sangat bahagia, telah berhasil bertemu dengan ibu dan adik kandungnya.


Rasa hati sudah tak sabar ingin segera bercerita pada bapaknya, namun dia harus bersabar menunggu sampai sore menjelang.


"Aku sudah tak sabar menunggu waktu sore, terasa lama sekali bagiku," batin Atin.


Senyumnya terus saja mengembang, keceriaan terpancar jelas di wajahnya. Bapak Yogi yang sesekali menatap pada Atin merasa sangat heran dan penasaran. Dia sempat berpikir, jika saat ini Atin sedang jatuh cinta.


"Atin, dari tadi bapak melihatmu sepertinya sangat bahagia? apakah kamu telah jatuh cinta dan telah memiliki seorang kekasih?" tanya Bapak Yogi mengernyitkan alisnya.


"Tebakan bapak benar sekali, aku memang sedang merasakan bahagia. Ini melebihi rasa jatuh cinta," kata Atin sumringah.


"Maksudnya? bapak kok jadi semakin penasaran padamu?" Bapak Yogi mengernyitkan keningnya.


"Kasih tahu nggak ya?" canda Atin menaik turunkan alisnya.


"Nanti saja ya, pak. Jika kita sudah sampai di rumah," ucap Atin seraya kembali melayani para pembeli sayuran.


Tiada hentinya Atin mengucapkan syukur di dalam hati, atas kebaikan Allah yang telah mempertemukan Atin dengan ibu dan adik kandungnya.


Sementara Bapak Yogi malah semakin penasaran pada Atin.


"Sebenarnya apa yang akan ceritakan dan apa yang sedang dia sembunyikan?" gerutu Yogi di dalam hati.


Waktu bergulir cepat sekali, tak terasa telah sore. Atin dan Bapak Yogi serta ke dua karyawannya sedang bersiap-siap akan pulang.


*******

__ADS_1


__ADS_2