
Reno melajukan mobilnya dengan suasana hati yang tak menentu. Dia bebar-benar belum bisa merelakan jika Intan akan menikah dengan pria lain.
"Pendekatanku pada Intan belum berhasil, malah dia sudah akan menikah lagi. Pupus sudah harapanku untuk bisa memiliki kembali cinta pertamaku," gumamnya seraya terus melajukan mobilnya.
Sementara di rumah Saras, dia tengah mencari keberadaan Reno.
"Laras, dari tadi mami mencari papi, tapi kok nggak ada? mobilnya juga nggak ada, kamu tahu nggak kemana perginya papi?" tanya Saras.
"Papi, sempat berpesan. Pergi untuk menemui klien barunya, tapi dia nggak mengatakan tepatnya kemana," jawab Laras sesuai dengan titah Reno.
"Masa menjelang maghrib kok belum pulang?" Saras mengernyitkan alisnya.
"Mungkin dalam perjalanan pulang, mi," tukasnya singkat.
Saras mondar mandir tak tenang memikirkan Reno, karena yang ada di otaknya cuma Reno saat ini sedang bersama Intan.
"Mi, duduk kenapa? sebentar lagi juga papi pulang kok," tegur laras.
Namun Saras tak menghiraukan perkataan dari Laras, dia hanya melirik sinis.
__ADS_1
"Aku yakin, saat ini mami sedang berpikir jika papi ada bersama ibu. Mami terlalu posesif sekali, makanya aku menyimpan rahasia jika aku telah bertemu dengan ibu kandungku," batin Laras seraya terus melihat ke arah Saras yang tiada hentinya mondar mandir.
Selagi sibuk mondar mandir, mulai terlihat mobil yang di tumpangi Reno memasuki halaman. Melihat hal itu, Saras baru bisa menghentikan aktifitasnya mondar mandir.
Saras berdiri menatap Reno yang perlahan menghampirinya.
"Pi, kamu darimana? kok nggak mengajakku?" Saras mencium punggung tangan Reno.
"Memangnya Laras tidak memberitahumu, aku pergi kemana?" Reno bukan menjawab pertanyaan Saras, tapi dia malah balik bertanya.
"Laras, memberitahuku kok."
Reno berlalu begitu saja, masuk ke dalam rumah. Dia menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu dan menyenderkan punggungnya. Dia sama sekali tak menghiraukan Saras.
"Pi, kamu kenapa sih? kok pulang-pulang murung?" Saras menghampiri Reno.
"Kerjasamanya gagal, kilennya entah kenapa berubah pikiran," kata Reno berbohong.
"Ya sudah, nggak usah terlalu di pikirkan. Mungkin belum rejekinya, lain waktu pasti dapat klien baru lagi," Saras mencoba menghibur Reno.
__ADS_1
"Pi, minum dulu kopinya." Laras datang membawa secangkir kopi hangat untuk Reno.
Ciri khas Reno yakni kopi yang hangat biar langsung bisa di minum. Dia lekas meneguk kopi buatan Laras, pikirannya semakin tertuju pada Intan setelah meneguk kopi buatan Laras.
"Apa yang Laras buat mengingatkanku pada Intan. Masakan Laras, seenak Intan. Kopi inipun sama seperti buatan Intan." Reno langsung menghabiskan kopinya.
"Sepertinya ada hal yang sangat serius, ada apa ya sama, ibu? kok wajah papi murung sekali?" batin Laras di penuhi oleh tanda tanya.
Laras sudah tak sabar ingin bertanya pada Reno, tapi Saras masih saja ada di samping Reno. Sehingga Laras tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menunggu sampai Saras benar-benar menjauh dari Reno.
Hingga pagi hari, Laras sama sekali tak bisa menghampiri Reno. Kini di saat ada sedikit celah untuk bisa mendekati Reno, malah Reno sudah berangkat kerja.
"Mi, papi mana?"
"Pergi ngantor, memangnya ada apa?" Saras selalu saja ingin tahu urusan orang.
"Nggak ada apa-apa, mi. Hampir terlupakan, pikirku ini hari minggu," Laras berbohong.
*******
__ADS_1