
"Nomor ponselmu di ganti lagi sama Tara, dan nomor mami sama papi di hapus juga dari ponselmu," Reno menjelaskan hasil pengecekan ponselnya.
"Kurang ajar banget, Tara. Berapa kali berbuat seperti itu, masa sama orang tua sendiri nggak boleh berkomunikasi! parahnya lagi, pintu gerbang main di gembok segala, pasti biar kamu nggak bisa kerumah kami." Laras mengerutkan bibirnya.
"Nggak usah khawatir, mi. Tara licik, kita harus lebih licik," saran Reno.
"Caranya bagaimana, pi?" tanya Saras penasaran.
"Laras, kamu simpan kembali nomor ponsel mami dan papi. Tapi kamu samarin, nama di kontak ponselmu pake nomor temanmu atau siapa. Jangan memakai nama kami, pasti Tara nggak akan menghapusnya kembali," saran Reno panjang lebar.
"Baik, pi." Jawab Laras singkat.
"Sepertinya ada sesuatu yang terselubung di hati Tara, tapi kita tidak tahu apa rencananya," kata Reno seraya menerawang ke seluruh penjuru ruangan.
"Mi, lebih baik kita pulang saja. Khawatir nanti Tara memergoki kita ada di sini, nanti yang menjadi sasaran kemarahan Laras." Reno bangkit dari duduknya.
"Apa nggak sebaiknya kita ajak Laras pulang saja, pi?" pinta Saras mengiba.
"Jangan, itu sama saja kita bertindak ceroboh. Dan kamu, Laras. Jangan mengatakan pada Tara kalau kami dari sini, dan jangan pula kamu sesekali memberitahu apapun yang kami bicarakan denganmu. Ingat satu hal, mulai sekarang jangan sembarangan meletakkan ponselmu. Dan kamu kunci ponselmu, supaya Tara tidak lancang membukanya." Saran Reno panjang lebar.
"Baik, pi." Jawab Laras singkat.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh ceroboh dan harus waspada, karena suamimu tidak sebaik yang kamu pikirkan selama ini." Pesan Reno.
"Apa maksud ucapan, papi?" tanya Laras mengernyitkan alisnya.
"Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya sendiri, cepat atau lambat keburukan suamimu akan terbongkar. Karena jika papi yang mengatakan, kamu pasti tidak akan mempercayainya," ucap Reno mencoba tersenyum.
Setelah mengucapkan hal itu, Reno mengajak Saras pergi dari rumah Laras. Laras juga meminta pada sepasang asisten rumah tangganya supaya tidak memberitahu pada Tara jika orang tuanya datang berkunjung.
Seperginya orang tuanya, Laras membuka ponselnya. Dimana ada notifikasi dari Reno yang memberikan nomor ponsel Intan. Laras menyimpan nomor ponsel Intan dengan nama samaran sesuai dengan saran Reno, supaya tidak di ketahui oleh Tara.
Mulai sekarang, Laras juga mengunci ponselnya dengan sebuah sandi hanya dia yang tahu.
Sementara dalam perjalanan pulang, Saras sempatkan bertanya pada Reno tentang ucapannya saat di rumah Laras.
__ADS_1
"Pi, apa papi tahu tentang keburukan Tara? tapi kenapa nggak memberitahu pada, mami?" Saras mulai mengorek keterangan dari Reno.
"Susah menjelaskannya, mi. Karena terlalu rumit dan panjang," Reno menghela napas panjang seraya terus mengemudikan mobilnya.
Perkataan Reno malah semakin membuat Saras penasaran ingin mengetahui apa sebenarnya keburukan Tara. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara menyelidikinya dari Tara, karena selama ini hububungannya dengan Tara sangat buruk.
Sementara di kantor Tara, datanglah seorang wanita ingin melamar pekerjaan di kantor tersebut. Karena kebetulan memang di kantor Tara sedang membutuhkan banyak sekali pekerja.
"Maaf, Pak Tara. Di ruang tamu ada seorang wanita yang ingin melamar pekerjaan," ucap salah satu karyawati Tara.
