Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Saras tak bisa berkata lagi, saat Reno terus saja menyindir dirinya. Sementara saat ini Tara sedang dalam perjalanan memjemput Intan di restorannya.


"Yah, lagi di jalan malah Laras memberitahu jika Rizky sudah boleh pulang. Biar saja Laras pulang dengan orang tuanya, sudah kepalang tanggung sebentar lagi sampai di restoran." Gerutu Tara seraya fokus melajukan mobilnya.


"Ternyata punya dua istri nggak segampang yang aku kira. Bahkan sudah berusaha adilpun, masih saja ada yang terluka. Cape juga sebentar kesini sebentar kesana," gerutu Tara kembali.


Tak berapa lama, Tara telah sampai di restoran Intan.


"Sayang, aku..


"Aku apa, minta maaf? sudah basi, atau mau alasan apa lagi?" Intan memotong pembicaraan.


"Bagaimana dengan orang yang telah mencemarkan nama baikmu?" Tara mengalihkan pembicaraan.


"Belum sempat aku melaporkannya ke kantor polisi, tiba-tiba perutku kram. Tadi aku dari rumah sakit lagi. Hubungi kamu susah sekali," Intan berkata lirih.

__ADS_1


"Makanya, harusnya tadi kamu minta aku menemanimu. Jadi nggak seperti ini," Kilah Tara sekenanya.


"Harusnya kamu sebagai suami yang siaga, nggak perlu di minta kamu sudah inisiatif sendiri untuk menemaniku. Bukan malah mencari kesempatan dalam kesempitan," Intan menyindir Tara secara langsung.


"Kamu nggak pantas punya dua istri, karena kamu nggak bisa bersikap adil. Kamu hanya menambah dosa saja dengan selalu menyakiti kedua istrimu secara tidak langsung," kembali lagi Intan menyindir.


"Sayang, kita pulang sekarang? atau mau aku temani kamu ke kantor polisi untuk melaporkan orang yang telah membuat restoranmu tutup?" Tara kembali lagi mengalihkan pembicaraan.


"Langsung pulang saja, aku ingin lekas istirahat di rumah. Kepalaku pening sekali, dari tadi menunggumu nggak juga datang," Intan melangkah ke mobil Tara.


Tapi terlebih dulu menemui asisten pribadinya untuk minta tolong mengantarkan mobilnya ke rumah, karena dia pulang dengan naik mobil Tara.


"Sayang, kamu pasti cape sekali kan?" Tara memijit kaki Intan, hingga dia tertidur pulas.


"Sayang, aku minta maaf. Karena aku tidak bisa memilih, kalian berdua sangat berharga buatku. Apalagi di rahimmu saat ini sedang tumbuh anakku," Tara mengusap perut Intan yang masih rata dan perlahan mencium perutnya.

__ADS_1


"Sehat selalu ya, nak. Jangan buat ibumu kerepotan, menurutlah." Kembali lagi Tara mencium perut Intan.


Sementara, Laras terus saja menghubungi Tara untuk segera datang ke rumah sakit dan pulang bersama ke rumah. Namun Tara membalas notifikasi chat pesan Laras dengan meminta supaya Laras pulang dengan orang tuanya.


πŸ“±"Mas, kamu sedang ada di mana?aku menunggu, kita sudah siap untuk pulang."


πŸ“±"Aku sedang ada keperluan mendadak, dan tak bisa pulang sekarang. Kamu pulang saja dulu bersama orang tuamu, mengenai biaya rumah sakit pake uangmu atau pinjam papi dulu, nanti kalau aku sudah pulang di ganti."


πŸ“±"Baiklah, mas."


Laras sudah tak mengirim notifikasi chat pesan lagi.


Sementara di rumah sakit, Laras merasa nggak enak jika meminjam uang orang tuanya. Tapi saat ini, dia hamya membawa uang ala kadarnya saja.


"Di mana suamimu, sudah akan kesini kan?" tanya Reno penasaran.

__ADS_1


"Dia sedang sibuk, pi. Kata nggak bisa datang, juga aku bingung, pi." Laras tertunduk lesu.


********


__ADS_2