
Tara bingung harus berkata apa pada mami mertuanya. Karena ini berhubungan dengan Intan.
"Tara, kenapa kamu malah bengong? apa kamu mencoba mempertemukan Laras dengan ibu kandungnya?" Saras terus saja memojokkan Tara.
"Tidak kok, mi. Justru aku menasehati Laras supaya tidak terus mengingat ibu kandungnya yang jahat itu. Aku membohongi dia dengan membayar orang supaya berperan menjadu ibu kandung Laras. Maksud dan tujuanku ya seperti itu, mami." Akhirnya Tara berkata jujur.
"Jadi selama ini, kamu masih ingin bertemu ibu kandungmu? Apa kamu sudah tidak menyayangi mami lagi?" Saras menatap sendu wajah Laras.
"Maka dari itu, mami. Aku membawa Laras ke luar kota, karena aku khawatir di sini akan bertemu dengan ibu kandungnya yang jahat itu," mulailah Tara berperan menjadi pembela Saras.
"Mas, kamu ini bicara apa? waktu itu mem..
Belum juga Laras selesai berkata, Tara telah menyela perkataannya.
"Laras, apa kamu nggak kasihan sama mamimu yang telah bersusah payah merawatmu hingga kamu besar?"
"Tolong maafkan aku, bukan berniat jahat padamu. Tapi aku ingin selalu melihat hubunganmu dengan orang tuamu selalu harmonis."
Laras semakin tidak mengerti dengan ucapan Tara. Dia merasa heran kenapa perkataannya berubah-rubah. Waktu itu membela papinya, sekarang membela maminya.
Saras juga merasa heran pula pada Tara.
"Tumben nech menantu yang biasa ajak perang, malah membelaku? sepertinya ada udang di balik batu," batin Saras.
"Heh, Tara. Kamu sedang tidak mimpi kan? tumben kamu membelaku, sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?" tiba-tiba Saras bertanya seraya menatap menyelidik pada Tara.
"Mi, ini bukan masalah bela membela. Tapi jika Laras terus saja memikirkan ibu kandungnya, pasti dia menjadi tidak fokus dalam merawat Risky," kata Tara sekenanya.
"Hem, jawaban yang bagus. Ada benarnya juga yang di katakan Tara," batin Saras.
Setelah cukup lama mereka bersi tegang, datanglah Reno dengan menggendong Risky.
"Ini di urus dulu anakmu, rewel dia." Reno menyerahkan Risky pada Laras.
"Sini, pi. Biar Risky bersamaku saja," Tara meminta paksa Risky yang baru saja akan diberikan pada Laras.
Tara menggendong Risky membawanya masuk dalam mobilnya.
__ADS_1
"Mas, mau di bawa kemana?" Laras berlari kecil mengejar Tara.
"Mau aku bawa pulang, yuk buruan kamu naik mobil." Pinta Tara di balik kemudinya.
"Pi, bagaimana ini?" Laras menatap Reno meminta persetujuan.
"Pi, kita kan berniat akan ketemu Ibu Intan?" bisik Laras pada Reno.
Renon langsung berlari ke mobil Tara di ikuti oleh Laras.
"Buka pintunya, aku ingin berbicara padamu. Turunlah dulu," pinta Reno menatap sinis pada Tara.
"Bicara apa lagi, pi? paling mau melarangku membawa pulang anak dan istriku kan," Tara tersenyum sinis.
"Kalau ingin bertindak, befikirlah secara jernih. Misalkan kamu membawa pulang Risky tanpa adanya Laras, dia pasti rewel dan kamu juga terganggu nggak bosa bekerja. Tapi kalau kamu nggak percaya dan ingin mencoba ya silahkan saja," ucap Reno panjang lebar.
Sejenak Tara terdiam,seperti sedang mencerna semua yang telah di katakan oleh Reno.
"Iy juga sih, kalau aku pulang hanya dengan Risky, paling dia rewel dan susah di atur," batin Tara.
Akhirnya Tara memutuskan keluar dari mobil dan mengembalikan Risky pada Laras.
"Iya, tapi tidak untuk hari ini. Aku masih ingin tinggal bersama orang tuaku untuk beberapa hari. Karena aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka, aku masih kangen," ucap Laras seraya membawa masuk Risky.
