
Atin merasa heran pada Tia, begitu mudahnya percaya dengan Tara. Padahal Atin sudah memberikan nasehat yang menurutnya terbaik untuk Tia, tapi malah tidak di hiraukan sama sekali.
"Susah payah aku menasehatinya supaya move on dari Tara, malah sekarang dia lebih terikat pada Tara. Pake apa sih itu Tara? dengan gampangnya memikat wanita? menurutku parasnya biasanya saja tidak ada tampannya sama sekali," batin Atin kesal.
Atin kesal dan kecewa karena usahanya dalam meyakinkan Tia gagal total. Sedangkan Tara malah menguras otaknya memikirkan bagaimana caranya supaya bisa memiliki Atin sepenuhnya.
Waktu begitu cepatnya, tak terasa sudah menjelang makan siang. Seperti biasa Atin membawa bekal dari rumah sendiri. Sedang asik menyantap bekalnya, tiba-tiba datang Tara sudah ada di hadapan Atin seperti tadi pagi.
Atin kembali lagi terhenyak kaget, karena dia sedang asik menunduk, begitu dia menegakkan kepalanya, sudah ada Tara di hadapannya.
"Astaghfiruloh alazdim. Kembali lagi Pak Tara mengagetkanku," Atin mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, kamu terlalu asik makan jadi nggak tahu ada aku di hadapanmu. Bisa nggak, jangan memanggilku pak? memangnya aku sudah terlalu tua?" Tara mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Bapak kan atasan saya, sudah sewajarnya saya memanggil pak. Masa saya memanggil seorang atasan dengan sebutan namanya saja, itu nggak sopan dong," Atin mengerucutkan kembali bibirnya.
"Aku kemari ingin mengajakmu makan siang bersama, malah kamu sudah sedang makan. Kenapa setiap hari kamu membawa bekal sendiri?" tanya Tara penasaran.
"Saya sudah terbiasa makanan rumah, makanya setiap hari saya membawa bekal," ucap Atin singkat.
"Oh begitu, calon istri yang baik dong," canda Tara terkekeh.
"Maksudnya?" Atin mengernyitkan alisnya.
"Iya, benar sekali. Pak Tara, dari tadi di sini? apa nggak ingin makan siang?" Atin sengaja berkata demikian supaya Tara lekas pergi dari ruang kerja Atin.
"Aku kan seorang boz, jadi bisa semauku mau makan siang jam berapapun. Nggak harus tepat jam makan siang, bisa saja saya makan siang jam satu atau dua, bahkan bisa sebelum jam makan siang," kata Tara dengan sombongnya.
__ADS_1
Tara duduk di kursi dimana dulu Tia duduk, membuat Atin semakin kesal saja.
"Sialan, bukannya pergi malah duduk! kenapa orang sebejad Tara nggak cepat mampus, supaya tidak merajalela dalam memperdaya wanita?" batin Atin geram melirik sinis pada Tara.
"Cantika, kamu cantik tapi kok mau ya? makan saja bawa bekal dari rumah. Selain kamu, pasti jaim(jaga imej). Aku sangat suka wanita sepertimu yang nggak mengandalkan rasa gengsi. Cantika, maukah kamu menjadi kekasihku?" Tara mulai melancarkan aksinya merayu Atin.
"Pede amat ini kadal darat!" batin Atin menahan geram.
"Cantika, kenapa kamu diam saja? aku akan membuatmu bahagia selamanya, dan aku berikan apapun yang kamu mau," kembali lagi Tara melancarkan rayuannya.
"Sebenarnya ini suatu kebetulan, karena aku kerja di sini untuk memperdayanya. Tapi aku masih ingin mempermainkan hatinya dulu," batin Atin menyeringai sinis.
"Cantika, apa kamu tidak mempercayai semua yang aku ucapkan padamu? aku harus membuktikannya dengan apa? Cantika, jawablah sayang? kenapa dari tadi kamu hanya diam saja? janganlah kamu membuatku semakin tak karuan. Tidurku tak nyenyak, makanpun tak nikmat. Ayohlah, Cantika. Bukalah hatimu untukku," terus saja Tara merayu Atin dengan berbagai janji manisnya.
__ADS_1
********