
"Mas, kamu masih bisa bertanya kenapa aku berubah? kamu sendiri yang telah merubahku menjadi seperti ini. Apa kamu telah lupa, di depsn ibu mertua dan istri sirimu, kamu sempat tak mengakuiku kan?" Laras semakin kesal dengan Tara.
"Sayang, janganlah seperti ini. Aku minta maaf atas kekhilafanku waktu itu. Kita bisa bicarakan secara baik-baik bukan?" kembali lagi Tara merayu.
"Begitu pentingnya sertifikat perusahaan bagimu, sehingga kamu rela mengemis maaf dariku. Aku tahu, kamu bisa menjadi gembel jika perusahaan aku jual. Sehingga kamu ketakutan, iya kan?" Laras terus saja memojokkan Tara.
"Sayang, apa sih yang kamu bicarakan? aku kemari karena merindukanmu dan Risky. Aku kaget rumah kita kamu jual, padahal itu kelak juga buat Risky. Perlu kamu tahu, aku tak datang di persidangan cerai juga karena aku tak ingin berpisah denganmu," panjang lebar Tara mencoba membujuk Laras.
"Sudahlah, mas. Kamu tak perlu merayuku kembali, karena sekarang aku telah tahu siapa sebenarnya dirimu. Dan aku tidak mempermasalahkan jika di persidangan pertama kamu tidak datang. Atau di persidangan selanjutnya kamu juga tak datang, itu malah akan mempermudahkan aku berpisah denganmu," Laras tak menghiraukan Tara lagi, dia berlalu pergi dari hadapan Tara.
Namun secepat kilat, Tara mencekal lengan Laras.
"Sayang, aku mohon dengan sangat padamu. Tolong cabut gugatan ceraimu, supaya kita bisa bersama karena aku tak ingin berpisah darimu dan Risky," Tara kembali lagi memohon.
__ADS_1
"Maaf, sekali aku memutuskan! tidak akan aku merubahnya! selama ini kamu telah membodohiku dengan sandiwaramu, akan tetapi sekarang aku tidak akan luluh kembali olehmu!" Laras menepis cekalan tangan Tara.
"Sombong kamu ya, Laras! lihat saja, dalam waktu dekat kamu pasti akan kembali ke pelukanku dengan segera! memang bisa apa kamu tanpaku! kamu tidak bisa apa-apa untuk menghidupi Risky!" teriak Tara dengan angkuhnya.
Setelah itu, Tara masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan rumah Reno.
"Aku harus mencari cara supaya sertifikat perusahaan bisa kembali ke tanganku. Aku sudah melakukan dengan cara halus tapi tidak bisa, berarti aku harus melakukan dengan cara yang kasar," gerutu Tara seraya terus melajukan mobilnya.
"Sepertinya Laras dan orang tuanya akan pergi berlibur. Ini waktu yang tepat untuk aku bisa mengambil sertifikat perusahaan yang di ambil oleh Laras," Tara menyeringai sinis.
Dia sengaja menghentikan langkah mobilnya. Dan menghubungi beberapa anak buahnya untuk membantu melancarkan aksinya tersebut.
Tara sengaja mengintai rumah Reno dari jarak lumayan jauh. Setelah mengintai selama tiga puluh menit, Tara tersenyum sinis.
__ADS_1
"Ini saatnya aku beraksi, lagi pula di daerah sini sepi. Karena semua tetangga Reno kebanyakan pekerja, hingga rumah kosong. Jadi aksiku tidak akan ada yang mencurigainya." Tara lekas menelpon beberapa anak buahnya untuk segera bergerak masuk ke rumah Reno.
Dua orang berjaga di depan pintu gerbang, sementara Tara dan satu orang lagi masuk ke rumah Reno mencari amplop coklat yang berisikan sertifat perusahaan expedisi.
Tara bergerak cepat masuk ke kamar Laras, sedangkan salah satu anak buahnya mencari di ruangan yang lain.
"Akhirnya ketemu juga," Tara berhasil menemukannya di kamar Laras yakni fi bawah kasur.
Tara tersenyum sinis dan segera keluar dari kamar Laras bersama dengan anak buahnya.
Segera Tara dan tiga buah anak buahnya pergi dari rumah Reno tanpa meninggalkan jejaknya. Mereka bermain cantik dan sangat rapi.
******
__ADS_1