
Setelah semua tertata rapi dan bersih, Atin menutup kios sayurannya. Dia melangkah bersama Bapak Yogi ke mobil boxnya.
Atin mengemudikannya arah pulang, sementara Bapak Yogi masih saja penasaran dengan apa yang akan Atin ceritakan nanti.
Hanya beberapa menit saja, Atin dan Bapak Yogi telah sampai di rumah mereka. Baik Atin maupun Bapak Yogi langsung melakukan ritual mandi sorenya.
Beberapa menit kemudian, Atin dan Bapak Yogi sudah berada di teras depan untuk menikmati semilirnya angin di sore hari yang berhembus lewat dedaunan di pohon yang rindang.
"Nak, ceritalah. Bapak sudah nggak sabar dengan apa yang tadi membuatmu tersenyum terus," pinta Bapak Yogi.
"Wah, ternyata bapak masih ingat dan masih penasaran ya?" goda Atin terkekeh.
"Jangan mempermainkan orang tua, dosa loh," Bapak Yogi mengerucutkan bibirnya.
"Ce ile, ngambek nech ye," canda Atin kembali terkekeh.
Bapak Yogi hanya diam saja, tak berkata apapun. Akan tetapi wajahnya murung, pandangannya menerawang jauh entah kemana.
"Pak, aku ingin bertanya satu hal boleh nggak?" tanya Atin meminta persetujuan.
"Ngomong saja, pakai acara minta ijin segala," Bapak Yogi masih saja murung.
"Misalkan kita telah bertemu ibu, apa yang akan bapak lakukan?" tanya Atin menyelidik.
"Paling utama bapak ingin minta maaf pada ibumu, atas kesalah pahaman di masa lalu." Jawab Bapak Yogi sekenanya.
"Jika ibu telah memaafkan bapak, apakah bapak akan kembali lagi pada ibu?" Atin kembali lagi bertanya.
"Kenapa kamu bertanya mendetail sekali? padahal dulu kamu nggak pernah bertanya sampai sedetai ini?" Bapak Yogi malah balik bertanya seraya mengernyitkan keningnya.
"Bapak ingin tahu kenapa aku terus saja bertanya? karena aku ingin bercerita tentang hal yang membuatku bahagia ada hubungannya dengan ini," Atin menghela napas panjang.
"Haduh, bapak semakin nggak mengerti dech. Bapak sudah tua, nak. Jika ingin bercerita sesuatu, langsung saja jangan di buat mutar-mutar dulu," Bapak Yogi mengerucutkan keningnya.
"Baiklah, pak. Aku minta maaf ya," Atin menyunggingkan senyuman.
"Ya sudah, sekarang bapak minta kamu jangan seperti ini lagi. Sekarang masih ingin cerita atau masih ingin sekedar bertanya-tanya saja pada bapak?"Bapak Yogi menghela napas panjang.
__ADS_1
"Aku akan cerita kok, pak. Pencarian kita terhadap ibu, nggak sia-sia. Aku sudah menemukan ibu dan adik," kata Atin sumringah.
"Nak, kamu sedang tidak bercanda bukan?" Bapak Yogi merasa tak percaya dengan ucapan Atin.
"Astaghfiruloh alazdim, untuk apa pula aku bercanda untuk hal sepenting ini." Atin menghela napas panjang.
"Memangnya kamu bertemu dengan ibumu dimana?" tanya Bapak Yogi semakin penasaran.
"Ternyata keberadaan ibu tak jauh dari kita, pak. Ingahkah bapak dengan pelanggam baru kita, Intan?" tanya Atin.
"Iya, bukannya tadi siang dia sempat ke kios dan mengajakmu ke rumahnya?" tanya Bapak Yogi untuk memastikan.
"Iya, pak. Ternyata ibunya Intan adalah ibu aku juga," ucap Atin sumringah.
"Masa sih? jadi selama ini bapak sudah sering bertemu dengan adikmu? alhamdulilah ya, Allah," Bapak Yogi sangat bersyukur.
"Pak, apakah bapak akan kembali lagi dengan ibu?" tiba-tiba Atin kembali bertanya.
"Belum tentu ibumu bisa menerima permintaan maaf dari bapak," Bapak Yogi tertunduk lesu.
"Lebih baik kita menemui ibu saja, besok pagi kita ke rumah ibu ya, pak?" pinta Atin.
