
Penuturan dari, Monalisa membuat Tara langsung lemas. Dia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor bersama mertuanya.
"Maaf ya, mas. Sebenarnya aku telah berbohong padamu, aku tidak sedang datang bulan. Aku hanya sedang tak ingin melakukannya saja," batin Monalisa.
Hanya beberapa menit saja, Tara telah siap. Dia menyeberang jalan menuju ke rumah mertuanya. Kebetulan, Delta juga telah siap.
"Tara, kamu saja yang mengemudikan mobilnya ya." Delta memberikan kontak mobil pada, Tara.
"Baiklah, pah."
Mereka lekas ke kantor, Delta dengan Tara sebagai pengemudi mobilnya. Perjalanan hanya sepuluh menit telah sampai.
Delta menunjukkan ke ruangan staf untuk dirinya bekerja.
"Untuk sementara kamu berada di sini, jika hasil kerjamu memuaskan, pasti aku akan memindahkanmu di bagian yang lebih tinggi," tukas Delta.
"Kamu pelajari dulu semua dokumen yang ada di meja kerjamu itu. Jika ada yang kurang paham, bisa meminta tolong pada teman yang lain," tukas Delta kembali.
__ADS_1
"Baiklah, pah."
Setelah cukup lama memberi pengarahan pada, Tara. Delta kembali ke ruang kerjanya. Sejenak dia terdiam termenung sendiri, entah apa yang telah dia pikirkan saat ini.
Sementara, Tara mulai membuka satu persatu dokumen yang ada di hadapannya. Dia benar-benar serius mempelajarinya, supaya bisa bekerja dengan baik dan tidak berlama-lama duduk di kursi staf.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa sudah satu bulan, Tara kerja di kantor mertuanya sebagai staf biasa.
"Tara, ini gaji pertamamu bekerja di kantor ini. Semoga kedepannya kamu bisa bekerja lebih baik lagi, untuk sementara kamu masih di staf dulu ya. Tolong bersabar." Delta memberikan amplop putih pada, Tara.
Untuk karyawan yang lain sudah ada yang membagikan gaji yakni bagian keuangan. Tapi khusus untuk Tara, Delta yang memberikannya sendiri.
Tara pulang dan tak langsung menyerahkan gajinya pada, Monalisa. Taoi sejenak dia mengecek gajinya. Karena ingin mengetahui jumpah nominalnya.
"Lima juta, ya lumayan dech dari pada tidak ada uang sama sekali. Aku akan memberikan gajiku empat juta untuk, Mona. Dan satu juta untuk peganganku."
"Mona, ini gaji pertamaku selama bekerja di kantor papahmu."
__ADS_1
"Terima kasih, mas." Monalisa menerimanya dengan senyuman.
Lantas dia membuka uangnya dan menghitungnya.
"Adanya cuma segitu, kalau bisa kamu sisihkan sedikit untuk menabung," tegas Tara.
"Tenang saja, mas. Aku akan bijak menggunakan uang darimu, jadi kamu tak usah khawatir," tegas Monalisa.
"Sebenarnya aku mengetahui nominal gajimu, mas. Karena, papah mengatakannya padaku. Tapi nggak apa-apa, mungkin untuk pegangan kamu sendiri," batin Monalisa seraya menghela napas panjang.
"Aku sudah sangat bersyukur, kamu bersedia bekerja. Semoga kedepannya kamu bisa lebih maju dan lebih baik lagi," harapan Monalisa di dalam hati.
Kini Monalisa tak lagi meminta, Tara mengerjakan pekerjaan rumah, karena Tara sudah bekerja.
"Kenapa aku selalu teringat anak-anakku? teringat Risky, Dita, dan Adam. Seharusnya biar pun telah berpisah, aku tetap harus menafkahi mereka. Tapi aku sama sekali tak menghiraukan mereka," Tara sedang gelisah di dalam hatinya.
"Aku bahkan tak tahu dimana saat ini keberadaan, Laras dan Tiara? entahlah, jika aku memikirkannya kepalaku serasa mau pecah," gerutunya kembali di dalam hati.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu melamun?" tiba-tiba Monalisa menegurnya seraya meneouk lenganya.
******