Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Datangnya Reno Ke Rumah Tara


__ADS_3

Laras menyetujui kemauan Intan, dia meminta sopir taxi on line untuk mengantarkan dirinya ke apartement Intan.


Sementara Tara masih saja panik dan gelisah. Dia harus beralasan apa pada Tia, karena yang Tia tahu istrinya adalah Intan.


Tiapun merasa ada yang janggal dengan Tara, sejak kedatangan Laras, wajah Tara berubah menjadi pusat pasi.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh, Mas Tara," batin Tia seraya mengernyitkan alisnya.


"Mas, wanita barusan siapa? sepertinya ada hubungan spesial denganmu?" Tia menatap curiga pada Tara.


"Entahlah, aku sama sekali nggak kenal dengannya. Makanya saat dia datang, aku merasa kaget," Tara berkilah dengan kebohongannya.


"Tapi kelihatannya dia sangat mengenalmu, mas?" kembali lagi Tia berkata memojokkan Tara.


"Kenapa kamu tak percaya padaku? bisa saja ada yang nggak suka padaku, saingan bisnisku mungkin, membayar wanita tadi untuk mencemarkan nama baikku," kembali lagi Tara berkilah.


"Hem, iya juga sih. Sekarang banyak cara untuk menjatuhkan lawan," Tia mulai percaya dengan bualan Tara.


"Lebih baik kita masuk saja, kasihan Dita jika terlalu lama di luar." Tara merangkul Tia membawanya melangkah masuk ke dalam rumah.


Sementara Tara terus saja gelisah di dalam hati, dia sudah tak sabar ingin pulang ke rumah Laras untuk membujuknya supaya tidak marah lagi. Akan tetapi dia belum ada alasan yang tepat untuk menjelaskan tentang Tia pada Laras.


"Aku harus mengatakan apa pada laras, supaya dia percaya dan tetap bertahan menjadi istriku?" batin Tara terus saja gelisah.


Tara terus saja gelisah, pikirannya tak tenang. Dia ingin lekas pergi ke rumah Laras, akan tetapi alasan apa dengan Tia.


Sementara Laras terus saja menangis di dalam mobil taxi, hingga sopir merasa iba. Karena sang sopir sempat melihat Tara dan Tia.


"Pasti pria tadi suami wanita ini, dan wanita yang bersama pria tadi pacar atau selingkuhannya. Ih, amit-amit. Aku nggak akan berbuat jahat seperti pria itu," batin sang sopir terus saja sesekali melirik ke arah Laras.


Nan jauh di sana, Intan sudah menunggu kedatangan Laras. Dia gelisah mondar-mandir di depan teras rumah. Selagi gelisah, ponselnya berdering. Dia berpikir dari Laras, tapi ternyata dari Reno.


πŸ“±"Asalamu alaikum."


πŸ“±"Walaikum salam wr wb. Ada apa ya, Mas Reno?"


πŸ“±"Apa Laras sudah sampai di rumahmu?"

__ADS_1


πŸ“±"Kok, Mas Reno. Tahu kalau Laras akan kemari. Belum sampai, mas. Ini dari tadi aku menunggunya."


πŸ“±"Oh iya, mas. Jika suatu saat nanti Tara mencari keberadaan Laras, tolong jangan di beri tahu. Tadinya Laras akan pulang ke rumahmu, tapi aku yang mengusulkannya supaya datang kemari saja."


πŸ“±"Apakah mereka sedang ada masalah? Laras sempat akan ke rumahmu, dia tidak berkata apapun."


πŸ“±"Nanti aku kirim beberapa vidio yang membuat Laras menjadi pergi dari rumah. Ini semua hasil penyelidikan dari orang bayaranku."


πŸ“±"Aku kok jadi penasaran, aku tutup telponnya dan kamu lekas kirim vidionya ya."


Reno lekas mematikan panggilan ponselnya, dan dia sedang gelisah ingin mengetahuj vidio yang Intan katakan.


Setelah Reno mematikan panggilan telponnya, Intanpun melakukan hal yang sama. Dia lekas mengirim beberapa vidio dari Keano.


Saat Reno melihat beberapa vidio yang dikirim oleh Intan lewat notifikasi chat pesan, emosinya langsung membara, tangannya mengepalkan tinjunya. Reno mengirim notifikasi chat pesan pada Intan untuk menanyakan dimana lokasi keberadaan Tara, intinya alamat lengkapnya.