"Aku ingin mengajak sekarang, khawatir bapak kecapean. Makanya aku mengusulkan besok pagi saja," ucap Atin sekenanya.
"Nggak cape kok, bapak justru ingin lekas bertemu dengan ibu dan adikmu," Bapak Yogi sangat antusias ingin bertemu dengan Bu Mita.
"Baiklah, pak." Atin bangkit dari duduknya.
Dia melangkah menuju garasi mobilnya, di ikuti oleh Bapak Yogi. Segera Atin melajukan mobil boxnya menuju ke rumah Intan. Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di apartement milik Intan.
Kebetulan Intan dan Bu Mita sedang duduk di teras halaman. Keduanya langsung berdiri saat melihat kedatangan Atin dan Bapak Yogi.
"Bu, apakah itu bapak?" tanya Intan memastikan saat melihat Bapak Yogi mendekat bersama Atin.
"Iya, nak," jawab Bu Mita seraya terus menatap ke arah Atin dan Bapak Yogi.
Tak berapa lama, mereka saling berhadapan satu sama lain. Bapak Yogi berhadapan dengan Bu Mita. Mereka salinh bertatapan satu sama lain tidak berkedip.
__ADS_1
Tiba-tiba Bapak Yogi bersimpuh di hadapan Bu Mita seraya menangkupkan kedua tangannya untuk meminta maaf.
"Bu, bapak minta maaf atas kesalah pahaman di masa lalu. Itu semua juga karena ada yang menghasut bapak. Orang itu yang mengatakan jika ibu selingkuh dengan pria lain," ucap Bapak Yogi seraya terus menangkupkan kedua tangannya dan menatap sendu pada Bu Mita.
Sejenak Bapak Yogi bercerita bagaimana dia di hasut oleh tetangganya sendiri yang ternyata menyukainya.
Beberapa tahun yang lalu...
"Alhamdulilah, akhirnya aku telah sampai di daratan. Sudah rindu rasanya pada anak dan istriku." Gerutu Yogi perlahan turun dari kapal.
Dia melangkah pasti menuju ke rumahnya untuk menemui istri dan anaknya. Akan tetapi belum juga sampai di rumah, ada salah satu tetangganya yang bernama Sinta, menghadang langkahhnya.
"Mas Yogi, baru pulang ya?" sapa Sinta tersenyum genit.
"Iya, Mba Sinta," jawab Yogi terus saja melangkahkan kakinya.
"Mas Yogi, berhenti dulu dong. Aku ingin bicara sebentar," pinta Sinta dengan manjanya.
Yogi dengan terpaksa berhenti sejenak, karena tiba-tiba Sinta juga mencekal lengannya.
"Maaf, Mba Sinta. Tolong jangan seperti ini, nggak enak kalau di lihat orang bisa jatuhnya kesalah pahaman," tegur Yogi melirik ke tangan Sinta yang bergelayut manja di lengan Yogi.
"Maaf, Mas Yogi. Saya reflek begitu saja." Sinta melepaskan cekalan tangannya pada Yogi.
"Mas, aku iba padamu. Kamu kerja berlayar bertarih di tengah deburan ombak dan badai demi mencari sesuap nasi untuk anak dan istrimu. Tapi istrimu tidak pernah menghargai hal itu. Padahal perjuangan Mas Yogi berbulan-bulan," Sinta mulai menghasut Yogi dengan cerita bohongnya.
"Apa maksud ucapan, Mba Sinta?" Yogi mulai terpancing dengan cerita bohong Sinta.
"Maaf, mas. Bukan saya ingin ikut campur rumah tangga, Mas Yogi. Saya iba dengan Mas Yogi," Sinta tertunduk lesu.
"Mba Sinta, tolong jangan berbelit-belit dalam berkata. Karena aku ingin lekas sampai di rumah untuk istirahat," ucap Yogi ketus.
"Mas Yogi, selama mas berlayar, aku sering melihat Mita membawa masuk pria. Hampir setiap tengah malam, dia melakukan hal itu," Sinta mulai meracuni pikiran Yogi.
"Mba Sinta, nggak boleh bicara seperti itu. Jatuhnya sama saja fitnah," tegur Yogi ketus.
"Untuk apa saya bohong, Mas Yogi." Sinta mencoba meyakinkan Yogi.
__ADS_1
*******