
Atin merasa iba pada Tia, hingga pada saat Tia melintas di sampingnya, Atin mencekal lengannya.
"Tunggu sebentar." Pinta Atin menatap sendu pada Tia.
Hingga akhirnya Tia berhenti sejenak.
"Cantika, kenapa kamu menahannya pergi?" Tara merasa geram atas ulah Atin.
"Maaf, pak. Seharusnya bapak bersikap bijaksana dan adil sebagai seorang pimpinan. Tidak seperti ini caranya, pak." Tegur Atin pada Tara.
"Apa maksudmu, Cantika?" Tara pura-pura tak tahu.
"Bapak menyingkirkan dia begitu saja dan menggantikan posisinya dengan saya, maaf saja jika begini caranya saya batalkan saja bekerja di kantor ini. Saya tidak ingin menyakiti pekerja lainnya," Atin akan melangkah keluar, tapi di tahan oleh Tara.
"Tunggu, Cantika. Kita kan bisa bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Masa cantik-cantik kok pemarah, sih?" Tara mengedipkan matanya genit pada Cantika.
"Baiklah, pak. Sebaiknya biarkan saya saja yang ada di bagian staf, dan dia tetap berada di ruangan ini. Itu menurut saya cukup adil," saran Cantika.
Sejenak Tara terdiam, dia merasa apa yang di katakan Cantika tidak menguntungkan baginya. Kareba jika Cantika berada di bagian staf biasa, dia akan sulit untuk bisa mendekatinya.
"Begini saja, di ruangan ini kan ada dua meja dan dua kursi. Jadi alangkah lebih baiknya kalian berdua di satu ruangan yang sama. Jadi Tia tidak perlu pindah di bagisn staf," pinta Tara.
"Begitu saja ya, Cantika. Dan kamu Tia, bekerja samalah dengan Cantika dengan baik. Ajari dia segala hal, karena dia baru di sini," pinta Tara menatap ke arah Tia.
"Baik, pak." Jawab Tia tertunduk lesu.
Setelah itu Tara pergi dari ruangan tersebut dan melangkah ke ruang kerjanya dengan membawa CV milik Atin.
Atin segera duduk di tempat yang telah tersedia, begitu pula Tia duduk kembali di kursinya. Namun Tia memandang tak suka pada Atin, dan Atin bisa merasakan hal itu.
"Ternyata Tara benar-benar playboy, aku yakin wanita ini juga sudah menjadi korban Tara," batin Atin.
__ADS_1
"Maaf, jika kehadiranku di sini membuatmu tak nyaman. Boleh kita berkenalan? namaku, Cantika. Siapa namamu?" Atin mengulurkan tangannya seraya menyunggingkan senyuman.
"Nggak usah kamu sok berbaik hati padaku, sampai kapanpun aku nggak akan sudi berteman denganmu!" Tia melirik sinis dan berkutat dengan berkasnya kembali.
"Baiklah, jika kamu tidak bersedia bekerja sama denganku. Aku akan melaporkan hal ini pada, Pak Tara. Apa kamu tidak lihat barusan, dia lebih memilihku dari pada dirimu," Atin mengancam Tia.
Sejenak Tia terdiam, memikirkan apa yang di katakan oleh Atin.
"Aduh, gawat jika dia melapor pada Pak Tara. Aku malah bisa di pecat olehnya," batin Tia merasa panik.
"Baiklah, maafkan aku. Tapi tolong jangan laporkan hal ini pada, Pak Tara. Aku janji akan bersikap baik padamu," Tia menangkupkan kedua tangannya di dada seraya menatap sendu pada Atin.
"Nah, seperti ini kan enak. Lagi pula aku tidak berniat mengambil Pak Tara darimu. Aku tahu jika selama ini kalian ada hubungan istimewa." Atin menyunggingkan senyuman.
"Bagaimana kamu tahu?" Tia mengernyitkan alisnya.
"Dari perkataanmu yang sempat terpotong oleh Pak Tara. Dan dari tatapan matamu padanya," kata Atin begitu yakinnya.
"Aku minta maaf, jika aku telah menyakitimu," Atin menghampiri Tia mengusap lengannya.
