Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Pertikaian Tara, Tia, & Mona


__ADS_3

Mendengar nasehat Laras, Reno sudah tidak bisa berkata lagi. Dia hanya diam saja dan pada akhirnya mengalihkan pembicaraan.


"Laras, apa kamu mengetahui tentang Bude Atin dan Kakek Yogi?" tiba-tiba Reno bertanya.


"Tahu, pih. Saat aku tinggal di sana beberapa hari, sempat berkenalan. Bukannya aku pernah cerita ke, papi? kok di tanyakan lagi?" Laras mengerutkan alis.


"Kapan? sepertinya kamu belum pernah bercerita pada, papi?" Reno ragu dengan ucapan Laras.


"Hem, berarti papi yang lupa."


Setelah cukup lama bercengkrama, tak lama kemudian Saras pulang bersama Risky. Laras dan Reno menghentikan obrolannya.


"Papi, sudah pulang? tumben?" Saras menatap Reno penasaran.


"Ya, mi. Kepala rada puyeng, jadi pulang," Reno berpura-pura memijit pelipisnya.


"Ya Allah, minumobat dong, pi. Atau mau aku kerikitn dan pijitin?" tukas Saras menawarankan diri

__ADS_1


"Pijitin saja, mi. Tapi aku mandi dulu ya." Reno bangkit dari duduknya melangkah masuk rumah menuju ke kamar.


Saras menyerahkan Risky pada Laras, dia bergegas mengikuti suaminya ke kamar. Hanya beberapa menit saja, Reno telah selesai menunaikan ritual mandinya.


Dia lekas berbaring tengkurap, Saras pun tak tinggal diam lekas memijat Reno, mulai dari ujung kaki hingga badan dan tangan. Setelah tiga puluh menit berlalu, Saras mengamati Reno.


"Sudah tertidur, aku mau mengecek ponsel milik Mas Reno." Saras meraih ponsel Reno.


"Yah, sejak kapan ponsel Mas Reno memakai sandi? aku jadi nggal bisa membukanya, sialan banget sih Reno" gerutu Saras lirih.


Saras meletakkan ponsel Reno di tempatnya semula, dia berlalu keluar dari kamar dengan suasana hati yang tak menentu karena tak bisa membuka ponsel Reno.


"Mi, kenapa cemberut sih?" Laras menatap heran pada Saras.


"Nggak apa-apa kok, cuma cape saja." Saras gelisah dia bangkit dari duduknya pindah ke kamar lagi.


Laras yang melihat tingkah Saras hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.

__ADS_1


Berbeda situasi di rumah Tara, dimana saat ini Mona sedang meminta pertanggung jawaban dari Tara atas kehamilannya.


"Mas Tara, kapan kamu akan menikahiku? sementara aku saat ini tengah hamil anakmu? kamu bilang akan menikahiku secara resmi, tapi mana buktinya? selalu saja kamu berkilah," Mona menagih janji pada Tara.


"Sabar sedikit lagi kan bisa? aku pasti menikahimu kok, nggak usah khawatir. Saat ini aku sedang banyak urusan jadi belum bisa menikahimu secara resmi, apa lagi statusku dengan Tia masih suami istri," seperti biasa kembali lagi Tara berkilah.


Pembicaraan ini tak sengaja di dengar oleh Tia yang berniat menengok Dita anaknya di kamarnya. Karena kebetulan Tara berada di kamar Dita.


"Apa? jadi selama ini kalian selingkuh di belakangku? sampai Mona hamil segala?" Tia menatap tajam pada Tara dan Mona.


Perlahan air mata Tia tertumpah, rasanya tak percaya tapi memang nyata.


"Iya, bahkan suamimu akan menikahiku setelah menceraikanmu. Makanya kamu nggak usah mrmpersulit, Mas Taea. Lepaskan dia untukku," Mona dengan lantangnya berkata tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Mas, apa benar yang dia katakan? bukannya kamu akan menikahiku secara resmi? tapi kenapa malah kamu selingkuh dengannya?" Tia menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh atara.


Tara diam membisu, karena dia tak bisa berkata apapun. Semua sudah kepalang terbongkar.

__ADS_1


******


__ADS_2