Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Aneh


__ADS_3

Laras terus saja melamun, saat ini dia tinggal di sebuah rumah mewah, tidak di kontrakan lagi. Sejak rumah lama laku terjual, Tara menggunakan hasil penjualan rumahnya untuk membeli rumah kembali, bahkan lebih mewah.


Tara mengambil tabungannya untuk menambah pembayaran pada rumah barunya. Dia khawatir, kelak semua kartu di blok lagi oleh Intan.


Saat ini Intan belum mengetahui jika Tara menarik tunai uang di ATM dalam jumlah yang banyak. Karena Intan sedang sibuk dengan kehamilan dan beberapa restorannya yang semakin ramai.


Laras merasa kesepian tinggal di rumah mewah tanpa di ijinkan menjenguk orang tuanya. Bahkan saat ini Laras tinggal dengan wanita yang seumuran Intan.


Wanita yang masih saudara jauh Tara, yang di bayar olehnya untuk berpura-pura menjadi ibu kandung Laras. Bahkan wamitq ini juga bertugas menjaga Laras supaya tidak menjenguk Reno.


"Aku merasa ada yang aneh, kenapa setiap aku dekat dengan Bu Intan tidak merasakan getaran apapun? beda jika aku dekat dengan Bu Intan yang kenalanku itu, hatiku nyaman dan betah berlama-lama ada di sampingnya," gerutu Laras dalam hati.


"Nak, kamu kenapa melamun?" seorang wanita yang menyamar jadi Intan menghampiri Laras.


"Nggak apa-apa kok, bu. Lagi kangen sama papi," jawab Laras sekenanya.


"Nak, kamu baru beberapa bulan nggak ketemu papimu kangen. Padahal kamu saat ini bersama ibu, ibu lebih tersiksa karena harus berpisah denganmu dari kamu di lahirkan. Sepertinya kamu tidak bahagia bertemu ibu, apa lebih baik ibu menghilang saja untuk selamanya," Intan palsu pura-pura bersedih.


"Bu, bukan begitu maksud aku. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan ibu. Maaf, jika kata-kataku menyinggung hati ibu." Laras menggenggam tangan Intan palsu.


"Jika bukan karena aku butuh uang untuk pengobatan suamiku di kampung dan untuk biaya sekolah kedua anakku, aku takkan mau berpura-pura seperti ini. Kasihan Laras, sebenarnya aku nggak tega juga," batin Intan palsu.


Sedangkan Tara saat ini sibuk mencari keberadaan Intan. Setelah dia tahu Intan tidak ada di restoran yang telah dia buat gaduh, Tara mencarinya ke beberapa restoran Intan lainnya.

__ADS_1


"Intan pergi kemana, dirumah nggak ada, di tiga restorannya juga nggak ada. Apa di makam kosong itu ya." Tara melajukan mobilnya menuju ke makam kosong.


Hanya beberapa menit telah sampai di tempat pemakaman umum, Tara melangkah masuk ke pemakaman menuju ke makam kosong buatannya, namun tidak di temuinya Intan.


"Kok nggak ada ya? lebih baik aku pulang saja, tidur. Karena aku cape sekali dari kantor dan beberapa restoran Intan. Bolak balik mutar sana mutar sini sudah seperti obat nyamuk saja!" Tara melajukan mobilnya arah pulang.


Ketika sampai di rumah dan mendapati Intan sedang tertidur pulas, Tara menghela napas panjang. Namun tiba-tiba hasratnya datang saat melihat kaki mulus Intan.


Tara mengunci pintu kamarnya, dan dia berganti pakaiannya dengan pakaian santai. Dia ikut berbaring di samping Intan seraya mulai beraksi tangannya nakal menyusup pada daster yang dikenakan Intan.


Seketika Intan terbangun, dan menepis tangan Tara yang membuat Tara mengernyitkan alisnya.


"Sayang, kenapa? kok kamu jadi seperti ini, sudah lama loh kamu nggak melayaniku? dosa loh," Tara mencoba merayu Intan.