Air mata Tia mulai mengalir begitu derasnya, membuat Atin semakin penasaran dan merasa bersalah.
"Begini saja, sepulang kerja kita ke taman. Kamu bisa ceritakan semua bebanmu padaku. Mungkin saja aku bisa membantumu," Atin mencoba menghibur Tia.
"Tapi apa kamu tidak akan mengadu pada, Pak Tara? jika aku telah jujur padamu?" Tia merasa ragu dengan ucapan Atin.
"Percayalah padaku, aku bukan tipe wanita yang suka menjatuhkan wanita lain. Jika aku seperti itu, tadi aku tidak akan membelamu, pikirkanlah ucapanku." Atin meyakinkan Tia.
"Sekarang berhentilah menangis, dan usaplah air matamu." Atin memberikan satu box tisue pada Tia.
"Terima kasih." Tia mencoba tersenyum dan menerima tisue pemberian Atin.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepatnya, kini telah siang. Dimana saatnya makan siang bagi para pekerja kantoran. Tara menelpon dari ruang kerjanya, meminta Atin untuk bersiap-siap. Karena Tara akan mengajak Atin untuk makan siang bersama.
"Haduh, kalau bukan demi Keano, aku malas berhadapan dengan pria yang sok kegantengan seperti Tara!" batin Atin mendengus kesal.
"Ternyata enak kerja di kios pasar, dari pada di kantoran," keluh kesah Atin di dalam hati.
Tara telah menunggu Atin di parkiran mobilnya. Namun Atin tak kunjung datang, hingga Tara menelpon nomor ponselnya. Namun nomor ponsel Atin tidak aktif.
"Sialan, kenapa dia bersikap seenaknya padaku! padahal jika aku mengajak wanita lain sangat mudah. Kadang malah para wanita yang mencari perhatian padaku!" batinnya mendengus kesal seraya sesekali memukul kemudinya.
Atin sengaja melakukan hal itu, supaya Tara semakin penasaran padanya sehingga terus mengejarnya.
"Biarkan saja dia menunggu lama, tapi aku tidak akan datang. Lagi pula aku malas jalan berdua dengan pria playboy seperti dia. Di samping itu, aku juga ingin membuat trik supaya dia tergila-gila padaku," Atin menyunggingkan senyum seraya menyantap makanan yang di bawanya dari rumah.
Atin sudah terbiasa kemana-mana membawa bekal makanan sendiri. Menurut dia lebih higienies dan terjamin kesehatannya.
Sejenak setelah dia makan siang di dalam ruangannya, dia membuka dompetnya menatap sebuah foto yang tengah usang. Foto pengantin orang tuanya.
"Ibu, sudah lama aku mencarimu. Tapi tak jua bertemu denganmu, aku sampai tak tahu harus mencari kemana lagi. Ibu, aku sampai takut berdekatan dengan pria. Mengingat apa yang pernah ayah perbuat pada, ibu. Aku sangat takut, karma ayah jatuh padaku, bu." Gerutu Atin dalam hati seraya menahan supaya air matanya tidak sampai tertumpah.
"Ya Allah, pertemukanlah aku dengan ibu dan adikku." Doa Atin dalam hati.
Dia segera menutup dompetnya dan menyimpannya di dalam tas.
Sementara Tara sedang melangkah menuju ke ruang kerja Atin.
"Cantika, kamu ini kenapa? aku sudah berbaik hati mengajakmu untuk makan siang, padahal wanita lain bahkan sampai mencari perhatian untuk bisa sekedar makan siang denganku. Tapi kenapa kamu seperti ini?" Tara menatap tajam Atin seraya berkacak pinggang.
"Maaf, pak. Bukankah saya telah menolaknya? ini bukan kesalahan saya, tapi kesalahan bapak sendiri yang berpikiran jika saya akan menerima tawaran dari bapak," kata Atin menahan geramnya.
"Kenapa pula bapak nggak ajak saja wanita lain yang suka mencari perhatian dari bapak? seperti yang bapak katakan, pasti mereka akan melakukannya dengan senang hati." Atin kembali lagi berkata.
__ADS_1
*********