
Laras mengernyitkan alis, saat mengetahui mobil Tara tidak ada di garasi.
"Mas Tara, memangnya tengah malam begini pergi kemana dia?"
Setelah tak mendapati adanya Tara, Laras kembali ke dalam kamarnya.
Sementara saat ini, Tara telah sampai di halaman rumah kumuh milik Tia. Tara berjalan sangat pelan mengetuk pintu rumah Tia. Tia yang mendengar suara ketukan pintu tapi tanpa ada sura merasa penasaran, hingga dia bangkit dari tidurnya.
Dan saat membukakan pintu, dia terhenyak kaget melihat Tara datang di tengah malam.
"Pak Tara, untuk apa anda kemari di tengah malam?" Tia mengernyitkan alis tanda bingung.
Tara tidak menjawab pertanyaan dari Tia, dia malah menarik tangan Tia ke kamar Tia.
"Aku sedang ingin denganmu, jadi kamu nggak bisa menolaknya," Tara bersikap beringas.
Tia menjauh dari Tara, dia paling tidak suka jika dalam situasi seperti ini. Saat Tara meminta sesuatu yang bukan haknya, karena selama ini mereka belum melangsungkan pernikahan.
"Aku tidak mau, selama ini kita salah melakukan ini tanpa ada ikatan pernikahan. Selama ini kamu juga telah berbohong padaku, setelah apa yang kamu perbuat padaku."
"Mana pernikahan yang selalu kamu janjikan padaku? bahkan kamu bohong pada warga sini, dengan mengatakan jika kita suami istri."
"Kamu juga bohong pada ibuku. Semua orang kamu bohongi dengan bukti palsu, yakni surat nikah palsu."
"Mau sampai kapan, kamu mau memperalatku? aku sudah tidak mau lagi memenuhi keinginanmu, jadi pergilah dari rumahku."
Serentetan ucapan dari Tia sebagai luapan rasa emosinya. Karena selama ini Tara telah berbohong padanya.
"Ssstt, jangan keras-keras nanti membangunkan ibu dan anak kita?" Tara terus saja mendekati Tia.
"Kenapa sekarang kamu tidak menurut? siapa yang mengajarimu untuk menjadi wanita pembakang?" Tara terus saja melangkah menghampiri Tia.
__ADS_1
"Pergilah, dan jangan pernah datang lagi!" Tia terus saja memundurkan badannya.
"Aku yakin, kamu tidak serius mengusirku? kamu mau aku pecat, dan kamu tidak mendapat jatah bulanan dariku? apa kamu bisa hidup tanpaku, sementara kamu punya anak? nggak akan ada pria yang mau menerima kondisimu seperti ini. Jadi terima saja takdirmu menjadi wanita simpananku," Tara menyeringai sinis.
"Pak Tara, aku mohon jika kamu memang peduli pada anakmu? nikahi aku, dan aku akan selalu menuruti semua maumu. Apa kamu tega, kelak anakmu tumbuh tanpa status yang jelas? bagaimana kelak dia sekolah, bahkan untuk membuat aktepun aku tak bisa." Tia menyerah dengan keadaanya.
Dia tidak ingat dengan semua yang Atin katakan waktu sore hari.
Sejenak Tara terdiam, dia memang sangat menginginkan seorang anak wanita. Dan saat ini dia sudah mendapatkannya dari Tia, walaupun dengan cara liciknya.
"Baiklah, besok kita menikah siri. Karena statusku masih suami sah istriku. Nanti kalau aku sudah bercerai dari Intan, aku akan menikahimu secara resmi. Jadi sekarang kamu jangan ragukan aku lagi." Tara meyakinkan Tia dengan segala rayuannya.
Tia tak mengetahui jika Intan cuma istri siri dari Tara. Semua orang yang bekerja di perusahaan mengetahui jika Tara suami resmi Intan. Begitu pula semua karyawan yang ada di restoran Intan, juga tahunya Tara suami resmi Intan.
"Apa ucapanmu bisa di percaya? karena selama ini kamu telah berbohong padaku," Tia masih ragu dengan ucapan Tara.