"Sialan, aku pikir Laras akan bersedia pulag saat ini juga," gerutu Tara dalam hati seraya menghela napas panjang.
"Ya sudah, aku ijinkan. Tapi hanya untuk beberapa hari saja, ingat kamu sekarang punya keluarga sendiri yang harus kamu perhatikan," kata Tara ketus.
"Aku tahu kok, tapi bukan berarti aku harus melupakan keberadaan orang tuaku. Adanya aku hidup dan besar sampai sekarang karena jasa orang tua. Apa karena aku sudah berkeluarga, jadi melupakan orang tuaku? itu sama sekali tidak benar dan salah," kata Laras panjang lebar.
"Sialan, kenapa sekarang Laras sudah mirip sekali Intan ya? bisa memjawab setia apa yang aku katakan," batin Tara kesal.
Akhirnya Tara kalah, dan dia pulang dengan tangan hampa. Dia sangat kecewa karena gagal membujuk Laras pulang. Selama dalam perjalanan pulang, dia terus saja menggerutu sendiri di dalam mobil seraya mengemudikan.
Lain halnya Laras dan Reno, merek tersenyum dan saling pandan.
"Sip, nanti kita atur waktu yang tepat supaya bisa ke rumah ibu kandungmu tanpa sepengetahuan mami," bisik Reno sumringah.
__ADS_1
"Kalian ngomongin apa, sampai bisik-bisik segala," Saras merasa curiga menghampiri Reno dan Laras.
"Yang jelas bukan ngomongin kamu kok, jadi nggak usah khawatir." Reno berlalu dari hadapan Saras dan Laras.
"Papi tadi ngomong apa waktu berbisik?" Saras masih saja penasaran.
"Ngomongin Mas Tara, mi." Laraspun berlalu dari hadapan Saras.
"Bapak sama anak nggak ada bedanya, keduanya sama saja," Saras mengerucutkan bibirnya.
Sementara Tara terus saja menggerutu, karena tidak berhasil membujuk Laras untuk pulang. Namun dia masih bisa tersenyum karena akan mendapatkan perusahaan besar yang pastinya pendapatan perharinya juga besar.
"Biarlah berpisah dengan ibunya, yang terpenting masih sama anaknya. Dan aku nggak perlu kerja serabutan kembali." Gerutunya seraya fokus melajukan mobilnya.
Sementara saat ini Intan telah sampai di rumah, dia sudah bisa bernapas lega.
"Nak, bagaimana? apakah Tara mempersulitmu?" Bu Mita merasa penasaran sehinga langsung menghampiri Intan saat Intan baru saja pulang.
"Alhamdulilah, bu. Berhasil mendapatkan tanda tangannya, walaupun aku harus berkorban perusahaanku untuknya." Jawab Intan seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Awalnya Tara mempersulitnya, dia nggak bersedia menandatangani berkas-berkasnya. Namun saat aku tawarkan perusahaan expedisiku, dia langsung sumringah setuju menndatanganinya," kata Intan kembali.
"Ya sudah, ikhlaskan saja. Harta bisa di cari, tapi kesetiaan susah di dapatkan. Kelak pasti kamu akan punya perusahaan yang lebih besar dan lebih berkembang," Bu Mita mencoba menghibur Intan.
"Iya, bu. Memang aku yang menawarkannya, bukan dia yang meminta. Karena aku paham, dia itu mata harta dan kekayaan. Pasti nggak akan menolak penawaran dariku," Intan menghela napas panjang.
"Kevin, mana? kok nggak kelihatan?" Bu Mira celingukan mencari Kevin.
"Mungkin sedang ada di garasi mobilnya, bu." jawab Intan sekenanya.
Tak berap lama, muncullah Kevib namun dengan terus menguap.
"Kamu ngantuk, nak? untung tadi saat mengemudi nggak apa-apa," tanya Intan menyelidik.
"Iya, mah. Gara-gara semalam begadang nonton bola jadi sekarang ngantuk banget. Padahal tadi sewaktu nyopir nggak terasa ngantuk sama sekali," Kevin terus saja menguap.
"Tidurlah, biar kamu nanti bangun badan segar. Lain kali sehabis begadang, jangan sesekali membawa mobil, bisa berbahaya," pesan Intan.
__ADS_1
*********