"Baik, terima kasih." Tara lekas bangkit menuju ke ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu, Tara terperanga dan membola matanya saat melihat wanita yang sedang duduk tersebut.
"Waow, jika di lihat seksama mirip Intan. Senyumannya itu, wajahnya itu, busyet dach." Gerutu Tara dalam hati.
"Maaf, pak. Apakah ada yang aneh dengan diri saya?" tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Atin.
Namun dia menyamar dengab memakai rambut palsu dan identitas palsu pemberian dari Keano.
Tara menjatuhkan pantatnya di hadapan Atin. Dan terus saja memandang Atin tanpa berkedip.
"Hem, sepertinya ini awal yang bagus untukku. Dan mungkin tak perlu waktu lama untuk aku bisa menjebaknya," batin Atin.
"Maaf, pak. Ini CV saya, mungkin akan bapak pelajari dulu." Atin meletakkan stop map di atas meja.
Tara tidak menghiraukan CV yang Atin letakkan di hadapannya. Dia malah terus menatap Atin membuatnya risih.
"Ingin aku colok matanya dengan dua jariku ini, memandangan dari tadi kok nggak juga berhenti," batin Atin geram.
Sebenarnya wajah Atin nggak begitu mirip Intan. Akan tetapi dia sangat pintar berdandan menyerupai siapapun dan hampir tak bisa di bedakan.
"Namamu siapa dan umurmu berapa? statusmu apa?" serentetan pertanyaan dari Tara seraya terus saja menatap ke arah Atin.
"Maaf, pak. Makanya bapak buka dulu CV saya. Jadi bapak tahu, tentang identitas saya." Atin mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sangat geram.
__ADS_1
"Hhee, iya juga ya. Kenapa pula aku nggak buka CDmu eh CVmu, maaf salah ngomong." Tara lekas membuka stop map yang ada di depannya.
"Wah namanya cantik secantik orangnya, status masih lajang, umurnya dua puluh lima tahun," Tara berucap seraya sesekali melirik ke Atin.
"Cantika, jika aku menerimamu bekerja di sini. Apakah kamu bisa langsung bekerja?" Tara bertanya seraya terus menatap pada Atin.
"Bisa, pak. Apa benar, saya di terima?" Atin merasa tak percaya, karena CVnya saja belum di cek sepenuhnya, hanya di lihat biodatanya saja.
"Ya, Cantika. Kamu saya terima menjadi sekretaris pribadiku," jawab Tara tegas.
"Baiklah, pak. Terima kasih atas kebaikannya telah menerima saja bekerja di sini," Atin menyunggingkan senyuman.
"Hem, iya. Sekarang ikutlah kamu denganku, karena akan aku tunjukkan dimana ruang kerjamu," Tara bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke ruang kerja sekretaris di ikuti oleh Atin.
"Ini ruang kerjamu." Tara menunjukkan ruang kerja Atin.
Namun Atin sempat terhenyak kaget, karena di dalam ruangan tersebut sudah ada seorang wanita muda dan cantik.
"Maaf, pak. Apakah tidak salah, di sini sudah ada karyawatinya," Atin melirik pada wanita muda itu.
"Tia, kamu kemasi semua barang-barangmu sekarang juga. Karena kamu akan aku pindahkan ke bagian staf." Perintah Tara menatap Tia tajam.
"Pak, apa salah saya? bukankah selama saya bekerja di sini selalu menuruti kemauan dan perintah bapak? termasuk saya telah...
Belum juga Tia selesai berkata, Tara telah berkata terlebih dulu.
"Sudahlah cepat, apa kamu ingin aku pecat kamu?" ancam Tara.
"Jangan, pak. Saya terima jika di pindah di bagian staf biasa, jangan pecat saya karena saya harus menafkahi ibu dan anak saya," Tia memelas pada Tara.
"Makanya buruan kemasi barangmu, dan tempatmu di sebelah Reni." Pinta Tara kembali lagi.
Tia lekas mengemasi semua barangnya dan pindah di staf biasa di samping staf lainnya.
********
__ADS_1