
Laras akan mengatakan tentang biaya rumah sakit, merasa canggung. Dia hanya diam saja, berpikir apakah sebaiknya meminta pada pihak rumah sakit, untuk sejenak dia mengambil uang di rumah.
"Laras, kenapa kamu diam saja?" Reno mengusap bahunya.
"Paling sedang bigung biaya rumah sakit," sela Saras seraya menggendong Rizky.
"Memangnya suamimu tidak menitipkan uang padamu?" Reno mengernyitkan alisnya.
"Tidak, pi. Aku juga cuma bawa uang ala kadarnya saja, aku ada sih uang tapi di rumah." Ucapnya seraya tertunduk lesu.
"Kenapa sungkan cerita ke papi, ya sudah biar papi yang selesaikan biaya administrasinya." Reno melangkah keluar menuju ke bagian administrasi.
Dia segera membayar semua tanggungan rumah sakit. Setelah selesai urusannya, dia kembali ke ruang rawat Rizky.
"Yuk, kita pulang. Biaya administrasi sudah beres." Reno membawa semua perlengkapan milik Rizky.
"Pi, terima kasih ya. Nanti di rumah aku ganti uangnya, papi." Laras menyunggingkan senyum keterpaksaan.
"Sudah, nggak usah kamu pikirkan. Yang terpenting cucu papi telah sehat," Reno menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Mereka segera pulang ke rumah Laras.
30 Menit Kemudian..
"Laras, kami pulang dulu. Kamu nggak apa-apa kan, di tinggal sendirian?" Saras mengernyitkan alis.
"Iya, mi. Nggak apa-apa kok, sebentar lagi pasti Mas Tara pulang." Jawab Laras singkat.
"Pi, yuk pulang." Ajak Saras.
Reno dan Saras pun pulang, sementara Laras di rumah hanya bersama Rizky dan seorang asisten rumah tangga.
"Mas Tara suka aneh, di saat sedang penting pasti nggak ada. Kadang aku suka bingung dan curiga dengan sikap suamiku." Gerutu Laras.
"Kok aku ingat perkataan papi tentang ibu kandungku yang bernama Intan. Tadi aku belum sempat bertanya bagaimana wajah ibu kandungku dan apakah papi tahu keberadaan ibu kandungku?"
Intan sejenak melamunkan perkataan dari Reno tentang ibu kandungnya.
"Besok aku akan menemui Bu Intan, dan aku akan minta solusi padanya tentang permasalahanku ini. Dia kan usianya lebih tua dariku, dan seumuran Mami Saras," batin Laras.
__ADS_1
*********
Tak terasa pagi menjelang, saat ini Tara tidur di rumah Intan. Membuat Laras kalang kabut, karena Tara tak pulang.
"Mas Tara, kemana sih? kok nggak pulang nggak memberi kabar ya? padahal pagi ini aku ingin bertemu dengan Bu Intan." Laras mondar mandir kebingungan seraya memijit pelipisnya.
"Alangkah baiknya jika aku pergi saja sendiri dan menitipkan Rizky pada bibi," batinnya.
Laras benar-benar menitipkan Rizky pada asisten rumah tangganya. Dia ingin menemui Intan. Dia pergi dengan mengendarai taxi on line.
"Aku akan coba menemui Bu Intan di restorannya yang waku itu aku bertemu dengannya," gumamnya.
"Tapi sebaiknya aku telpon, Bu Intan. Supaya dia tidak kaget , saat aku datang." Laras meraih ponselnya dan mencoba menelpon Intan.
Namun Intan sedang tidur nyenyak, sehingga tidak mendengar adanya telpon. Justru Tara yang sempat mendengar ponsel berdering.
"Siapa yang sebenarnya menelpon Intan, mengganggu istirahat dia saja." Tara meraih ponsel Intan yang berada di tasnya.
"Loh, ini kan nomor ponsel Laras. Untuk apa pula dia menelpon Intan?" Tara malah merijek panggilan telpon dari Laras.
__ADS_1
Bahkan dia memblokir nomor ponsel Laras tanpa sepengetahuan dari Intan. Karena saat ini Intan sedang tidur nyenyak.
*********