Intan lekas mengirim alamat lengkap rumah Tara bersama Tia, pada Reno melalui notifikasi chat pesan.


Setelah mendapatkan alamat rumah tersebut, Reno langsung melangkah ke garasi. Akan tetapi di tahan oleh pertanyaan dari Saras.


"Pi, mau kemana? kok seperti emosi sekali dan terburu-buru?" Saras mengetnyitkan alis.


"Memangnya ada apa lagi?" Saras terus saja penasaran.


"Nanti saja jelaskannya, keburu Taranya kabur. Aku ingin menangkap basah dirinya." Reno berlalu begitu saja, dia langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke garasi dan lekas melajukan mobilnya.


"Pi, mami ikut dong." Saras berlari kecil menyusul Reno ke garasi, tapi Reno telah bergerak cepat.


Reno langsung melajukan mobilnya begitu cepat, hingga Saras tak bisa menjangkaunya.


"Yaaahhhh, malah sudah jalan duluan. Padahal aku juga ingin mengetahui apa yang telah Tara perbuat, sampai Mas Reno sangat marah." Saras melangkah masuk ke dalam rumah.


Sementara Reno sengaja melajukan mobilnya dengan cepat supaya lekas sampai di perumahan elite dimana ada salah satu Tara.


Karena laju mobil yang begitu cepat, hingga hanya beberapa menit saja telah sampai di rumah Tara.


Reno sengaja mengamati dari luar, namun dia tak bisa melihat dengan jelas. Reno memutuskan keluar dari mobilnya, dan melangkah masuk pelaran rumah tersebut.

__ADS_1


Saat Reno sudah ada di depan pintu rumah tersebut, dan akan memencet bel rumahnya. Tiba-tiba ada seseorang membuka pintunya, yang tak lain adalah Tara.


Tepat di belakang Tara, ada Tia mengikutinya.


"Mas Tara, nanti pulang kemari kan?" tanya Tia memastikan.


"Entahlah, kita lihat saja situasi dan kondisinya," jawab Tara seraya membuka pintu rumah.


Tara terhenyak kaget saat melihat ada Reno di depan pintu rumahnya. Sejenak matanya membola, mulutnya terperangah.


"Kenapa kaget?" Reno menyeringai sinis.


Belum juga Tara berkata, tiba-tiba Tia bertanya pada Reno.


"Maaf, anda ini siapa?" tanya Tia mengernyitkan alis seraya menatap tajam pada Reno.


"Aduh, mati aku!" Tara mulai panik dan gelisah.


"Perkenalkan, nama saya Reno. Papi mertuanya Tara." Reno mengulurkan tangannya pada Tia.


"Papi mertua, setahuhuku Bu Intan tak memiliki ayah tapi hanya ibu yang masih hidup.


"Aku, ayah dari istri sah Tara yang bernama Laras. Intan itu cuma istri siri, Tara. Bahkan telah menggugat cerai Tara," Reno berkata lantang seraya menatap tajam pada Tara.


Tia tak bisa berkata apapum, dia shock mendengarnya. Karena yang dia tahu Intanlah yang istri sah.


"Tara, jika kamu sudah tak mencintai Laras. Sebaiknya kamu ceraikan dia, jangan terus kamu toreh luka di hati anakku! apa kamu belum cukup melukai Laras dengan pernikahan sirimu bersama Intan yang ternyata adalah ibu kandung dari Laras?" Reno berkata lantang.


"Mas Tara, coba kamu jelaskan apa maksud perkataan dari bapak ini?" Tia mulai curiga.


"Aduh, bagaimana ini? tadi anaknya yang datang, sekarang papinya. Nanti siapa lagi coba?" batin Tara panik dan gelisah.


Reno meraih ponselnya, dan menunjukan foto pernikahan Tara dan Laras pada Tia.


"Lihatlah, ini foto pernikahan Tara dan anakku dan saat ini dia telah memiliki seorang putra berusia enam tahun," Reno terus saja memberikan bukti-bukti kebusukan Tara pada Tia.


"Mas, kenapa dari tadi kamu diam saja? jika semua yang bapak ini katakan tidak benar, kamu pasti akan mengelaknya. Tapi diamnya dirimu ini membuktikan bahwa semua yang bapak ini katakan adalah benar," Tia terus saja memojokkan Tara.

__ADS_1


*********


__ADS_2