Namun Intan malah tambah marah karena kelakuan Tara.


Dia tidak peduli dengan apa yang telah di katakan Tara. Rasa cintanya pada Tara sudah hilang, sejak Tara membohongi Intan berkali-kali. Apa lagi Tara tak mau menceraikan Laras seperti yang di minta oleh Intan.


"Sayang, sudah berbulan-bulan lamanya dari kamu mengetahui aku punya istri lain. Sejak saat itu juga, kamu tidak pernah bersedia melayaniku. Padahal statusmu masih istriku walaupun cuma istri siri. Padahal itu kewajibanmu loh," Tara mencoba membujuk Intan.


"Kamu juga tak memberi kewajibanmu sebagai seorang suami. Apa selama kamu menikahiku, memberikan materi buatku? selama ini aku mencari uang sendiri, bahkan malah secara tidak langsunng aku juga menafkahi istri sahmu."Intan berkata ketus.


Sejenak Tara terdiam mendengar perkataan dari Intan. Dia sedang berpikir, ucapan apa yang tepat untuk membalas perkataan kasar dari Intan.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mulai perhitungan dengan suamimu sendiri?" Tara malah bertanya.


"Sejak aku tahu kamu punya istri lain, aku juga masih berbaik hati membiarkan bekerja di kantorku. Jika tidak kamu pasti kebingungan menafkahi Laras dan Risky, iya kan?" jawab Intan mencibir.


"Semakin lama kamu semakin sombong saja, kamu pikir aku nggak bisa cari pekerjaan lain!" Tara mulai terbakar emosi.


"Buktikan! jangan cuma omong doang, dan jangan pernah kamu mengemis meminta bekerja lagi di kantor expedisi milikkku, dan jangan protes jika semua kartumu aku bekukan!" ancam Intan tersenyum sinis.


Tara tak bisa berkata apa-apa, jika dia berdebat dengan Intan dia tidak pernah menang. Namun jika dia berdebat dengan Laras, dia selalu menang, Laras selalu meminta maaf walaupun tidak salah. Dan selalu membujuk Tara supaya berhenti marah.


"Sialan, aku selalu saja seperti sebuah kutu yang mati oleh Intan. Dia pintar sekali berkata dan aku selalu tidak bisa membalas apa yang telah dia katakan," batin Tara.


"Kenapa diam, pasti kamu akan memohon seperti biasanya, supaya aku tidak melakukan apa yang aku mau. Iya kan? tapi sepertinya kali ini tidak ada maaf untukmu. Apa lagi kamu telah membodohiku lagi, dengan kamu membuat makam kosong." Intan berkata lantang.


"Makan kosong bagaimana, itu benar-benar makam anakmu si Laras. Sayang, sadarlah jika anakmu telah meninggal. Terimalah kenyataan ini." Tara meraih tangan Intan namun dia menepis tangan Tara.


"Sudahlah, percuma aku bicara dengan pria yang suka menimbun kebohongan." Intan menghela napas panjang seraya melangkah pergi begitu saja.


"Bagaimana dia tahu, kalau makam itu kosong. Pasti tukang gali kubur itu yang telah memberi tahu Intan. Karena hanya mereka berdua yang tahu, padahal aku sudah membayar mahal mereka supaya tutup mulut," gerutu Tara di dalam hati.


"Aneh, ibu dan anak tapi kok sifat sangat jauh berbeda. Susah aku meluluhkan hati Intan, coba waktu itu aku tidak tertangkap basah sedang bersama Laras. Pasti saat ini Intan masih bersikap manis padaku. Padahal aku sangat menginginkan itu dari Intan," gerutunya kembali dalam hati.


Intan sudah berencana, akan kembali mendepak Tara dari kantornya. Dan membekekukan semua kartu berbayarnya.

__ADS_1


"Lihatlah saja, kamu sudah berkata sendiri jika akan mencari kerja di tempat lain jika aku melarangmu kerja di kantorku. Aku ingin lihat seberapa hebatnya kamu jika tanpa aku," batin Intan mendengus kesal.


********


__ADS_2