
Monalisa merasa sedih karena menurutnya, papahnya tak adil. Dia yang anak bungsu malah harus menerima perjodohan dengan pria yang kurang normal.
Padahal Monalisa ingin sekali di bebaskan menjalani kehidupannya. Dia sudah punya impian ingin menjadi seorang perawat yang handal. Kuliahnya menjadi berantakan, padahal sebentar lagi akan lulus.
"Papah nggak pernah mengerti aku, dia hanya bisa mengerti pada Ka Monic dan Ka Momoy."
"Kadang aku iri, jika melihat kehidupan kedua kakakku. Mereka bebas berkarir dan bebas memilih jodohnya masing-masing."
"Apa yang orang katakan tentang anak bungsu tidaklah semua benar. Mereka mengatakan jika anak bungsu adalah anak yang selalu di manja dan paling di sayang, di bandingkan dengan anak sulung."
"Aku tidak pernah merasakan seperti anak bungsu yang semua orang katakan. Aku malah di jadikan sebagai boneka papah,.yang dia seenaknya mainkan dan perankan."
Terus saja Mona menggerutu di sela menjaga baby Dita yang sedang tertidur.
__ADS_1
Sementara saat ini Laras juga sedang kesal pada Tara. Karena pada saat sidang pertama, Tara tidak memenuhi undangan dari kantor pengadilan agama.
"Nak, kenapa kamu murung? apa kamu nggak ikhlas dengan semua ini, bukankah ini murni dari hatimu yang ingin berpisah dengan Tara?" tanya Reno mengernyirkan alisnya.
"Aku sangat ikhlas, pi. Aku murung bukan karena menyayangkan perpisahan ini, tapi karena aku kesal, Mas Tara tidak datang di persidangan yang pertama, lantas bagaimana jika dalam persidangan berikutnya, dia tak datang pula?" Laras mengerucutkan bibirnya seraya menghela napas panjang.
"Kamu nggak perlu kesal, justru jika Tara tak datang jua, itu malah suatu keberuntungan untukmu. Karena dengan begitu akan mempermudah proses perceraian," ucap Reno.
"Ya, nak. Jadi kamu nggak usah gelisah kembali, biar saja jika dia tak datang, malah mempermudah proses perpisahan," Reno mencoba meyakinkan Laras.
Sementara saat ini Tara di kantor sedang gelisah, karena memikirkan peceraiannya dengan Laras.
"Kemarin aku nggak datang ke pengadilan, untuk menghadiri sidang gugatan cerai dari Laras. Aku bingung, jika di hadapan hakim dan semua yang ada di persidangan akan memberi alasan apa? karena memang aku yang bersalah. Ah, biarlah aku lepas Laras. Nanti aku akan menikahi resmi Mona saja, biarkan Tia selamanya menjadi istri siri. Hidup kok di bikin pusing, lepas satu datang seribu," gerutu Tara dalam hati.
__ADS_1
Sejenak Tara terdiam, dia terbayang akan wajah Cantika.
"Jika aku kelak menikahi, Mona. Bagaimana dengan, Cantika? Tarjet utamaku sebenarnya, Cantika tapi malah Mona yang aku dapat. Lagi pula aku tak bisa menyelidiki dimana keberadaan, Cantika."
"Jika aku sudah dapat alamat rumahnya pasti akan lebih mudah meluluhkannya. Tapi pada saat aku mencari alamat rumah lewat alamat yang ada di KTP dia, kenapa tidak ketemu? apakah dia sudah pindah?"
Tara terus saja menggerutu seraya menatap foto Cantika yang ada di ponselnya. Dia masih saja terobsesi dengan Cantika, walaupun saat ini sudah bersama dengan Mona.
Tara rela memerintah orang bayaran hanya untuk mencari dimana keberadaan Cantika. Sedangkan saat ini Atin sedang galau.
"Aku dengar kabar, jika saat ini Laras sedang menjalani proses perceraiannya. Apakah sebaiknya aku berhenti menjalankan misiku?" atau aku lanjutkan saja?" Atin gelisah bertanya sendiri di dalam hatinya.
*******
__ADS_1