Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Bertemu Orang Baru


__ADS_3

Tara lekas melajukan mobilnya menuju ke rumah Intan. Karena saat ini Tara bertempat tinggal di luar kota, hingga perjalanan ke rumah Intan membutuhkan waktu yang cukup lama yakni lima jam perjalanan.


Setelah sampai di rumah, dia tak mendapati istrinya ada di rumah.


"Bu, Intan kemana?" tanya Tara pada ibu mertuanya.


"Dia sedang ke restoran, katanya suntuk di rumah saja. Aku heran sama kamu, di saat Intan butuh perhatian penuh, kamu malah pergi tak pulang pula," Bu Mita menatap sinis Tara.


"Maaf, bu. Kebetulan aku ada tugas di luar kota yang tak bisa di cansel begitu saja," Tara berbohong.


Tara langsung menyusul Intan ke beberapa restorannya, namun dia tak bertemu.


"Aku telpon saja kali ya." Tara menelpon nomor ponsel Intan namun tidak bisa di hubungi.


"Astaghfiruloh alazdim, kenapa aku lupa kalau saat ini kan Intan tidak memiliki ponsel?" Tara menepuk jidat sendiri.


Dia melupakan jika ponsel milik Intan telah di ambil olehnya.


"Kasihan juga Intan, dia wanita karir tapi gara-gara ponsel aku ambil, pasti dia tak bisa berkomunikasi dengan para pelanggsn restorannya." Tara melajukan mobilnya menyusuri jalan dengan harapan bisa bertemu dengan Intan.


Namun dia tak bertemu juga dengan Intan, akhirnya dia memutuskan ke kantornya, karena sudah beberapa hari dia tak pernah ke kantor. Dia selalu memerintah asistennya untuk menghandle kantornya.


Dia selalu membawa baju cadangan dan sepatu di dalam mobilnya, sehingga dia tak perlu pulang ke rumah terlebih dulu untuk berganti pakaian.


Tak berapa lama, sampilah Tara di kantornya. Dia segera mengecek semua urusan kantornya. Begitu juga untuk keuangannya.


Kantor Tara bergerak di bidang expedisi dalam negeri dan luar negeri. Perusahaan lumayan berkembang. Dia bisa memiliki perusahaan ini juga karena Intan. Sepenuhnya Intan yang mendirikan perusahaan ini dari nol.


Saat ini Intan sedang berkeliling untuk mencari sebuah ponsel. Dia mencari ponsel yang mirip dengan ponselnya yang sebelumnya. Dan pada saat akan ke galeri ponsel, tak sengaja dia menabrak seorang pria yang seumuran denganya.


"Maaf, saya sedang terburu-buru sehingfa kurang berhati-hati dalam berjalan." Intan tertunduk malu dan merasa nggak enak, dia juga menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Nona, nggak usah minta maaf. Kita sama- sama salah, dan sama-sama sedang terburu-buru." Jawab pria tersebut.


"Terima kasih, Tuan. Telah berbaik hati memaafkan saya," ucap Intan seraya menyunggingkan senyum.


Dan perlahan Intan menegakkan kepalanya menatap pada pria yang ada di depannya. Tak sadar, mereka berdua saling bertatapan cukup lama sekali. Hingga Intan terlebih dulu memalingkan wajahnya dan berpamitan.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya permisi dulu." Intan melangkah pergi.


Pria ini hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum manis.


Intan melangkah, namun pria ini juga ikut melangkah di belakangnya membuat Intan merasa tak nyaman.


"Kenapa pula pria ini mengikutiku? bikin aku nggak nyaman saja," gerutu Intan di dalam hati.


Saat Intan masuk dalam salah satu galeri ponsel, pria ini juga masuk. Intan baru tahu jika pria ini ternyata pemilik galeri ponsel tersebut.


"Lain kali, kalian harus benar-benar waspada. Jangan seperti tadi, akhirnya hilang kan satu ponsel di gondol sama pencuri!" pria ini berkata dengan lantangnya pada para karyawannya.


