Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kembali Intan Bertemu Laras


__ADS_3

Setelah sekian lama tak ada kabar, Laras pun menelpon Intan. Dia juga bercerita pada Intan, jika saat ini dia dan Reno tak lagi tinggal bersama Saras.


Saat ini Laras tinggal di suatu desa terpencil penduduknya. Dia membuka usaha toko sembako, dan Reno membuka bengkel di sebelah toko sembako milik Laras.


Mereka sengaja tinggal jauh dari Saras, supaya Saras tak dapat menemukannya. Itupun keinginan dari Reno, karena dia sudah sangat kecewa pada Saras.


"Nak, pantas saja ibu nggak bisa menghubungi nomor ponselmu, ternyata sudah ganti?" ucap Intan lewat panggilan telpon.


"Maaf ya, bu. Atas permintaan papi, nomor ponsel kami ganti yang baru," balas Laras lewat sambungan telpon.


"Maaf pula, aku baru sempat telpon, ibu."


"Nggak apa-apa, nak. Lantas bagaimana ibu bisa bertemu denganmu?"


Laras memberitahu pada Intan jika dirinya tinggal di desa terpencil yang tak jauh dari apartement Intan yang saat ini di tinggali oleh orang tua, Intan.


Setelah Laras memberikan alamat rumah barunya pada Intan, lekas Intan menyambanginya bersama Keano.


Hanya beberapa menit perjalanan mereka telah sampai. Laras langsung lari ke dalam pelukan Intan.

__ADS_1


"Bu, aku kangen sekali."


"Ibu juga kangen padamu, nak."


"Bagaimana kabar kalian? mana Risky?" Intan celingukan mencari Risky.


"Risky sedang bermain bersama, papi di taman belakng," jawabnya singkat.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sehingga kalian terusir dari rumah?" Intan menautkan alisnya.


"Intinya, mami nggak mengijinkanku bertemu, ibu. Dan pada saat, mami tahu aku serinf bertemu, ibu. Dia marah besar, dan mengusirku serta, papi," jawab Laras sekenanya.


"Iya, bu. Aku bisa membeli semua dari hasil aku menjual rumah mewah, Mas Tara," ucapnya menyunggingkan senyuman.


Ibu dan anak bercengrama lumayan lama, dan pada saat pulang, Keano memberikan amplop putih besar berisikan sejumlah uang pada Laras.


"Nak, ini ayah ada sedikit rejeki. Bisa kamu gunakan untuk menambah modal toko sembakomu." Keano menyerahkan amplop tersebut ke tangan Laras.


"Tapi..

__ADS_1


"Hust, dosa loh kalau menolak rejeki. Terimalah, jika kamu mengganggapku seperti ayahmu sendiri. Kalau kamu tak mau menerimanya, sama saja kamu tak merestui pernikahan kami," ucap Keano membujuk Laras untuk menerim pemberiannya.


"Terima kasih, ayah."


"Nak, ibu dan ayah pamit pulang ya? karena ibu dan ayah juga harus bekerja." Intan kembali lagi memeluk Laras.


Tak lupa Laras mencium tangan Intan dan Keano, serta berpesan supaya berhati-hati di jalan.


Dalam perjalanan menuju kantor expedisi, Intan sempat terharu dengan apa yang di lakukan oleh Keano untuk Laras.


"Pah, terima kasih. Kamu telah peduli pada Laras," Intan sama sekali tak mengetahui jika Keano telah menyiapkan uang untuk Laras.


"Nggak perlu sebegitunya, mah. Kita kan sudah menjadi suami istri. Anakmu ya anakku juga, apa lagi sebelum kita menikah, kamu juga telah menganggap Kevin layaknya anakmu sendiri," Keano menyungingkan senyuman di sela mengemudikan mobilnya.


Seperginya Keano dan Intan, barulah Reno berani menemui Laras di pelataran rumah.


"Pi, untuk apa bersembunyi dari, ibu dan suami barunya? masa papi nggak mau menemui mereka?" Laras menautkan alisnya.


"Entahlah, nak. Papi merasa malu jika bertemu mereka, makanya papi ngumpet," jawab Reno seraya menghela napas panjang.

__ADS_1


*****


__ADS_2