Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Delta VS Tara


__ADS_3

Tara merasa tersinggung dengan ucapan dari mertuanya, dia mengepalkan tinjunya seraya menahan geram. Bahkan Delta bisa mengetahui akan hal ini, dan dia malah menyindir Tara kembali.


"Kenapa, Tara? kamu marah, dan nggak terima dengan semua yang aku ucapkan? jika memang nggak nyata, untuk apa kamu marah?" Delta tersenyum sinis pada Tara.


"Pah, kami kemari secara baik-baik. Tapi kenapa papah menghina, Mas Tara? bagaimana pun dia sudah menjadi suamiku, pah," Monalisa bisa melihat gelagat dari kemarahan Tara.


"Papah tidak menghinanya, apa yang papah katakan sesuai dengan kenyataan. Lambat laun, kamu akan bisa memahami sifat suamimu, dan pada saat itu, papah yakin kamu akan menangis di hadapan, papah. Semoga saja, setelah menikah denganmu, Tara tobat dan bisa setia," ucap Delta seraya melirik sinis pada Tara.


"Sudah ya, om. Jika tak mau membantu ya nggak usah menghinaku, ya memang beberapa kali aku menikah. Tapi bukankah itu lebih baik, dari pada cuma pacaran yang jatuhnya jadi berzina. Karena aku menghormati wanita, makanya setiap aku dekat dengannya ya aku nikahi, nggak cuma di...terus cari lagi yang lain," dengan lantangnya Tara membela dirinya.


"Hhhaaahhhaaa, bangga sekali kamu bisa menikahi banyak wanita. Tapi kamu sama sekali tak bisa menafkahi mereka dari hasil jerih payahmu sendiri."


"Kamu menikahi satu wanita kaya untuk bisa menafkahi wanita-wanitamu yang lain. Kamu pikir aku nggak tahu, bagaimana kelakuanmu dulu?"

__ADS_1


Serentetan perkataan yang sangat memojokkan Tara. Bahkan dia sangat heran, bagaimana Delta mengetahui semua itu.


"Kenapa diam? kamu boleh bangga, jika bisa menafkahi semua istrimu atas jerih payahmu. Buktinya saja sekarang, kamu minta bantuanku, kan? mana tanggung jawabmu sebagai seorang kepala keluarga? nggak ada usahanya sama sekali," kembali lagi Delta mencemooh.


Tiba-tiba Tara bangkit berdiri dan berkata lantang pada Delta.


"Om, adanya aku seperti ini juga karena, om! jika waktu itu om nggak memaksa aku buru-buru ikut, om. Sertifikat perusahaanku nggak tertinggal!"


"Dan yang lebih parah sertifikat itu di salah gunakan oleh mantan istriku. Di jual begitu saja olehnya pada mantan istriku yang lain!"


"Prok Prok Prok"


Delta bertepuk tangan seraya tersenyum sinis saat mendengar perkataan dari Tara.

__ADS_1


"Wauw, hebat sekali. Kamu menyalahkanku atas apa yang terjadi pada dirimu? seharusnya kamu mengoreksi dirimu, aku yakin bukan hanya Tia dan Intan yang telah menjadi mantan istrimu. Pasti ada wanita lain lagi."


"Karma itu berlaku, Tara. Dan selama kita hidup hukum tabur tuai juga berlaku. Apa yang telah kamu tabur kelak itu juga yang akan kamu tuai atau dapatkan."


Delta kembali lagi berkata lantang membuat Tara semakin bertambah emosi.


"Jika anda tak ingin membantu tak usah banyak omong, apa lagi menceramahi saya. Saya tahu mana yang baik buat hidup saya, tak perlu anda mengajarinya!" Tara melotot pada Delta.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita pulang saja, mas." Monalisa menarik tangan Tara dan mengajaknya pulang.


"Pah, kami pulang dulu ya. Semoga papah bisa mempertimbangkannya lagi," pamit Monalisa.


"Papahmu itu sudah sangat keterlaluan! seharusnya kamu tak usah mengajakku kemari, karena aku hanya mendapat hinaan saja," terus saja Tara mengomel sepanjang jalan pulang.

__ADS_1


*******


__ADS_2