"Tia sayang, bukankah kamu menginginkan jika aku bertanggung jawab atas dirimu dan bayi kita?" Tara terus saja membujuk Tia supaya dia bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Apa salahnya, kali ini aku percaya dan memberinya satu kesampatan padanya. Mungkin kali ini dia benar-benar akan menikahiku. Walaupun nikah siri nggak apa-apa, yang penting dia tanggung jawab sepenuhnya atas aku dan anakku," batin Tia mulai luluh dengan rayuan Tara.
Terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Tara sangat puas karena keingiannya tercapai.
Pagi menjelang, Tara meminta supaya Tia tidak bekerja hari ini. Karena Tara sudah memutuskan untuk menikahi Tia secara siri.
"Nak Tara, datang kok ibu nggak tahu?" sapa Bu Ita.
"Hhhe iya, ibu. Kebetulan aku pulang sudah larut malam, bu." Tara mencium punggung tangan Bu Ita.
Begitulah sikap Tara pada ibunya Tia, dia bersikap sangat ramah. Tara juga terkenal baik hati di sekitar warga setempat.
Dia pintar bersandiawara, dia selalu mengadakan kegiatan amal berbagi sembako dengan warga setempat hanya untuk pencintraan saja.
__ADS_1
Tara berpamitan pada Bu Ita untuk mengajak Tia keluar sebentar.
"Bu, aku nitip Dita ya? karena aku ingin mengajak Tia keluar sebentar. Ada acara pertemuan dengan klien baruku. Aku kan harus mengajak istriku tercinta ikut," ucap Tara tersenyum ramah pada Bu Ita.
"Iya, Nak Tara. Kalian yang hati-hati di jalan. Semoga sukses usahanya ya," ucap Bu Ita.
Setelah bersiap-siap sebentar, mereka lekas berangkat ke sebuah masjid yang ada di lain desa untuk melakukan pernikahan siri.
Hati Tia sangat bahagia, karena kini apa yang dia inginkan tercapai. Tara akan menikahinya walaupun hanya siri. Dia percaya saja jika suatu saat nanti Tara akan menceraikan istri sahnya.
Tak berapa lama, Tara dan Tia telah berada di masjid yang di tuju untuk melakukan pernikahan siri.
Hanya beberapa menit saja, pernikahan siri telah selesai di laksanakan. Mereka lekas kembali ke rumah. Namun terlebih dulu Tara mengajak Tia ke taman.
"Sayang, sebenarnya aku bukan ingin ingkar janji padamu dengan tidak menikahimu," Tara menggenggam erat kedua tangan Tia.
"Sebenarnya aku menginginkan pernikahan resmi denganmu. Aku belum bisa bercerai dari Intan, karena saat ini dia sedang sakit keras. Menurut perkiraan dokter, umurnya tinggal beberapa bulan lagi," ucapnya berbohong.
"Kamu selalu saja tak sabar, sebenarnya aku kurang setuju dengan pernikahan siri kita, tapi kamu selalu saja menuduhku yang macam-macam," lagi-lagi Tara berbohong.
"Mulai sekarang jangan memanggilku, pak. Tapi panggilku layaknya seorang istri pada suaminya." Tara mengecup lembut kedua tangan Tia.
"Baiklah, mas." Tia tersipu malu.
"Kamu harus menurut denganku, karena aku sudah menjadi suamimu. Mulai besok dan selamanya, kamu nggak perlu lagi bekerja," pinta Tara.
"Hari ini juga, kita akan ke rumah baru untukmu dan ibumu. Aku nggak ingin kalian tinggal di rumah jelek itu," ucap Tara.
"Apa kamu serius, mas?" Tia merasa tak percaya.
"Kamu meragukanku? yuk kita ke rumah barumu, aku telah mempersiapkan sebelumnya untuk kalian. Hanya niatnya aku berikan jika kita sudah menikah resmi. Tapi ya sudahlah, sekarang saja kamu dan ibumu tinggal di rumah baru," ucap Tara meyakinkan Tia.
__ADS_1
Tia menyanggupi jika dirinya tidak bekerja lagi di kantor Tara. Asalkan Tara benar-benar bertanggung jawab penuh dengan dirinya dan anaknya.
******