Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kebohongan Tara


__ADS_3

Intan menuruti kemauan Tara, dia tak berucap kembali walaupun sebenarnya hatinya penuh dengan tanda tanya.


Dia diam saja, namun di dalam hatinya sangat gelisah memikirkan perkataan Tara tentang anak kandungnya.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di sebuah tempat pemakaman umum. Intan merasa heran kenapa Tara membawanya ke sebuah pemakaman. Tapi dia tak berani berkata, khawatir Tara menegurnya kembali.


"Kenapa Tara membawaku ke pemakaman umum, kok perasaanku jadi nggak enak ya?" batin Intan gelisah.


Tara keluar dari mobil, begitu pula dengan Intan. Mereka melangkah berdampingan masuk dalam pemakaman umum tersebut. Di sebuah pemakaman Tara berhenti, begitu pula dengan Intan.


"Ini makam siapa?" Intan menatap lekat wajah Tara.


"Kamu lihat sendiri, di batu nisan kan ada namanya," Tara tertunduk lesu.


Intan berjongkok, dan matanya membola saat melihat nama yang tertulis di batu nisan tersebut.


"Laras, kenapa kita bertemu dalam kondisi seperti ini?" tak terasa bulir bening keluar dari mata Intan.


"Ibu, berharap bisa melihatmu. Namun bukan melihatmu dalam kondisi seperti ini. Ibu, sangat merindumu malah seperti ini." Terus saja buliran bening keluar dari mata Intan.


Tak terasa tiba-tiba tubuh Intan lemas, kepala terasa pusing. Dan dia pingsan seketika itu juga.


"Aduh, bikin repot. Pakai acara pingsan segala." Dengan susah payah, Tara mengangkat tubuh Intan dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Wah, ini kesempatan bagus. Aku ambil ponsel Intan." Tara lekas mengambil ponsel Intan yang ada di dalam tasnya.


Selagi Intan pingsan, Tara membuka ponsel Intan dan membuang kartu ponselnya dengan mematahkannya. Sementara ponselnya, Tara simpan di bagasi mobil.


"Dengan begini, Intan tak bisa menghubungi mantan suaminya lagi." Tara melajukan mobilnya menuju arah pulang.


Sesampainya di rumah, Tara langsung mengangkat tubuh Intan dan membawanya masuk dalam kamar.


Bu Mita yang melihat kondisi Intan tak sadarkan diri, dia lekas mengikuti langkah Tara.


"Ya Allah, ada apa dengan anakku?" Bu Mita panik dan gelisah.

__ADS_1


Tara membaringkan tubuh Intan di atas pembaringan, Bu Mita lekas duduk di tepi ranjang memandang kondisi Intan yang tak sadarkan diri. Saat Bu Mita akan bertanya pada Tara, tiba-tiba Intan sadar dari pingsannya. Dia langsung duduk dan merengkuh Bu Mita dalam pelukannya.


Intan kembali menitikkan buliran bening dari pelupuk matanya, namun kali ini lebih deras. Sementara Bu Mita bingung dengan tingkah anaknya.


"Nak, kamu kenapa? ada masalah apa, kandunganmu baik- baik saja bukan?" Bu Mita mengusap punggung Intan.


Intan bercerita dengan suara isak tangis, dia berkata tentang Laras anaknya. Mendengar cerita Intan, Bu Mita ikut menitikkan air matanya.


"Nak, kamu yang sabar ya? semoga semua yang menimpamu bisa kamu jadikan pelajaran hidup dan kamu bisa mengambil hikmah dari semua itu." Nasehat Bu Mita seraya mengusap surai hitam Intan.


Intan terus saja menangis meraung-raung, sementara Tara merasa sedikit bersalah karena telah berbohong pada Intan.


"Maafkan aku, Intan. Semua aku lakukan supaya rumah tangga kita tetap harmonis," batin Tara menghela napas panjang.


"Sayang, sudahlah jangan menangis terus. Ingat di dalam perutmu juga ada anakmu. Jika kamu bersedih, dia akan ikut bersedih. Ikhlaskan saja, karena pada hakekatnya jodoh, mati dan hidup serta rejeki semua sudah di atur oleh Allah SWT," Tara berusaha menghibur Intan.