"Oalah, ternyata pria ini pemilik galeri ini. Aku sudah berprasangka buruk dulu, pikirku dia mengikutiku," batin Intan seraya menahan geli supaya tidak tertawa.


Intan tak menghiraukan pria ini sedang menasehati para karyawannya, dia fokus mengamati ponsel yang tertata rapi di etalase. Di sibuk mencari ponsel yang sama dengan ponselnya yang di ambil Tara secara diam-diam.


Hingga Intan tak sadar, jika pria ini telah menghampirinya. Pria ini berada di hadapannya, hanya terhalang etalase.


"Nona, mencari ponsel model apa?" tanua pria ini ramah seraya tersenyum ramah.


"Maaf, Nona. Saya mengagetkan anda," ucap pria ini.


"Ya nggak apa-apa, Tuan." Intan tersipu malu.


Sejenak pria ini terus saja mengamati wajah Intan yang sedang asik memilih ponsel.


"Jika di lihat lebih seksama, wanita ini mirip almarhumah istriku?" batin pria ini.


"Sudah tiga tahun berlalu, baru kali ini aku kembali merasakan getaran ini. Getaran yang pernah aku rasakan saat awal aku jumpa dengan almarhumah istriku," batin pria ini.


Ternyata dia seorang duda beranak satu yang di tinggal meninggal istrinya tiga tahun yang lalu.


Intan bertanya pada pria ini, tentang ponsel yang sedang di carinya.


"Apakah ini yang anda cari, nona?" pria ini menyodorkan satu ponsel di atas etalase.


"Iya, tuan. Benar sekali, ini yang dari tadi sedang aku cari," Intan menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Kemudian mereka membicarakan harga ponsel tersebut. Dan deal Intan mendapatkan ponsel tersebut.


Saat Intan sedang sibuk mengotak atik ponsel barunya, datanglah anak dari pria ini.


"Papah." Anak pria dengan memakai seragam putih abu menyalami pria itu.


"Kok kamu sudah pulang, Kevin?" tanya pria tersebut.


"Iya, pah. Karena gurunya mau rapat." Jawabnya singkat.


Tak sengaja Kevin menatap ke arah Intan, dan dia terperangah seraya membola matanya.


"Mamah." Kevin tak sengaja berucap seraya terus memandang Intan.


Intan yang sibuk dengan ponsel barunya sempat mendengarnya, dia menoleh ke arah Kevin.


"Mamah?" Intan mengernyitkan alisnya seraya menatap pada Kevin.


Mereka saling bertatapan, Kevin menatap heran pada wajah Intan yang sangat mirip almarhumah mamahnya, sedang Intan menatap heran karena di panggil mamah.


"Maaf, nona. Anak saya telah lancang, mungkin dia terkejut saat melihat wajah anda yang sangat mirip dengan almarhumah mamahnya yang telah meninggal tiga tahun lalu," Pria ini menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Oh begitu, ya nggak apa-apa kok." Intan menyunggingkan senyum.


"Pah, tapi bukan hanya wajahnya yang mirip. Tapi suara dan senyumnya, gaya bicaranya juga sama seperti almarhumah mamah. Kevin jadi kangen sama mamah," tak terasa bulir bening keluar dari matanya.


Intan merasa tak tega, sehingga dia tiba-tiba berkata.


"Nak, jika kamu kangen sama mamahmu. Dan ibu bisa mengobati rasa kangenmu, panggil saja ibu, dengan sebutan mamah. Mamah Intan ya?" Intan menggenggam kedua tangan Kevin.


"Serius?" Kevin merasa tak percaya.


"Iya, nak. Ini ada tiga kartu nama mamah. Karena mamah pemilik tiga restoran ini. Tapi ini juga akan di ganti, jika mamah sudah memiliki nomor ponsel baru," ucap Intan ramah


Intan sempat bercerita jika ponselnya yang hilang pada Kevin. Baru saja kenal, mereka telah akrab benar-benar bagaikan seorang ibu dan anaknya.


*******

__ADS_1


__ADS_2