
Monalisa agak kesal saat mendengar perkataan mamahnya, sebenarnya apa yang di katakan ada benarnya. Tapi, Monalisa belum juga menyadari kesalahannya.
"Nak, mamah minta maaf. Bukannya mamah membela, Tara. Mamah, hanya berkata apa yang sebenarnya kan? apa kamu lupa, dulu kamu mendapatkan, Tara dari hasil merebut dari istrinya."
"Jika pada saat itu, kamu sedang tidak hamil pasti kami selaku orang tua tidak akan merestuimu."
Sejenak, Monalisa terdiam mendengar penuturan mamahnya.
"Sebenarnya apa yang di katakan oleh, mamah ada benarnya juga. Aku bahagia di atas derita wanita lain, mungkin ini yang membuat rumah tanggaku seperti ini."
"Mah, aku minta maaf ya? sudah berbuat seperti ini, bukannya membuat kalian bangga tetapi malah membuat kalian malu," Monalisa tertunduk lesu.
"Sudahlah, nak. Tak usah kamu sesali yang sudah terjadi, sebaiknya perbaiki diri untuk masa depan, Marsya."
"Jika, Tara tak bisa bertindak tegas. Kamu yang seharusnya bertindak tegas padanya. Jangan selamanya kamu diam jika dia tak bersedia mencari nafkah."
"Baik, mah. Aku jelas nggak akan diam begitu saja, nanti dia malah semakin bertindak semaunya," tukas Monalisa meyakinkan mamahnya.
__ADS_1
Menjelang sore, Monalisa pulang ke rumah. Dia begitu kesal saat melihat kondisi kamar berantakan bagai kapal pecah. Sementara, Tara entah ada di mana.
"Astaghfiruloh alazdim, kenapa berantakan sekali seperti ini? lantas kemana, Mas Tara?"
Monalisa mencari keberadaan, Tara. Dari sudut ruangan ke ruangan yang lain yang ada di dalam rumah, tapi tak kunjung ketemu.
"Hem, lihat saja. Jika kamu pulang, aku tak kan mengijinkanmu masuk!" gerutu Monalisa mendengus kesal.
Sementara, Tara saat ini sedang melangkah entah akan kemana. Dia seperti orang yang bingung, tak punya tujuan.
"Kenapa sejak menikah dengan, Mona hidupku malah nggak karuan seperti ini? aku harus bagaimana, supaya kehidupan seperti dulu lagi? sedangkan aku sudah tak punya apa pun sama sekali, uang pun tak ada," gerutu Tara dalam hati seraya terus melangkah entah akan kemana.
"Intan, apakah anak kecil itu anakku? sekarang Intan sedang hamil?" gerutunya seraya tak ada rasa malu menghampiri, Intan dan Keano yang sedang menggendong, Adam.
Mereka berjalan akan pulang karena waktu telah menjelang sore.
"Intan, tunggu!" teriak, Tara menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Sejenak, Intan dan Keano terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Intan dan Keano saling berpandangan sejenak.
"Intan, apakah dia anakku? bolehkah aku sejenak menggendongnya?"
Intan kembali menatap Keano seolah meminta persetujuannya. Keano menganggukkan kepalanya.
"Nak, ini papah. Sini sama, papah." Tara menghampiri, Adam yang sedang berada di gendongan, Keano.
Akan tetapi, Adam justru menangis histeris ketakutan saat melihat Tara. Adam, bahkan memalingkan wajahnya menelusup masuk ke dada, Keano.
"Adam, nggak mau denganmu. Jadi nggak usah kamu mencoba mendekatinya lagi," ucap Intan ketus.
"Tapi aku ini, papahnya? apa kamu nggak bisa membuatnya mau ikut denganku?" Tara menatap sendu pada Intan.
"Sejak kapan kamu merasa menjadi, papahnya? selama, Adam berada di dalam kandungan, kamu hanya memikirkan kesenanganmu saja," Intan menatap sinis pada Tara.
"Pah, sebaiknya kita pulang karena sebentar lagi maghrib." Intan bergelayut di lengan, Keano.
__ADS_1
Tara hanya terpaku diam tanpa bisa berkata apa pun.
*****