Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Terbakarnya Tiga Restoran Intan


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari Laras, Saras sejenak terdiam untuk mencari alasan yang tepat supaya Laras tidak mencurigainya.


"Mami tadi sedang melihat vidio lucu di you tube, hingga tak sadar mami tertawa ngakak. Karena begitu lucunya, mami tak bisa menahan rasa untuk tidak tertawa," jawab Saras sekenanya.


"Oooh begitu, lantas kenapa papi murung? dari menjemput kami hingga sampai rumah tidak ada sepatah katapun, tidak seperti biasanya," Laras mencoba mencari tahu tentang kemurungan Reno lewat Saras.


"Entahlah, mami tidak tahu. Mungkin saja ada masalah dengan kliennya atau kantornya. Karena papimu nggak cerita apapun pada, mami," kembali lagi Saras membohongi Laras.


"Hem, ternyata Mas Reno pergi hanya untuk menjemput Risky di sekolahnya. Aku pikir dia pergi untuk menemui Intan lagi," batin Saras seraya menghela napas panjang.


Setelah mengetahui jika Reno tidak menemui Intan lagi, hati Saras merasa lega. Dia bisa tersenyum.


Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa telah menjelang malam. Intan menunaikan sholat Isya dan sholat Istiqaroh, sebelum beranjak tidur.

__ADS_1


Dia ingin meminta petunjuk pada Allah, keputusan apa yang harus dia perbuat untuk Keano. Setelah itu dia langsung merebahkan tubuhnya di pembaringan.


Matanya belum juga terpejam, walaupun Adam telah tertidur pulas. Intan menatap langit-langit kamar seraya pikirannya traveling entah kemana.


"Ya Allah, aku terlupa. Jika besok pagi restoranku akan di bokking oleh Monica. Aku harus menelpon anak buahku supaya tidak lupa akan esok." Intan meraih ponselnya untuk menelpon asisten pribadinya yang berada di restoran cabang pertama.


"Lega rasanya sudah menelpon asistenku, hanya mengingatkan saja supaya tidak lupa jika besok ada bokingan. Kini waktunya aku istirahat, supaya besok tidak kesiangan," perlahan Intan mulai memejamkan matanya.


Kini dia benar-benar terlelap dalam tidur nyenyaknya. Hingga di tengah malam, dia terbangun di kejutkan oleh asistenya yang ada di restoran cabang pertama dengan panggilan telponnya.


πŸ“±"Walaikum salam wr wb. Ada apa lagi, Mey? apa kurang jelas mengenai menu masakan yang di pesan untuk acara nanti sore?"


πŸ“±"Bukan begitu, bu. Ini gawat, bu. Tadi saya mendapat pemberitahuan dari security, jika restiran terbakar dan tidak ada yang bisa di selamatkan karena api begitu besar. Tadi securuty akan menelpon, ibu. Tapi nomor ponsel ibu di ponselnya ngga ada."

__ADS_1


πŸ“±"Astaghfiruloh alazdim, bagaimana hal itu bisa terjadi?"


πŸ“±"Entahlah, bu. Kami juga belum mengetahui apa yang menyebabkan restoran kebakaran."


Mendadak rasa kantuk Intan hilang, dia menjadi panik dan gelisah. Selagi termenung, kembali lagi ponselnya berdering. Ternyata ada panggilan telpon dari security restoran yang cabang ke dua.


Kabar mengejutkan terdengar lagi, security juga memberitahu jika restoran tersebut terbakar juga seperti restoran cabang pertama.


"Ya Allah, kenapa bisa bersamaan seperti ini? hanya selisih beberapa menit saja aku kehilangan dua aset penghasilanku," perlahan air matanya mulai tertumpah.


Di saat Intan sedang meratapi terbakarnya dua restorannya. Kembali lagi ponsel Intan berdering. Intan menerima kabar mencengangkan kembali dari security yang berada di restoran cabang ke tiga. Dimana restoran cabamg ke tiga ini juga hangus di makan di jago merah.


"Astaghfiruloh aladzim. Ibu, bapak, Mba Atin.." Intan berteriak histeris membangunkan seisi rumah.

__ADS_1


Sepontanitas orang yang di panggilnya terbangun semua. Karena Intan tidak hanya memanggil sekali, tetapi berkali-kali.


*****


__ADS_2