
"Aduh, gara-gara Rizky terbangun sehingga aku belum mengucapkan terima kasih sama sekali." Gerutunya seraya menggendong Rizky.
Sementara Bu Mita kembali ke ruangan di mana saat ini Intan di rawat. Dia masih memikirkan Laras, dan merasa iba padanya.
"Ibu darimana, kok lama sekali?" tanya Intan mengernyitkan alis.
Bu Mita lekas menceritakan semuanya pada Intan, tentang pertemuannya dengan Laras. Setelah itu Intan bertanya pada Bu Mita siapa nama wanita dan balita yang tadi di temui oleh Bu Mita.
"Bu, siapa nama wanita itu?" tanya Intan penasaran.
"Aduh, ibu lupa tanya padanya. Nanti kalau ibu besuk dia lagi." Bu Mita menepuk jidatnya.
Sementara Tara iseng membuka ponselnya, dan begitu banyak notifikasi pesan serta panggilan telpon dari Laras. Diam-diam Tara membaca semua chat pesan dari Laras.
"Ya Allah, apa yang sedang di bicarakan ibu mertuaku adalah Laras dan Rizky? bagaimana kalau suatu saat nanti Laras mengetahui aku sedang ada di sini, sedangkan Rizky juga di rawat di rumah sakit ini juga." Batin Tara gelisah.
"Aku sudah janji akan selalu bersama Intan, bagaimana aku ijin keluar untuk menjaga Rizky?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa Tara begitu gelisah saat membuka ponselnya, pasti pesan dari Laras." Intan menatap curiga pada Tara.
"Hhhmm anu, itu sayang. Aku pulang sebentar ya, karena gerah ingin mandi sebentar. Bu, titip Intan sebentar." Tara lekas pergi begitu saja.
Padahal baik Bu Mita maupun Intan sama sekali belum menjawab ucapan darinya.
"Hem, seperti ada yang di sembunyikan oleh Tara.
Tara berlari kecil mencari ruang rawat Rizky.
"Bagaimana kondisi, Rizky?" Tara langsung masuk ruang rawat.
"Aku minta maaf, tadi kan ada urusan mendadak dengan klienku. Makanya ponsel aku matikan, begitu urusan selesai aku baru berani buka ponsel," ucapnya berbohong.
Laras menceritakan pada Tara bagaimana Rizky bisa sakit hingga akhirnya harus di opname satu hari.
"Mas, aku lupa bertanya. Waktu aku kemari membawa Rizky, aku sempat melihar lelaki mirip kamu. Tapi saat aku ingin memastikan itu kamu atau bukan, aku bingung karena Rizky nggak bisa di tinggal." Ucap Laras menatap Tara seolah mencari jawaban dari mata Tara.
__ADS_1
"Di dunia ini kan banyak sekali yang mirip-mirip, jadi kamu nggak usah heran." Ucap Tara.
"Sebenarnya tadi aku ingin mengecek kebenarannya, saat ada ibu tua menolongku." Laras berkata.
Laras menceritakan semuanya pada Tara, bagaimana dia bertemu dengan Bu Mitan. Dan Bu Mita menolongnya.
"Berarti yang sempat kemari tadi adalah mertuaku, nggak salah lagi," batin Tara.
"Bagaimana supaya aku nggak ketahuan saat berada di sini, aku khawatir ibu melihatku," batin Tara sangat gelisah.
Selagi asik melamun, Laras mengagetkannya dengan tepukan tangannya.
"Mas, aku mau pulang sebentar untuk mengambil pakaian dan perlengkapan Rizky. Karena dia harus rawat inap satu hari. Sementara saat akan kemari aku sama sekali belum menyiapkan apapun karena terburu-buru." Ucap Laras menatap sendu Tara.
"Pergilah, kalau bisa jangan terlalu lama di rumah," pesan Tara.
Laras melangkah keluar ruang rawat Rizky, dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Dan saat matanya menoleh ke kiri ke ruang rawat pasien, dia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Loh, bukannya itu Ibu Intan?" gerutunya