Perlahan Bu Mita menghapus air mata Intan, dan Intan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Berkali-kali dia mengucap istighfar supaya bisa sedikit hatinya tenang.


Tiba-tiba Intan meraih tasnya untuk mencari ponselnya, dia berniat ingin menelpon Reno.


"Ponsel, bu. Seingatku aku menaruhnya di tas, tapi kok nggak ada ya?" Intan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Apa mungkin terjatuh di jalan, saat kamu pingsan?" Tara berpura-pura simpatik.


"Iya juga, tadi saja aku buka tas kondisi sudah terbuka," Intan menghela napas panjang.


"Ya sudah, beli saja ponsel yang baru." Saran Tara.


"Sayang banget kalau hilang, karena banyak nomor penting," Intan merasa menyayangkan ponselnya hilang.


"Sudahlah, jangan di pikirkan masalah ponsel. Nanti aku belikan ponsel yang sama persis dengan ponselmu yang hilang," Tara mencoba menghibur Intan.


"Sekarang kamu istirahat saja dulu, jangan banyak pikiran. Aku akan keluar sebentar untuk mengecek restoranmu," Tara keluar dari kamar.


"Usahaku berhasil juga, sekarang tinggal mengelabui Laras," batin Tara.

__ADS_1


Tara melangkah menuju mobilnya, dan lekas melajukannya. Sementara Intan terus saja memikirkan ponselnya.


"Padahal aku ingin menanyakan tentang almarhumah Laras pada Mas Reno. Apakah saat meninggal kondisi sakit, atau mengalami kecelakaan," batin Intan menghela napas panjang.


Dia memutuskan untuk memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk dan pusing.


Sementara saat ini Tara dalam perjalanan ke rumah Laras, dia belum menemukan cara yang tepat untuk membohongi Laras.


"Wah, si nenek sihir sudah pulang." Tara melangkah pasti masuk dalam rumah.


Laras langsung menyambutnya dengan senyuman, dan tak lupa menyalami suaminya.


"Mas, bagaimana percakapanmu bersama papi tadi?" Laras mengernyitkan alisnya.


Tara tidak menceritakan semua, karena nanti bisa ketahuan sama Laras. Tara hanya bercerita bahwa semua foto ibu kandung Laras yang ada di ponsel Reno telah di hapus semua oleh Saras.


Tara berusaha menghasut Laras supaya membenci Saras.


"Sayang, ternyata semalam saat aku hubungi papi, yang membalasnya adalah mami. Papi juga sempat cerita, jika mamimu berusaha menyingkirkan ibumu saat ibumu sedang sakit dan di rawat di rumah sakit," Tara mulai menghasut Laras.


"Ternyata mami nggak sebaik yang aku pikir selama ini." Laras mulai termakan oleh hasutan Tara, dia sangat kesal dan marah pada Saras.


"Kita nggak punya foto ibu, bagaimana bisa tahu keberadaan ibu saat ini?" Laras mengerucutkan bibirnya.


"Kamu nggak usah khawatir, aku sudah mengetahui keberadaan ibu kandungmu," Tara menyunggingkan senyum.


"Mas, kamu nggak sedang menghiburku kan? kamu nggak berbohong kan?" Laras masih belum percaya dengan perkataan Tara.


"Sayang, kenapa kamu nggak percaya pada suamimu? apa kamu benar-benar ingin bertemu dengan ibu kandungmu?" Tara bertanya untuk memastikan.


"Ya ampun, mas. Pakai bertanya lagi, makanya aku meminta kamu untuk membantuku mencari keberadaannya. Karena aku ingin bertemu dengannya, jika bisa aku ingin tinggal bersamanya," Laras berkata panjang lebar untuk meyakinkan Tara.


"Baiklah jika begitu, aku mendapat informasi jika saat ini ibu kandungmu tinggal di luar kota. Gara-gara takut di sakiti kembali oleh mami, makanya dia meninggalkan kota ini," Tara berbohong.


"Aku bersedia, kita pindah ke kota dimana ibumu saat ini tinggal. Supaya kamu bisa bertemu dengan ibu kandungmu," Tara menyunggingkan senyum.

__ADS_1


**************


__ADS_2