Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Bangkrut


__ADS_3

Pagi menjelang, seperti rencana semalam. Setelah selesai sarapan, Intan pergi ke restorannya di temani oleh Keano dan Kevin.


Kali ini wajahnya tak seperti biasanya, terlihat sangat murung tanpa senyum sedikitpun.


"Ya Allah, kasihan Mamah Intan. Aku rindu dengan senyumannya. Semoga Engkau lekas mengembalikan keceriaannya kembali, dan lekas membuka jalan untuk penyelesaian permasalahannya," sepenggal doa Kevin di dalam doa.


Seharian mereka berkutat di restoran cabang pertama, mengurus semua kekacauan karena kebakaran. Intan meminta maaf pada semua anak buahnya atas musibah kebakaran tersebut. Intan juga membayar gaji para karyawannya semua. Dan memberi informasi untuk sementara wakru restoran belum bisa beroperasi.


Hal tersebut juga di lakukan oleh Intan di cabang restoran yang kedua dan ketiga. Semua tabungan Intan telah terkuras habis untuk membayar semua karyawan di tiga restorannya. Kini dia sudah tidak punya uang sepeserpun.


"Mas Keano, aku minta tolong. Promokan mobilku, karena aku ingin menjualnya, untuk biaya hidup," Intan menatap sendu Keano.


"Jangan di jual, biarkan aku membantumu. Kamu bisa pakai tabunganku dulu, untuk modal usaha barumu dan biaya hidup," Keano memberikan saran yang tepat.

__ADS_1


Namun Intan merasa tak enak hati.


"Jangan, mas. Biarkan aku selesaikan permasalahanku sendiri. Selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, mas." Intan menolak niat baik Keano.


"Mah, janganlah sungkan. Jangan anggap kami orang lain, karena aku juga telah menganggap mamah seperti mamah kandungku sendiri. Jadi tolong terima saja bantuan dari papah," Kevin membujuk Intan supaya menerima bantuan dari Keano.


"Nak, mamah masih mampu kok. Nanti kalau mamah butuh pasti akan pinjam uang papahmu," Intan mencoba tersenyum.


Keputusan Intan sudah tidak bisa di ganggu gugat, baik Keano maupun Kevin sudah tidak bisa membujuknya kembali.


Laras dan Reno merasa iba akan musibah yang menimpa Intan. Tidak bagi, Laras. Dia sangat bahagia melihat di televisi kw tiga restoran Intan terbakar.


"Mampus kamu, Intan. Pasti saat ini kamu telah bangkrut dan tak punya apa-apa lagi. Hebat juga anak buahku, dengan membuat rekayasa seolah-olah karena tabung gas yang meledak, dan konsleting listrik. Aku sangat puas, tak sia-sia aku membayar mahal ke tiga anak buahku," batin Saras seraya menyeringai sinis.

__ADS_1


Di belakang Saras, Laras dan Reno sedang bercengkrama.


"Pi, kasihan ibu. Apa papi nggak ada niat untuk membantunya?" Laras berkata lirih karena khawatir di dengar oleh Saras.


"Papi ingin sekali membantu, tapi kamu tahu sendiri kan? keuangan di manipulasi atau di atur oleh, mami. Papi ada simpanan uang tapi tidak banyak," jawab Reno lirih.


"Pi, apa aku berikan saja sertifikat perusahaan milik Mas Tara?" Laras meminta persetujuan dari Reno.


"Terserah kamu saja, nak. Jika kamu nggak keberatan dan ikhlas, ya bantu saja ibumu," tukas Reno.


Laras melangkah ke kamar untuk mengambil sertifikat perusahaan expedisi milik Tara yang di ambilnya di rumah mewahnya dulu.


Namun saat Laras mengangkat kasurnya, dan meraba bawah kasur. Dia tidak menemukan barang yang di carinya.

__ADS_1


"Loh, kok nggak ada? seingatku di sembunyikan di bawah kasur, kok." Laras terus saja mencari ulang amplop coklat yang berisikan sertifikat perusahaan Tara.


*****


__ADS_2