
Intan mengecek dua restorannya di dampingi oleh Kevin. Akan tetapi pikirannya selalu terngiang ucapan Keano dan Kevin. Selama dalam perjalanan menuju ke restoran, Intan hanya diam saja.
"Apa keputusanku ini menyakitkan tidak ya? memang tidak di pungkiri, jika Mas Keano dan Kevin selama ini sangat baik padaku. Tapi tidak di pungkiri juga, jika aku benar-benar masih sangat trauma," batin Intan seraya bertolak belakang.
"Mah, kenapa melamun? apa karena omonganku dan papah ya? kami minta maaf ya, mah. Terutama aku yang terlalu memojokkan mamah," tatapan sedih terpancar dari wajah Kevin yang sedang fokus mengemudi.
"Mamah yang seharusnya minta maaf pada papah dan kamu, karena mamah tak langsung memberikan keputusan yang baik. Padahal selama ini kalian selalu ada di setiap kondisiku. Sekali lagi mamah minta maaf," Intan mengusap pipi kiri Kevin.
"Mah, biasa saja kali. Baper ya, duh sampai sebegitunya? aku sama papah bisa memaklumi, jika kami ada di posisi mamah, kami juga akan melakukan hal yang sama," Kevin menyunggingkan senyuman.
"Mamah berharap, kalian tidak akan kecewa dan selalu ada di samping mamah seperti biasanya. Mamah akan melakukan sholat istiqaroh, supaya Allah memberikan suatu keputusan yang tepat dan tidak mengecewakan kalian juga mamah," Intan memberikan sebuah kata supaya tidak mematahkan semangat Kevin.
Intan merasa khawatir, keputusannya akan membuat Keano dan Kevin perlahan menjauhinya. Padahal dia telah nyaman dengan kehadiran mereka berdua.
__ADS_1
"Mamah Intan tersayang, janganlah seperti ini. Bukannya tadi sudah aku katakan jika kami tidak akan marah atau kecewa, apalagi menjauh dari mamah. Jujur, aku tak bisa menjauh dari mamah. Sejak aku mengenal mamah, yang ada ingin selalu ada di samping mamah," Kevin menaik turunkan alisnya menggoda Intan.
Karena asik bercengkrama, mereka tak menyadari saat ini sudah sampai di pelataran restoran cabang kedua.
Kevin dan Intan lekas keluar dari mobilnya, mereka melangkah berdampingan masuk ke dalam restoran.
Semua pelayan wanita yang ada di restoran tersebut menatap tak berkedip melihat Kevin. Parasnya tampan tak kalah dengan paras papahnya.
Para pelayan yang mendapat sapaan dari Kevin, semua bersorak kegirangan dan ada yang mengedipkan matanya, ada yang mengacungkan jempolnya.
Intan yang melihatnya hanya menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang. Intan mengkelitik perut Kevin.
"Mah, sukanya rese dech. Masa aku di kelitik begini? ampun dah, mah," Kevin merasa kegelian.
__ADS_1
Dalam hati Kevin sangat senang, karena sejak mengenal Intan dan dekat dengannya, dia serasa menemukan sosok seorang ibu.
"Ya Allah semoga kelak Mamah Intan bersedia menjadi mamah sambungku, aku sangat berharap. Karena aku sudah sangat nyaman bersamanya," sepenggal doa Kevin di dalam hati seraya menatap Intan penuh kasih dan sayang.
Setelah cukup lama di restoran cabang kedua, kini Intan mengajak Kevin ke restoran yang satunya lagi.
Jarak dari restoran yang satunya tak begitu jauh hanya sepuluh menit perjalanan. Saat mereka sampai dan akan masuk ke dalam restoran, mereka berpapasan dengan Reno dan Saras.
Reno sangat sumringah saat bertemu dengan Intan, akan tetapi tidak dengan Saras, dia langsung pasang wajah murung.
Saat Reno akan menyapa Intan, tangannya langsung di seret oleh Saras.
********
__ADS_1